Saya berfikiran menulis tentang hal ini setelah membaca blog tetangga disini. Entah mengapa dari tulisan tersebut saya merasakan betapa sulitnya melawan berbagai budaya asing yang sangat berbeda dengan sunnah agama dan budaya daerah asal kita. Salah satu halnya adalah budaya berpakaian. Budaya asing mengajarkan pada kita bahwa fashion adalah segala-galanya. Fashion yang tidak ketinggalan jaman tentu saja yang selalu up to date, modis dan nyaman dipakai (contoh: kalau summer/musim panas, orang-orang akan memakai baju pendek plus tipis). Sedangkan sunnah agama dan budaya kita mengajarkan bahwa fashion adalah sesuatu yang harus kita perhatikan kenyamanannya, kebersihannya dan kesopanannya tanpa mengurangi jumlah aurat yang semestinya tertutup. Nyaman dipakai kalau tidak menutupi aurat yang semestinya tertutup berarti sama saja tidak sesuai dengan agama dan budaya. Begitu teorinya.

Sedangkan kenyataannya tidak seperti itu. Mengikuti fashion adalah hal pokok daripada memikirkan tentang budaya dan sunnah agama. Bahkan sekarang di Indonesia banyak perempuan-perempuan yang berjilbab sekedar mengikuti trend. Sehingga seringkali kita mendengar, “Berjilbab ga berjilbab sama saja. Itu cuman masalah fashion”. Nah loo???

6a00d8341c2f5553ef00e54f15bf188833-800wi

Banyak perempuan yang takut memakai jilbab salah satunya karena melihat fenomena itu. Jilbab bukan sesuatu yang pokok untuk agama karena buktinya banyak yang memakai jilbab tapi secara kualitas agama sama saja dengan yang tidak pakai jilbab. Dan bahkan mereka takut apabila memakai jilbab tetapi tidak berubah menjadi baik nantinya justru akan menjelekkan agama.

Dari pengalaman pribadi di negara yang budayanya jauh dengan sunnah agama Islam, berjilbab adalah hal yang sangat membantu saya dalam segala hal salah satunya adalah masalah sholat. Kendala susahnya masjid di Amerika ini memaksa kita untuk sholat dimana saja dan dalam kondisi apa saja. Di mobil, duduk di kursi, di rumah teman, di sekolah, di tempat kerja, di bus maupun di kereta. Alhamdulillah, Allah memudahkan kita dengan tayamum. Andai kata kita perempuan yang tidak berjilbab betapa sulitnya kita saat harus sholat. Yang terjadi justru kita akan menundanya sampai kita menemukan masjid atau cari tempat yang benar-benar bisa ganti baju dan memakai hijab. Dan bila malas karena terlalu ribet, tak sadar kita benar-benar meninggalkan sholat. Sedangkan kalau kita berjilbab, kita tinggal ambil tayamum, membenarkan kaos kaki, hijab lalu sholat.

Yang kedua adalah lebih mudah menghindari dunia hedonism. Setiap minggu, dunia fashion di negara ini selalu berganti. Minggu ini celana sepaha dengan kancing di samping, minggu depannya rok mini dengan kancing jarang-jarang di bagian depan, minggu depannya ada lagi. Setiap weekend juga banyak tempat-tempat clubbing berkeliaran di seantero kota. Berapapapun banyaknya uang yang kita punya mungkin akan habis kalau tiap minggu kita berpesta pora disana. Dunia jauh lebih kejam daripada seekor rayap yang sedang menggerogoti rumah kayu kita. Sedangkan bila kita berjilbab, betapa kita lebih mudah menahan hawa nafsu kita untuk ikut-ikutan masuk ke dunia seperti itu. Kita akan lebih berhati-hati memilih fashion yang cocok dengan kita. Modelnya, potongannya, gayanya pasti akan kita sesuaikan dengan jilbab kita. Secara tidak langsung kita akan menghemat karena saya yakin tidak tiap minggu ada fashion yang cocok dengan pakaian berjilbab kita. Kita juga akan berpikir 50x lipat untuk memutuskan bergabung di tempat-tempat clubbing ketika weekend. Kita akan berpikir, “Apa kata dunia dengan jilbab ini andai saya masuk ke dunia seperti itu?”.

