Birthday Party!
November 21, 2008
Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya berulang tahun. Saya tahu beberapa hari sebelum tepat hari ulang tahunnya. Tidak tanggung-tanggung, teman saya sendiri yang memberitahukan pada kami bahwa dia akan berulang tahun pada tanggal sekian dan sekalian dia mengundang kami untuk hadir di suatu restoran sore harinya.
Dengan berbekal baju yang pantas dan sejumlah dollar di dompet, saya, suami dan beberapa teman saya berangkat untuk memenuhi undangannya. Seperti layaknya orang yang berulang tahun, teman saya terlihat bahagia. Tak lupa kami memberikan ucapan doa dan nyanyian Happy Birthday to You seperti biasa. Waktu berjalan cepat. Berkumpul dengan teman-teman, bercanda gurau plus makan makanan restoran yang lezat membuat kami semua bahagia juga malam itu hingga tak terasa malam semakin larut.
Ketika mendekati waktu jam tutupnya restoran, seorang pelayan datang menghampiri kami dan memberikan bill pembayaran apa yang telah kami pesan. Sekian ratus dollar yang tertera di bill yang saya lihat sekilas cukup membuat saya kasihan sama teman saya yang berulang tahun. “Gila, boros banget nih anak. Party ulang tahun gini aja habis ratusan dollar. Busyeeet”, batin saya.
Tak lama kemudian,
“Hey, iuran-iuran!”, salah satu teman saya mengucapkan kata yang tidak asing bagi saya saat saya masih jadi mahasiswa di Indonesia dulu.
“Iuran?hm?”, tanya saya polos.
“Iya, iuran. Loe tadi makan apa aja sih? Catat aja habis berapa. Kalau lo ga ada uang cash, kita barengan aja dulu pakai kartu kredit gue. Tar kapan-kapan loe bayar ke gue. Ok?”, kata teman yang duduknya di sebelah saya.
Saya benar-benar tidak mengerti apa maksut dari semua ini. Saya turuti dulu aja apa yang dibilang teman yang ada di sebelah saya, setelahnya saya bisa bertanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian teman saya bilang, “Di sini memang kaya gini. Kalau ada yang ulang tahun, mereka mengundang kita di restoran trus kita bayar sendiri-sendiri. Teman-temannya justru berkewajiban bayarin orang yang sedang ulang tahun, bukan yang ulang tahun yang harus bayarin teman-temannya. Mereka beranggapan bahwa yang ulang tahun yang seharusnya bahagia bukan malah sebaliknya. Kalau yang ulang tahun yang bayarin uang makannya, kan pasti dia pusing mikirin uangnya”.
Wah? Bener juga ya?
Bandingkan saja dengan budaya kita, Orang Indonesia! Setiap ulang tahun, kita diminta mentraktir teman-teman, saudara-saudara kita. Kalau yang lagi apes, kita disiram rame-rame pakai air rendaman cucian berumur 3 hari plus telur busuk plus tepung, saos, kecap dan sejenisnya. Tanda kasih sayang orang-orang kita seakan dibudayakan dengan sesuatu yang mengenaskan, hehe.
Mungkin kita tidak akan melakukan hal seperti yang teman saya lakukan yaitu mengundang teman tapi mereka sendiri yang mesti bayar makanannya. Kalau tidak mau mengeluarkan duit, paling tidak minta doa saja. Atau kita bisa juga tetap mengadakan party kecil walaupun sederhana.
Ada budaya yang terkadang jauh dari nalar kita sebagai Orang Indonesia. Tidak semuanya harus masuk ke diri kita tapi tidak pula semuanya harus ditolak. Memilih mana yang terbaik untuk kita itu yang sangat utama.
Hati-hati ya kalau diundang teman ulang tahun. Siapkan uang secukupnya untuk jaga-jaga, siapa tahu teman yang mengundang kita menganut paham ini, hehe.
Tragedi Buble Milk Tea
October 7, 2008
Sekilas cerita, di Amerika restoran-restoran dan toko China sudah menjamur dimana-mana. Dimanapun anda berada di negara itu, tak secuil tempatpun yang tidak mempunyai restoran atau toko China. Bahkan sekarang, banyak bule yang sangat doyan makanan-makanan China. China benar-benar telah masuk dalam kehidupan dan budaya masyarakat di negara itu.
Begitupun dengan saya. Sama-sama Asia, makanan China tak jauh berbeda dengan makanan Indonesia. Bumbu dan rasa sedikit mirip dengan selera Indonesia. Akhirnya, tak ada makanan Indonesia, makanan China pun jadi. Selain itu, makanan China identik dengan harganya yang miring sehingga kami tak perlu berpikir lama lagi untuk membeli disana.
