I Wear Hijab (insyaAllah) for Everything, not for Nothing!
November 30, 2008
Saya berfikiran menulis tentang hal ini setelah membaca blog tetangga disini. Entah mengapa dari tulisan tersebut saya merasakan betapa sulitnya melawan berbagai budaya asing yang sangat berbeda dengan sunnah agama dan budaya daerah asal kita. Salah satu halnya adalah budaya berpakaian. Budaya asing mengajarkan pada kita bahwa fashion adalah segala-galanya. Fashion yang tidak ketinggalan jaman tentu saja yang selalu up to date, modis dan nyaman dipakai (contoh: kalau summer/musim panas, orang-orang akan memakai baju pendek plus tipis). Sedangkan sunnah agama dan budaya kita mengajarkan bahwa fashion adalah sesuatu yang harus kita perhatikan kenyamanannya, kebersihannya dan kesopanannya tanpa mengurangi jumlah aurat yang semestinya tertutup. Nyaman dipakai kalau tidak menutupi aurat yang semestinya tertutup berarti sama saja tidak sesuai dengan agama dan budaya. Begitu teorinya.
Sedangkan kenyataannya tidak seperti itu. Mengikuti fashion adalah hal pokok daripada memikirkan tentang budaya dan sunnah agama. Bahkan sekarang di Indonesia banyak perempuan-perempuan yang berjilbab sekedar mengikuti trend. Sehingga seringkali kita mendengar, “Berjilbab ga berjilbab sama saja. Itu cuman masalah fashion”. Nah loo???
Banyak perempuan yang takut memakai jilbab salah satunya karena melihat fenomena itu. Jilbab bukan sesuatu yang pokok untuk agama karena buktinya banyak yang memakai jilbab tapi secara kualitas agama sama saja dengan yang tidak pakai jilbab. Dan bahkan mereka takut apabila memakai jilbab tetapi tidak berubah menjadi baik nantinya justru akan menjelekkan agama.
Dari pengalaman pribadi di negara yang budayanya jauh dengan sunnah agama Islam, berjilbab adalah hal yang sangat membantu saya dalam segala hal salah satunya adalah masalah sholat. Kendala susahnya masjid di Amerika ini memaksa kita untuk sholat dimana saja dan dalam kondisi apa saja. Di mobil, duduk di kursi, di rumah teman, di sekolah, di tempat kerja, di bus maupun di kereta. Alhamdulillah, Allah memudahkan kita dengan tayamum. Andai kata kita perempuan yang tidak berjilbab betapa sulitnya kita saat harus sholat. Yang terjadi justru kita akan menundanya sampai kita menemukan masjid atau cari tempat yang benar-benar bisa ganti baju dan memakai hijab. Dan bila malas karena terlalu ribet, tak sadar kita benar-benar meninggalkan sholat. Sedangkan kalau kita berjilbab, kita tinggal ambil tayamum, membenarkan kaos kaki, hijab lalu sholat.
Yang kedua adalah lebih mudah menghindari dunia hedonism. Setiap minggu, dunia fashion di negara ini selalu berganti. Minggu ini celana sepaha dengan kancing di samping, minggu depannya rok mini dengan kancing jarang-jarang di bagian depan, minggu depannya ada lagi. Setiap weekend juga banyak tempat-tempat clubbing berkeliaran di seantero kota. Berapapapun banyaknya uang yang kita punya mungkin akan habis kalau tiap minggu kita berpesta pora disana. Dunia jauh lebih kejam daripada seekor rayap yang sedang menggerogoti rumah kayu kita. Sedangkan bila kita berjilbab, betapa kita lebih mudah menahan hawa nafsu kita untuk ikut-ikutan masuk ke dunia seperti itu. Kita akan lebih berhati-hati memilih fashion yang cocok dengan kita. Modelnya, potongannya, gayanya pasti akan kita sesuaikan dengan jilbab kita. Secara tidak langsung kita akan menghemat karena saya yakin tidak tiap minggu ada fashion yang cocok dengan pakaian berjilbab kita. Kita juga akan berpikir 50x lipat untuk memutuskan bergabung di tempat-tempat clubbing ketika weekend. Kita akan berpikir, “Apa kata dunia dengan jilbab ini andai saya masuk ke dunia seperti itu?”.
Jadi, meskipun sedang di negara tidak berbudaya sekalipun, berjilbab itu sangat lah berarti buat kita. Walaupun jilbab tidak menunjukkan secara mutlak tingkat keimanan kita, tapi setidaknya dimanapun kita bisa ingat bahwa kita wajib menjaga aurat, sholat dan sunnah agama. Manusia tidak ada yang sempurna. Tapi kita harus selalu berusaha untuk menjadi/mendekati sempurna.
Semoga ini bisa membantu teman-teman yang ragu berjilbab karena sedang di negara asing.
Gambar diambil dari sini.
Budaya yang terlewatkan
May 12, 2008
Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman panitia “Malam Budaya JBRB” pergi ke Embassy Indonesia di Washington DC untuk latihan tari (panitia perempuan) dan latihan kendang (panitia laki-laki). Kebetulan Embassy menyediakan berbagai fasilitas alat musik (tidak hanya kendang) di suatu ruangan seni dan kami tentu saja diijinkan untuk menggunakannya selama latihan.
Bukan Tari dan kendang yang akan saya ulas disini tetapi lebih kepada esensi dari rasa mencintai budaya asal kita. Terus terang, saya baru merasakan benar-benar menjadi WN Indonesia justru saat saya sudah di negeri orang. Saya baru terbuka matanya bahwa Indonesia itu benar-benar kaya akan kebudayaan, seni dan kemajemukan. Disini saya lebih senang melihat orang-orang yang sedang bermain angklung atau karawitan daripada saat di Indonesia dulu. Bahkan waktu di Indonesia dulu saya sedikit malu apabila melihat teman saya bermain karawitan. Lucunya lagi, saya baru tahu nama berbagai macam Tarian Indonesia justru saat saya sudah di US dan saya pun jadi tertarik berlatih tari setelah itu. Benar-benar hal yang kontradiktif.
Seharusnya kita sadar bahwa tarian dan budaya musik daerah adalah kekayaan bangsa kita dan itu mungkin yang akan menjadi satu-satunya kebanggaan kita saat negara kita benar-benar terpuruk. Jika kita sadar akan hal itu sudah selayaknya kita mulai menjaga dan melestarikannya mulai dari sekarang sebelum hal itu dirampas oleh negara lain.
Saya menyesal itu pasti. Mengapa tidak dari dulu saya menekuni dunia tari. Mengapa tidak dari dulu saya belajar karawitan dan mengapa tidak dari dulu saya gemar menyanyi gendang-gendang jawa atau musik khas daerah lainnya.