Jadi, meskipun sedang di negara tidak berbudaya sekalipun, berjilbab itu sangat lah berarti buat kita. Walaupun jilbab tidak menunjukkan secara mutlak tingkat keimanan kita, tapi setidaknya dimanapun kita bisa ingat bahwa kita wajib menjaga aurat, sholat dan sunnah agama. Manusia tidak ada yang sempurna. Tapi kita harus selalu berusaha untuk menjadi/mendekati sempurna.

Semoga ini bisa membantu teman-teman yang ragu berjilbab karena sedang di negara asing.

Gambar diambil dari sini.

That’s Mine…

June 5, 2008

Cerita ini berawal di Hari Jumat, saat saya dan suami pergi ke Islamic Centre Maryland untuk Sholat Jumat.

Sudah mulai Summer, udara mulai panas dengan matahari yang bersinar terik.  Hawa yang panas bikin kita lebih labil untuk emosi. Di badan rasanya lengket karena panas yang saya rasa sangat berbeda dengan panasnya di Indonesia. Di Indonesia udara terasa panas karena matahari plus polusi, disini panas murni hanya karena matahari yang terasa lebih sangat dekat bumi.

Sesampai di masjid, saya menuju ke tempat sholat wanita sekalian mencari tempat wudhlu khusus wanita. Saya pikir, mukena yang saya bawa saya letakkan dulu di masjid daripada saya nanti kerepotan membawanya saat wudhlu.

Masuk ruangan salat for ladies,

“ups, ada meja tuh, mukenanya taruh disana saja”, pikirku. Lalu saya jalan ke arah meja itu.

(Bentuk meja kecil, kira-kira berukuran 1×0,5m, di meja tidak terlihat barang apapun selain 1 buah pisang dan 1 apel yang tergeletak).

Dengan langkah jinjit (biar tidak menganggu orang berdoa) saya mendekati meja itu. Saat saya jinjit kira-kira setengah senti dari meja tiba-tiba terdengar suara bentakan keras mengejutkan (hingga semua wanita yang akan sholat disitu melihat saya),

” Hei, that’s mine! You know, that’s mine, don’t touch it, dont take it!”

Ups, What the hack? …..

Astagfirullah!!

hasna hasna sabar sabar, sabar ya nduk, ini masjid, tahan nafas, tersenyum, jangan marah, biarkan dia mengumpat sesukanya, yang penting kamu tidak berniat mengambilnya.

Dan yang ada, “ups, im sorry mom, im just going to put my hijab” dengan senyum berlagak pilon.

Ya Allah, serendah apa saya ini sampai mau-maunya mencuri apel dan pisang?  Di rumah saja, apel sama pisang sampai kebuang-buang karena tidak ada yang makan (sombong dikitlah dalam hati).

Ampun deh ibu-ibu ini…(semoga diampuni dosanya olehNya).

Setelah sholat, saya dan suami meluncur ke suatu tempat. Sepanjang jalan, saya bercerita panjang lebar dengan kejadian barusan. Kupikir, dia akan berkomentar “marah-marah” ke ibu tersebut. Tapi ternyata dia justru berkomentar kalau orang Amerika mempunyai batasan yang jelas terhadap barang-barang miliknya. Mungkin, ibu itu marah-marah karena dipikirnya aku akan mengambil buah-buah yang dibagikan gratis oleh pihak masjid setiap hari Jumat, dia mengklaim bahwa buah di meja itu milik dia sepenuhnya karena dia yang ambil dari pihak masjid. Ada satu hal lagi, orang sini akan sangat berhati-hati dengan makanan. Mereka jijik jika ada orang lain yang mengutak atik atau bahkan hanya menyentuh makanan mereka. Mereka juga berani “to the point” bila ada yang mengancam makanan atau barang mereka. Tidak seperti di Indonesia yang kemungkinan akan melihat dulu gerak-gerik orang sebelum dia bertindak menuduh. Oleh karena itulah, ibu itu mungkin sangat takut waktu saya mendekat karena dia pikir saya akan mengambil buah itu atau saya akan menyentuh buah itu.

Suami saya bahkan menjelaskan, ada kemungkinan kalau barang itu HP atau tas, orang tidak akan berteriak ketakutan seperti itu karena dia percaya orang lain akan tahu bahwa itu pasti barang pribadi milik orang dan orang tersebut pasti tidak berani menyentuhnya.

Benar-benar paradigma baru untuk saya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.