Hingga suatu hari. Tragedi Buble itu terjadi…
Setelah puasa penuh 29 hari (-10 hari karena alasan kewanitaan), saya ngidam banget minum “Buble Milk Tea Mango Flavour”. Hummm, yummy banget. Karena alasan waktu mepet, suami tidak mau mampir ke warung China Buble, dia lebih prefer makan California Roll di warung berbeda. Dan pada akhirnya, saya memaksakan diri tetap beli Buble Milk Tea idaman. Saya rela jalan kaki sambil lari2 kecil dari warung yang jual California Roll ke warung Buble Milk Tea.
Dan ternyata, warung Buble itu sedang penuh customer. Saya maklum karena waktu itu memang Lunch Time, jadi saya sedikit sabar menunggu. Buble Milk Tea adalah sejenis minuman komplikasi antara susu, black tea dan flavour dipadukan dengan Buble (semacam bulatan yang terbuat dari tepung tapioka dan pewarna hitam, mirip dengan Cincau di Indonesia). Selang beberapa menit, si penjual pun tidak melayani saya. Resah menunggu, akhirnya saya memutuskan tidak jadi memesan. Pada saat si penjual tahu saya mulai tak sabar menunggu, akhirnya dia menanyakan apa yang mau saya pesan dan bilang “Oke, I’ll be back”.
???
Saya pikir, setelah bertanya apa yang saya pesan dia langsung melayani saya tapi ternyata dia justru melayani beberapa orang bule yang juga datang di tempat itu.
Oups?
Antri dong!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Saya menggerutu dalam hati. Ini Amerika boo!!! Disini budaya antri jauh lebih tertib daripada di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Bodohnya, waktu itu saya hanya diam, melihat fenomena yang tidak biasa saya lihat di negara maju ini dan tentu saja sambil menggerutu dalam hati. Orang China lebih mengutamakan bule daripada saya yang berperawakan Asia? Itu masalah yang baru saya tahu disini.
Orang-orang bule, apalagi bule Amerika adalah orang-orang yang menomersatukan service di semua tempat terutama restoran. Mereka pikir mereka mengeluarkan duit untuk makan di restoran itu dan selayaknya restoran itu menjamu mereka dengan penuh. Restoran harus melayani mereka, memberikan makanan yang enak, bersih dan terjamin. Mereka akan menuntut bila apa yang didapatkannya tidak setimpal dengan apa yang dia bayar. Dan bahkan mereka berani mengancam untuk tidak ke restoran tersebut bila hal-hal buruk telah terjadi.
Sedangkan orang Asia apalagi seperti saya yang baru datang yang masih lengket sikap nrimonya? Orang Asia cenderung akan menerima apa yang terjadi dan tidak “berani” memberikan tekanan pada orang lain yang sebenarnya orang lain itu merugikan kita. Sebagian besar dari orang-orang seperti saya akan menerima begitu saja pesanan makanan yang salah (= kurang sempurna dari yang diinginkan) dan membayarnya, memberikan toleransi dengan, “Ya sudahlah, kasihan masnya, udah bikinin susah-susah, tar kalau dibuang makanannya, mubadzir juga”.
Dan hal itu telah dipelajari oleh penjual Buble Milk Tea yang saya datangi tempo hari itu. Dia rela mengorbankan perasaan saya demi tidak menerima umpatan dan ancaman dari bule yang ada di warung tersebut. Dia tahu saya tidak akan mengumpat atau mengancam dia, dia tahu saya akan tetap sabar menunggu pesanan saya.
Hingga akhirnya, pesanan yang saya terima tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Buble Milk Tea diganti dengan Buble Tea (tanpa susu). Saya hanya mengeluh, tanpa berniat untuk minta ganti yang baru karena saya pikir kalau saya minta ganti, berapa lama lagi saya harus menunggu di warung itu? Saya pikir, apa salahnya sekali-sekali mencoba Buble Tea tanpa susu? (Lagi-lagi, pikiran orang yang nrimo).
Sruuut…
*&%$^%$*^%*^(*_)(_)(^%$#
Astagfirullah, lagi-lagi rasanya jauh dari bayangan saya. Buble Tea Mango Flavour yang saya minum hanya berasa seperti air putih yang sedikit asam dan pahit. Sedangkan Buble Tea Orange Flavour yang juga saya pesan seperti Juice Orange yang asamnya bukan maen.
Sejak saat itu saya memutuskan tidak lagi pergi ke warung itu dan berusaha belajar berani mengatakan apa yang saya mau dan menuntut apa yang seharusnya menjadi hak saya. Pembeli adalah raja dan saya seharusnya berhak melakukan apa saja sesuai dengan apa yang saya bayar. Masuk ke lingkungan baru tidak sepatutnya membuat kita takut untuk berani bertindak.

