Gadis di Toko Buku itu

February 14, 2009

Salah satu barang kesukaan saya adalah buku dan karena itu saya gemar sekali ke toko buku dan perpustakaan. Entah di dalam perpustakaan saya membaca atau sekedar mainan internet, saya merasa sangat nyaman. Begitupun juga di toko buku, beli atau enggak itu urusan belakangan. Duduk di toko buku atau perpustakaan dengan segelas kopi dan ketenangan adalah hal yang saya paling sukai.

Begitupun dengan semalam tadi. Saya menghabiskan sisa hari jumat di perpustakaan kota lalu lanjut ke salah satu toko buku terkenal disini (Barnes&Noble). Beberapa jam saya ada di toko buku itu. Mencari-cari buku lalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk membacanya. Untung saja ada kursi kosong yang sengaja untuk customer yang posisinya menghadap ke jalan kota. Saya bernafas lega.

Beberapa jam saya duduk tenang sambil membaca suatu buku. Dari awal saya tidak berniat membeli buku itu karena mahal dan saya tidak mampu membelinya. Oleh sebab itu, saya terdorong untuk memanfaatkan waktu membaca secepatnya (lol). Beberapa kursi di sebelah kanan kiri saya juga penuh dengan orang yang duduk tenang membaca buku atau majalah. Mereka mungkin berpikir seperti saya.

Di tengah-tengah waktu membaca, saya mengamati seorang cewek (seumuran saya) yang juga sedang asyik membaca. Di tangannya ada berbagai majalah gaul wanita dan buku yang saya tidak tahu itu buku jenis apa. Beberapa jam kemudian dia menerima sebuah telepon. Yang saya dengar sekilas (bukan nguping lho ya) dia sedang ditunggu seseorang di suatu tempat. Dan akhirnya beberapa menit kemudian dia pergi.

Hal yang bikin saya terkejut adalah dia meninggalkan setumpuk majalah dan buku yang sebelumnya dia baca tergeletak di situ!

image092

Padahal, setahu saya majalah dan berbagai jenis buku (yang akhirnya terbaca oleh saya) tersebut letaknya di lantai bawah (sedangkan saya waktu itu ada di lantai atas). Gadis itu mungkin sengaja membawa setumpuk majalah dan buku untuk dibaca di lantai atas tanpa berniat membelinya dan mengembalikannya!

Gambaran sikap sederhana yang sebenarnya bisa dikategorikan dengan perbuatan mendzalimi orang lain. Kenapa? Bayangkan saja, itu toko buku yang dibangun untuk menjual buku. Orang-orang diharapkan membeli buku disana bukan membacanya. Kalau toko buku diniatkan supaya orang-orang bisa membaca buku lantas apa bedanya dengan library?

image0933

image0941

Salah satu hal yang menyenangkan disini adalah buku-buku yang dijual di    toko buku 90% tidak disegel. Hal ini berbeda sekali dengan toko buku di Indonesia semacam Gramedia yang biasanya menyegel bukunya. Hal positifnya adalah sebelum membeli kita bisa memilih sebaik mungkin buku yang cocok untuk kita. Sedangkan kalau di Indonesia, kita sering tertipu dengan buku yang terlihat keren dari judul dan covernya. Buku yang terlihat keren di covernya belum tentu keren isinya kan?Kalaupun hanya diberikan satu contoh buku yang tidak disegel, hal itu sudah bagus, tapi kenyataannya buku yang tidak disegel itu pasti akan menjadi korban buku yang takkan terjual (bayangkan setiap orang calon pembeli memegang buku yang sama. Buku itu lama-lama bisa jadi usang). Dan anggap aja satu judul buku mengorbankan satu buku usang, gimana toko buku mau untung? Dilema!.

