Menulis
October 6, 2009
Setelah lama tidak menjenguk blog tercinta ini, rasanya saya seperti kehilangan sebuah rumah kreativitas. Tidak ada semangat untuk menumpahkan apa yang ada di pikiran membuat diri kita menjadi ciut dan kurang bisa menginstropeksi diri.
Seperti yang kita telah tahu sebelumnya, suatu kreativitas tidak hanya dalam benrtuk tulisan. Bisa dalam bentuk gambar, foto maupun karya fisik yang terlihat secara nyata.
Dan, setiap masing-masing individu pasti mempunyai salah satu dari sekian pilihan kreativitas itu. Percaya atau tidak? Buktikan saja!



Ada yang sama sekali tidak bisa menggambar bahkan melihat gambarpun dia tidak suka, coba saja mulai dengan mengutak-atik barang-barang recycle di rumah, siapa tahu kita bisa membuat barang bermanfaat dari sampah-sampah itu. Atau, kita suka melihat gambar dan lukisan tetapi saat disodorkan sebuah pensil gambar atau kuas melukis, hati kita langsung ciut, otak kita buntu tidak tahu mau menggambar apa. So, coba saja dunia fotografi. Jepret sana jepret sini, tidak perlu menggambar, tetapi hasilnya berupa gambar yang mengagumkan. Ada juga yang hobi memasak, mengapa tidak mencoba mengutak-atik resep sehingga menjadi resep baru yang menggoda iman. Lalu, bagaimana bila diantara kita yang sama sekali tidak suka gambar, memasak maupun mengutak-atik barang bekas di rumah?
Cobalah menulis!

Menulis adalah suatu kegiatan yang sebenarnya setiap orang bisa melakukannya. Meskipun ada beberapa orang yang mengatakan bahwa menulis juga membutuhkan bakat, tetapi tetap saja, semua orang bisa menulis. Secara pribadi, saya membuat statement di atas dengan dalih bahwa pendidikan di Indonesia dari kita Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi semuanya menuntut kita bisa menulis, baik itu menulis cerita, artikel ilmiah maupun fiksi. Bahkan beberapa anak dari preschool sudah diajari bagaimana bercerita melalui gambar dan cerita singkat
So, minat yang dari dulu sudah kita pupuk pasti masih membekas di ingatan kita, tinggal kita memulai dan mencobanya kembali. Tunggu apa lagi?
Welcome!
August 24, 2009

Setelah sekian lama tidak menulis, membaca, blog walking dan blog-blog an, akhirnya saya memutuskan mengaktifkan lagi blog ini dengan cerita, berita yang lebih hidup, aktual dan sekalian wadah buat curahan hati (hehe).
Jangan lupa untuk selalu mengunjungi blog sebelah di goodnewsfromindonesia.com yang berita-beritanya oke dan membuat kita lebih bangga terhadap Indonesia.
Semangat! Hwaiting! Cheerrs! Slainte!
Gambar diambil dari sini.
Film yang Salah untuk Mereka
February 19, 2009
Malam minggu kemarin secara mendadak kami manfaatkan untuk nonton film di movie theater terdekat. Movie theater sangat ramai dipadati masyarakat yang sepertinya pulang dari pesta perayaan Valentine’s Day pada hari itu. Terlihat sekilas, banyak gadis-gadis membawa setangkai bunga mawar yang saya pikir itu dari kekasih atau sahabatnya.

