Tidak Perlu Takut!
August 24, 2009
Kabar terakhir dari Indonesia cukup membuat saya kaget dan semakin membenci suatu oknum negara tertentu yang suka mengakui hak milik negara kita. Dari lagu Rasa Sayang-Sayange, Rendang, Reog, Keris, Wayang dan terakhir adalah Tari Pendet dari Bali. Khusus tentang Rendang, di daerah saya ada sebuah restoran Malaysia yang juga menyediakan menu rendang dan mengatakan bahwa makanan itu adalah makanan khas Malaysia. Terus terang saya dongkol tetapi saya pikir yang terbaik yang bisa dilakukan yaitu mempromosikan apa yang kita punya sekarang semaksimal mungkin sehingga dunia luar tahu apa yang sedang terjadi antara Malaysia dan negara kita tercinta ini.
Sampai detik ini saya percaya pemerintah kita bisa bijaksana dan mampu menjaga apa yang kita miliki sekarang. Dan Malaysia seharusnya mulai takut untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak elok untuk mereka lakukan.
Check this videos
Video ini menunjukkan betapa pemerintah kita peduli terhadap rakyatnya
Video ini juga menunjukkan bahwa orang Malaysia sebenarnya takut dengan kita. Jawaban yang membingungkan dari pihak Malaysia cukup menunjukkan bahwa mereka benar-benar salah dalam kasus ini.
Go Indonesia!
Jangan biarkan permasalahan dengan negara ini membuat kita lupa bahwa masih banyak negara di luar sana yang lebih perlu kita perhatikan.
Belajar dari Kite Festival
April 2, 2008
Di setiap tahun, masyarakat sekitar D.C. US menyambut awal Spring dengan tradisi Cherry Blossom. Masyarakat berbondong-bondong ke pusat keramaian di daerah D.C. Monument melihat kerumunan pohon Cherry yang sedang berbunga. Kadang, disana juga ada festival yang beberapa orang dari berbagai belahan dunia unjuk gigi dengan atraksi yang khas negara masing-masing. Tradisi rutin yang sederhana tapi cukup seru dan banyak diminati masyarakat.
Spring tahun ini, saya dan keluarga juga kesana. Ini adalah pertama kalinya saya melihat tradisi Cherry Blossom. Saya berfikir, apa asyiknya liat bunga-bunga bermekaran?bukannya di depan rumah dan di pinggir jalan banyak juga? justru terkadang bunganya lebih cantik. Ternyata, bukan hanya bunga mekar yang ditawarkan pemerintah, tapi juga beberapa tempat history dan hiburan yang cukup indah.
Satu lagi. Saat kami datang, ada Kite Festival yang dapat diikuti oleh masyarakat dari segala umur (batita sampai kakek jompo). Kite Festival ini juga terkesan sederhana. Hanya layang-layang kok bisa jadi festival? Entahlah, aku pikir itu tidak menarik. Di Indonesia juga pernah ada, tapi saya tidak pernah tertarik sama sekali. Ternyata (lagi-lagi), Kite Festival yang terlihat simple dan tidak menarik bisa dikemas dengan bagus dan alhasil festival itu sangat meriah dan ramai. Bayangkan saja, hanya layang-layang yang pada prinsipnya bisa terbang ternyata dapat menjadi alat untuk mengadakan moment yang selalu digemari dan diingat masyarakat. 
Di Indonesia banyak sekali layang-layang. Saya yakin semua element masyarakat Indonesia mengenal apa yang disebut layangan. Bahkan yang saya tahu, banyak juga masyarakat Indonesia yang bisa membuat layang-layang (selain tukang pembuat layang-layang tentunya). Tapi kenapa, di Indonesia, saya belum pernah mendengar ada Kite Festival yang banyak diminati oleh semua element masyarakat. Yang ada, mungkin hanya Festival Layangan 17 Agustusan dan itu mungkin hanya sebatas masyarakat terdekat yang menonton. Kalaupun ada yang bagus dan qualified, masyarakat harus membayar uang tiket masuk yang lumayan buat kantong tipis dan hasilnya, masyarakat jadi enggan nonton lalu berkomentar, “nonton layangan aja ngabisin duit”. Kalaupun nonton festivalnya gratis, tapi kita tetap butuh duit paling tidak Rp.1000,00 untuk ke toilet umum kan?
Dari menengok acara Kite Festival di D.C ini kita bisa belajar dari berbagai aspek yang mungkin masih jarang/ belum ada di Indonesia. yaitu…
