Sekilas dari judul, cerita yang akan saya ungguh ini seperti cerita tentang video. Check this out men! Kata-kata yang biasanya dipakai di website anak-anak muda tentang artis dan video film terbaru.  Padahal sebenarnya, yang saya mau tulis ini adalah tentang dokter dan saya, pelanggannya.

Terus terang, dari saya kecil, saya sangat akrab dengan dunia perumahsakitan, kedokteran apalagi persalinan (berhubungan karena pekerjaan ibu saya sebagai bidan di sebuah RS umum). Saya akui para tenaga medis yang berkecimpung di dunia tersebut adalah hebat dan pengetahuan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi.  Setiap kali saya baca atau dengar saran para tenaga medis, saya 100% akan percaya dan melakukan apa yang mereka sarankan.

Tetapi sekarang? Setelah teknologi semakin maju, akses kita sebagai orang “biasa” saja semakin bertambah. Kita bisa men”search” apa saja yang kita mau, apa yang kita perlu dan apa yang kita pertanyakan. Dari situlah saya tahu bahwa apa yang dibilang tenaga medis itu terkadang bisa salah. Siapapun kalau dia masih bisa disebut sebagai manusia, terkadang bisa salah termasuk mereka. Otomatis, setelah kita diberi saran A, B,C atau peringatan D,E,F, please…check them out first. Cek apakah apa yang mereka sarankan itu sesuai dengan penelitian terbaru, apakah yang mereka katakan itu mash sesui dengan keadaan sekarang. Siapa tahu, itu adalah ajaran mereka waktu di sekolah kesehatan/kedokteran yang notabene sudah 10/15 tahun yang lalu. Sedangkan ilmu pengetahuan dan research itu berkembang setiap detik.  Kita sebagai manusia tetap tidak boleh berdiam diri membiarkan orang lain mengatur diri kita dengan ilmunya. Kita juga harus tahu dan yakin dengan apa yang disarankan itu. Bukan menolak mentah-mentah dan menerima mentah-mentah.

Kasus nyata yang terjadi pada saya. Saya punya anak yang sekarang berumur 10 bulan. Saya ingat sekali, sewaktu anak saya check up  di usia 2 bulan, dokter anak saya menyarankan untuk memberikannya vitamin D yang dilengkapi vitamin2 yang lain seperti A, B dan juga dengan beberapa mineral tambahan seperti  potassium, iron, zinc dsb. Saat itu, saya ingat sekali, si dokter anak ini memberikan pilihan lain yaitu vitamin D yang hanya disertai vitamin A dan C. Setelah dari dokter, saya langsung ke apotek terdekat dan mencari nama vitamin yang disarankan si dokter. Awalnya saya ingin memberikan vitamin yang paling lengkap mengingat ini demi kebaikan si buah hati. Rasanya semakin memberikan dia yang kompleks, semakin dia nanti bisa tumbuh lebih baik.  Untungnya, sesampainya di apotek, saya ngeri lihat ingredients vitamin (catatan; bacalah ingredients/kandungan obat/makanan/vitamin sebelum membelinya, siapa tahu anda menemukan hal yg diharamkan seperti gelatin atau alkohol dsb). Saya pikir, “MasyaAllah, ini vitamin atau bahan kimia?”. Saya akhirnya memilih vitamin yang lebih sederhana bahan kimianya (dimanapun, namanya vitamin selalu pakai bahan kimia). Entah mengapa, saya merasa bersyukur saya sering lupa memberikan anak saya vitamin tambahan itu. Saya benar-benar lupa (bukan karena sengaja) memberikannya rutin ke buah hati sampai saya sendiri merasa bersalah.