Negatifnya, apabila masyarakat tidak bisa menempatkan diri dengan kelebihan itu, lama-lama toko buku juga bangkrut. Masyarakat bisa membaca sesukanya entah nanti jadi membeli atau tidak. Masyarakat juga diberi fasilitas tempat duduk yang nyaman untuk membaca buku yang ingin dibelinya. Bila nanti akhirnya tidak membeli, saya pikir itu hak setiap customer. Tapi alangkah baiknya kita juga tahu diri batasan mana yang bisa kita lakukan. Kita membaca buku kemudian membawanya ke kasir dan membayarnya itu hal yang bagus. Tapi bila seandainya kita membaca buku dan meninggalkannya begitu saja itu sudah melampui batas. Seharusnya kita sudah berterima kasih diberikan kesempatan untuk membaca buku walaupun kita tidak diwajibkan membelinya. Apa susahnya kita mengembalikan buku yang tidak jadi kita beli ke tempat asalnya? Paling tidak ke tempat rak buku (kalau kita lupa tempat asalnya) sehingga customer lain bisa melihatnya. Selain itu, kita juga bisa meringankan pekerjaan pegawai di sana, perbuatan mulia juga kan?

Akhir-akhir ini aku sadar bahwa berbicara sebaiknya yang seperlunya saja karena beberapa kali aku kena komentar ‘blak-blakan’ ala Amerika yang membuatku selalu instropeksi diri. Di Indonesia dulu, orang-orang sekitarku mungkin akan lebih diam saat aku ngomong hal yang tidak sesuai dengan mereka, walaupun hati mereka sebenarnya geregetan dengan kata-kataku. Prinsip tidak ingin diperlakukan seenaknya sangat aku rasakan di Amerika meskipun baru beberapa bulan aku disini.

Akibatnya, aku jadi malas ngomong karena harus hati-hati banget. Kalau ngobrol sama orang bule, aku akan lebih banyak tersenyum, :) , dengan alasan: 1. terkadang masih susah mengerti bahasa mereka “nih bule ngomong apa sih?”, udah pake Bhs Inggris, pake logat pula, logat Indialah, logat Eropalah, logat Chinalah, logat Jepanglah, logat Vietnamlah plus logat Black People, semuanya beda-beda cara ngomong dan spell englishnya. Kedua, ya..karena memang agak malas ngobrol panjang lebar, tar jangan-jangan si bule ini ga ngerti apa yang aku omongin? :-( . Ketiga, terkadang si bule tanpa diduga akan berkomentar yang di luar dugaan kita, waktu kita nganggap ini candaan, ternyata mereka mikir kita serius, saat kita serius, tanpa diduga mereka tertawa terbahak-bahak, yaah…mesti pintar lihat suasana. Kalau wajah mereka berubah “aneh”, buruan bilang, “im sorry, im just kidding” lalu tersenyum:). Memang, hidup di luar, bukan hanya bahasa saja yang harus kita pelajari tapi karakteristik masyarakat juga.

Nah, beda kalau ngobrol sama orang indonesia yang ada disini. Mungkin, aku justru bersikap biasa saja, yah tersenyum itu pasti tapi ala kadarnya, khawatir dipikirnya kita terlalu “berlebihan”. Bedanya bila kita ngomong sama orang indo yang disini dibandingkan orang indo yang di Indonesia , kita harus lebih terbuka sama kritik dan saran orang lain yang terkadang kita rasakan bukan hanya pada waktu dan tempat yang tepat. Sebenarnya orang indo yang di Indonesia pun ada juga yang mempunyai kebiasaan seperti itu tapi mungkin hanya sebagian kecil. Sedangkan hampir semua orang indo yang disini (berdasarkan survey kecil-kecilan) lebih bersikap apa adanya, ngomong apa adanya, saat dan waktu kapanpun. Secara geografis, aku yang termasuk Orang Jawa agak kaget dengan sikap seperti itu. Mungkin, hal itu karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan Amerika yang bebas dan berani.

Sikap apa adanya seperti itu sebenarnya lebih banyak sisi positifnya. Seseorang lebih bisa menghargai orang lain dengan berbicara yang baik-baik saja kepada orang lain, selain itu seseorang akan merasa mempunyai kebebasan untuk jujur kepada orang lain dan dia juga bisa membela diri sendiri bila ada orang lain yang menyinggung perasaannya. Kapanpun, kita tetap harus selalu siap dengan reaksi apapun orang lain saat kita ngomong dengan mereka meskipun kita selalu menjaga ucapan kita.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.