Pada akhirnya, saya baca di internet dengan beberapa sumber yang bisa dipercaya. Mereka mengatakan bahwa ASI (anak saya tidak doyan formula) memberikan iron yang dibutuhkan oleh si bayi sepenuhnya. Iron yang terkandung pada asi jauh lebih banyak dibanding pada susu formula.  Dan hal yang membuat saya ngeri, bila bayi kelebihan iron, dia akan bisa mengalami keracunan yang berakibat fatal. Oke, anggap saja saya tidak makan dengan baik sehingga asi saya tidak terlalu bergizi. Tetapi tetap saja, apabila di usia 6 bulan anak saya sudah makan solid food yang biasanya di kemasan ditambahkan kata-kata “iron sources“, bisa-bisa anak saya akan kelebihan iron dan berakibat fatal. Hal yang membuat saya lebih bergidik lagi, selama ini dokter di negara angkuh ini (karena sudah tidak digdaya tetapi masih menyebut dirinya Negara Adigdaya, lol) “ketakutan” dengan bayi yang punya hemoglobin rendah. Padahal, standart yang dipakai mereka sebenarnya sudah berubah berdasarkan penelitian terbaru. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa 85% bayi terkena anemia karena memang standart kandungan darah yang dipakai oleh para dokter itu adalah standart orang dewasa, padahal seharusnya itu sangat-sangat berbeda dengan standart bayi. Yang ada bisa-bisa akibat fatal, bayi keracunan justru yang bisa terjadi. Naudzubillah min dzalik.

Berhati-hatilah mulai sekarang! Take your time for your research!

Si Kecil yang Sakti

June 3, 2010

Sudah lama saya tidak menulis tentang makhluk-makhluk yang dulu suka menghiasi hidup-hidup saya semasa kuliah:). Gara-gara baca di kaskus tentang kumbang yang menakjubkan (dan baru saya tahu- telat banget ya?hehe), saya jadi tertarik membahasnya disini.

Yaitu kumbang badak yang berasal dari Jepang, Taiwan, Korea dan China. Rhino Beetle (bahasa kerennya) ini termasuk serangga yang berukuran besar. Si jantan berukuran panjang 30-54 mm (tidak termasuk tanduk) sedangkan si betina berukuran 30-52 mm. Kumbang betina dan jantan dibedakan berdasarkan ada tidaknya tanduk.

Ketika melakukan hobi berkelahi, kumbang ini menggunakan prinsip pengungkit hingga lawannya terlontar akibat cakar pengait lawan terlepas dari kulit kayu. Lawan yang kalah tidak berusaha dikejar. Dalam perkelahian kumbang badak tidak saling membunuh atau melukai.

Selain terkenal mempunyai hobi berkelahi (sampai-sampai di Jepang digunakan sebagai binatang yang diadu dan ditaruhkan seperi ayam jago di Indonesia lol), si Onthophagus taurus ini juga dinobatkan sebagai binatang terkuat di dunia. Selama ini bayangan kita, gajah adalah binatang terkuat di dunia karena berukuran besar dan bisa membawa ratusan pounds di atas tubuhnya, sedangkan serangga? Apabila diukur dari segi banyaknya pound atau kilogram  yang bisa diangkat, mungkin Rhino Beetle bukan termasuk yang terkuat. Tetapi bila diukur dari segi perbandingan antara berat tubuh sendiri dan beban yang diangkat, Rhino Beetle bisa mengalahkan pemain sumo sekalipun. Serangga ini mampu mengangkat 1141 kali dari berat tubuhnya sendiri yang mana hal itu ekuivalen dengan 1 orang yang mengangkat 180 ribu pounds atau setara dengan 81 juta kg (setara juga dengan 6 bis yang full double-decker). Sedangkan gajah, dia hanya bisa mengangkat 0,25 kali saja dari berat tubuhnya.

Kecil-kecil cabe rawit!

Sumber dari sini. Foto dari sini, sana dan situ.

Beberapa hari terakhir ini banyak diberitakan tentang “perselingkuhan” musim yang tidak jelas arahnya. Di daerah tengah Amerika Serikat tiba-tiba turun salju di musim yang harusnya bunga-bunga indah bermekaran. Di suatu daerah di Eropa sana juga tiba-tiba suhunya mencapai minus meskipun tidak sampai turun salju di penghujung musim semi. Bahkan 2 hari lalu di tempat saya tinggal juga terjadi hujan es yang sebenarnya sangat tidak lazim terjadi di bulan Mei seperti ini. Anehnya lagi, temperatur hari di saat terjadinya hujan es itu sangat panas!

Ada apa dengan bumi ini Tuhan???

Yang pasti, hampir semua orang termasuk saya mendadak panik seakan seperti merasakan kiamat dengan tiba-tiba. Badan terasa dipukuli oleh bongkahan-bongkahan es yang cocoknya buat bikin es cendol. Yang sedang di dalam mobil, rumah maupun gedung pun juga merasa seperti ada serangan di siang bolong yang panas, tanpa tanda-tanda. Ramalan cuaca pun yang biasanya tidak pernah melesat saat itu langsung terbukti “ternyata ramalan bisa juga salah”. Hari itu hanya dibilang akan terjadi thunder storm (hujan yang berhalilintar) bukan ice storm.

Serangan siang bolong selama beberapa menit itu cukup membuat saya berpikir bahwa “tidak ada yang paling berkuasa selain diriNya”.

Salju=Romantis?

January 30, 2010

Bagi teman-teman di Indonesia yang belum pernah ke negara 4 musim mungkin akan berpikir bahwa salju itu sesuatu yang indah, lembut dan romantis (soalnya kebanyakan di film korea, adegan salju adalah adegan yang romantis, lol). Dulu saya juga berpikir seperti itu sebelum melihat salju secara langsung.

Setelah datang di negara Pakdhe Sam ini, satu hal yang saya tunggu adalah datangnya salju.  Menunggu berbulan-bulan, akhirnya musim dingin tiba dan salju itu turun. Pertama melihat salju perasaan saya berdetak kagum. Huwow! Subhanallah! Keren! Apalagi ditambah pemandangan mengkristalnya uap-uap air di pohon2, mirip kaya pohon bikinan orang yang dikasih lilin. Cantik banget. Setelah itu, langsung deh saya mainan lempar-lemparan salju, bikin boneka salju sampai seluncuran.  Benar-benar menyenangkan.

Tahun kedua, datangnya salju bukan lagi seistimewa tahun pertama, “Ah udah pernah liat, paling gitu-gitu aja”. Dasar ya manusia, susah untuk bersyukur:(.  Yang ada justru perasaan sebal, takut, capek dan malas. Sebal karena saya jadi ga bisa pergi kemana-mana. Kalaupun wajib keluar rumah karena harus kerja atau ada keperluan yang penting, saya jadi takut karena jalanan menjadi licin dan mudah bikin terpeleset yang bisa berakibat fatal. Capek, karena saya harus bantuin bersihin mobil, jalanan depan rumah hingga jalanan umum di sekitar mobil biar mobilnya bisa keluar. Malas, karena hawa dingin bikin saya (dan tentu saja orang-orang pada umumnya, lol) untuk bermalas-malasan. Maunya hanya tidur dan makan, that’s it!

Tuh kan, lagi-lagi itu karena manusia susah untuk beryukur. Mendingan yang ada di sekitar kita  sekarang dinikmati, diresapi dan disyukuri. Dulu di Indonesia, saya mengeluh karena kepanasan, tapi sekarang disini kalau musim dingin mengeluh kedinginan, kalau musim panas mengeluh kepanasan (panasnya beberapa kali lipat dibandingin di Indonesia). Benar-benar rese. Intinya, rata-rata kondisi cuaca di Indonesia adalah yang terbaik dibandingin dengan berbagai negara di seluruh dunia.  I Love Indonesia!

Foto kedua diambil dari sini.

Menulis

October 6, 2009

Setelah lama tidak menjenguk blog tercinta ini, rasanya saya seperti kehilangan sebuah rumah kreativitas. Tidak ada semangat untuk menumpahkan apa yang ada di pikiran membuat diri kita menjadi ciut dan kurang bisa menginstropeksi diri.

Seperti yang kita telah tahu sebelumnya, suatu kreativitas tidak hanya dalam benrtuk tulisan. Bisa dalam bentuk gambar, foto maupun karya fisik yang terlihat secara nyata.

Dan, setiap masing-masing individu pasti mempunyai salah satu dari sekian pilihan kreativitas itu. Percaya atau tidak? Buktikan saja!

Ada yang sama sekali tidak bisa menggambar bahkan melihat gambarpun dia tidak suka, coba saja mulai dengan mengutak-atik barang-barang recycle di rumah, siapa tahu kita bisa membuat barang bermanfaat dari sampah-sampah itu. Atau, kita suka melihat gambar dan lukisan tetapi saat disodorkan sebuah pensil gambar atau kuas melukis, hati kita langsung ciut, otak kita buntu tidak tahu mau menggambar apa. So, coba saja dunia fotografi. Jepret sana jepret sini, tidak perlu menggambar, tetapi hasilnya berupa gambar yang mengagumkan. Ada juga yang hobi memasak, mengapa tidak mencoba mengutak-atik resep sehingga menjadi resep baru yang menggoda iman. Lalu, bagaimana bila diantara kita yang sama sekali tidak suka gambar, memasak maupun mengutak-atik barang bekas di rumah?

Cobalah menulis!

Menulis adalah suatu kegiatan yang sebenarnya setiap orang bisa melakukannya. Meskipun ada beberapa orang yang mengatakan bahwa menulis juga membutuhkan bakat, tetapi tetap saja, semua orang bisa menulis. Secara pribadi, saya membuat statement di atas dengan dalih bahwa pendidikan di Indonesia dari kita Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi semuanya menuntut kita bisa menulis, baik itu menulis cerita, artikel ilmiah maupun fiksi. Bahkan beberapa anak dari preschool sudah diajari bagaimana bercerita melalui gambar dan cerita singkat

So, minat yang dari dulu sudah kita pupuk pasti masih membekas di ingatan kita, tinggal kita memulai dan mencobanya kembali. Tunggu apa lagi?

Pictures taken from here, this, this and this.

Budaya Bermaafan

September 23, 2009

Pernah dengar tidak ada yang mengatakan bahwa budaya bermaafan saat lebaran hanya ada di Indonesia?

Dan kabar itu memang sangat benar. Berbagai muslim di umat dunia selain Indonesia tidak mengenal budaya saling bermaafan seperti di Indonesia. Saya pikir sebenarnya tidak ada yang salah dengan budaya bermaafan di saat Idul Fitri tetapi ada yang perlu diluruskan yaitu opini masyarakat tentang budaya ini.

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang beruntung yang tahu bahwa bermaafan di saat Idul Fitri itu adalah suatu budaya bangsa yang turun menurun dan POSITIF bukan suatu kewajiban maupun keharusan agama. Agama mengajarkan untuk selalu meminta maaf bila sadar telah melakukan kesalahan dan memaafkan bila ada yang memohon maaf dan tidak harus menunggu Idul Fitri. Kita tidak harus menunggu satu tahun untuk meminta maaf kepada orang lain, bukan?

Secara pribadi, pola pikir seperti ini akhirnya bisa membantu saya secara perlahan keluar dari perasaan gengsi, malu maupun takut saat sadar melakukan kesalahan tanpa harus menunggu lebaran. Lebaran memang moment yang pasti ditunggu oleh seluruh umat muslim di dunia tetapi siapa tahu hidup kita habis kontrak sebelum lebaran tahun depan atau malah sebelum ramadhan (naudzubillah min dzalik).

Jadi, daripada menumpuk dosa dan salah sampai Idul Fitri tahun depan mendingan kita mulai belajar untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Itu!

Tidak Perlu Takut!

August 24, 2009

Kabar terakhir dari Indonesia cukup membuat saya kaget dan semakin membenci suatu oknum negara tertentu yang suka mengakui hak milik negara kita. Dari lagu Rasa Sayang-Sayange, Rendang, Reog, Keris, Wayang dan terakhir adalah Tari Pendet dari Bali. Khusus tentang Rendang, di daerah saya ada sebuah restoran Malaysia yang juga menyediakan menu rendang dan mengatakan bahwa makanan itu adalah makanan khas Malaysia. Terus terang saya dongkol tetapi saya pikir yang terbaik yang bisa dilakukan yaitu mempromosikan apa yang kita punya sekarang semaksimal mungkin sehingga dunia luar tahu apa yang sedang terjadi antara Malaysia dan negara kita tercinta ini.

Sampai detik ini saya percaya pemerintah kita bisa bijaksana dan mampu menjaga apa yang kita miliki sekarang. Dan Malaysia seharusnya mulai takut untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak elok untuk mereka lakukan.

Check this videos

Video ini menunjukkan betapa pemerintah kita peduli terhadap rakyatnya

Video ini juga menunjukkan bahwa orang Malaysia sebenarnya takut dengan kita. Jawaban yang membingungkan dari pihak Malaysia cukup menunjukkan bahwa mereka benar-benar salah dalam kasus ini.

Go Indonesia!

Jangan biarkan permasalahan dengan negara ini membuat kita lupa bahwa masih banyak negara di luar sana yang lebih perlu kita perhatikan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.