Beberapa menit selanjutnya kami sibuk memilih movie yang akan ditonton. Suami saya sangat hobi nonton film horor, sedangkan saya lebih senang nonton drama romantis. Setelah beradu beberapa menit akhirnya kami memutuskan nonton film thriller yang judul Friday The 13th (di Indonesia udah ada belum ya?). “Kalau liat trailernya sih, film ini sepertinya tidak terlalu menyeramkan”, batin saya meyakinkan diri. Menonton film horor di movie theater dengan gambar dan sound yang lebih mantap mambuat saya kapok nonton film horor disana untuk kedua kalinya, hehe.
Tidak seperti biasanya, ketika menyerahkan tiket ke petugas penjaga di depan lorong masuk ruangan movie kami ditanyai ID. Dengan bingung, suami menyerahkan ID yang membuktikan bahwa umur kami sudah di atas 21 tahun. Dan akhirnya kami dipersilahkan masuk.
Kami datang pada malam itu sedikit terlambat . Film sudah diputar beberapa menit yang lalu. Adegan yang menyambut kami pertama adalah sekelompok muda-mudi yang sedang berlibur dan sebagian dari mereka terlihat bermesraan dengan kekasihnya. Tak segan-segan, adeganpun berlanjut ke adegan untuk orang dewasa yang menunjukkan sebagian banyak *maaf* bagian tubuh wanita. Saya baru sadar alasan mengapa penjaga tiket tadi meminta ID. 
Beberapa saat kemudian, rombongan anak-anak kecil masuk ke dalam ruangan itu. Kami yang sedang menikmati film sontak sedikit merasa terganggu dengan riuhnya suara kecil mereka. Pandangan kami berbalik ke mereka dan kami liat ada sekitar 6-7 anak yang kira-kira usianya berkisar antar 5-10 tahun. Kami juga melihat ada sosok orang dewasa (apakah itu orang tua mereka atau bukan) yang duduknya sedikit terpisah dengan mereka.
Selang beberapa detik setelah rombongan anak-anak itu tenang, di layar movie theater terlihat ada sepasang muda-mudi yang sedang melakukan hubungan intim. Kontan saja saya langsung mengamati anak-anak yang baru datang tadi. Saya sedikit miris melihat mereka tetap menonton dengan seksama bahkan selintas melalui siluet cahaya dari layar, saya melihat ada seorang anak yang melongo melihat adegan tersebut. Menyedihkan.
Namanya juga film remaja-dewasa, adegan seperti itu tidak hanya satu atau dua kali. Bahkan pemain-pemain itu melakukannya seperti terlihat nyata. Hal lain yang bikin saya menutup mata adalah adegan pembunuhan yang dilakukan si Jason (tokoh utama pembunuhan) yang tergolong sangat keji. Cara dan strategi dia mengikuti lawan dan membunuhnya dengan biadab termasuk sikap yang sangat kejam. Menurut saya, itu bisa dikategorikan sebagai pelajaran cara pembunuhan dan penganiayaan terhebat kepada anak-anak yang masih belum mengerti mana yang baik dan yang buruk. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti anak-anak yang ada di ruangan tersebut ketika dewasa.
Beberapa menit kemudian, Read the rest of this entry »
Fenomena Thanksgiving dan Black Friday
December 8, 2008
Kamis tanggal 27 November 2008 yang lalu, masyarakat North America merayakan Thanksgiving Day (maaf baru sempat update:-p). Berdasarkan sejarahnya beberapa puluh tahun lalu, Thanksgiving Day merupakan hari dimana masyarakan pilgrim (pendatang) merayakan pesta bersama dengan penduduk asli Amerika (Indian). Pesta tersebut sebagai ungkapan terima kasih para pilgrim kepada Indians karena mereka telah mengijinkan para pilgrim tinggal di daerahnya sekaligus mengajari pilgrims bagaimana cara bercocok tanam dan berburu. Pesta tersebut sekaligus juga ungkapan kepada Tuhan atas rahmat yang diberikan kepada mereka.
Masyarakat jaman dulu merayakan Thanksgiving dengan api unggun layaknya pasukan pramuka (hehe) bersama-sama antara orang putih dengan masyarakat asli. Sedangkan masyarakat Amerika pada jaman modern ini merayakannya dengan makan
turkey dan hidangan khas Thanksgiving seperti pumpkin pie, sweet potatoes, beberapa jenis buah dan sayuran bersama keluarga besar masing-masing. Hal itulah yang menjadikan Thanksgiving Day sebagai hari libur nasional, bahkan anak sekolah diliburkan 1 minggu penuh.
Selain makan turkey, hal yang unik pada saat Thanksgiving Day adalah BLACK FRIDAY. Black Friday adalah 1 hari tepat setelah Thanksgiving Day. Setiap tahun, Thanksgiving Day selalu jatuh pada hari Kamis pada minggu terakhir di Bulan November. Dan esok harinya hampir semua toko-toko dan sebagian besar outlet memberikan diskon besar-besaran. Dan itulah yang disebut sebagai Black Friday.
Beberapa polisi menyebut Black Friday karena pada hari itu lalu lintas padat dipenuhi orang-orang yang akan berbelanja. Sedangkan sopir bis dan taksi menyebut Black Friday karena pada hari itu banyak sekali customer yang minta diantar ke toko atau outlet untuk berbelanja. Lain lagi untuk seorang accountant yang menyebut Black Friday dengan alasan karena adanya keuntungan penjual yang meningkat tajam pada hari tersebut.
Sebagian besar masyarakat berduyun-duyun mencari diskon dengan alasan yang beragam. Sebagian besar dari mereka bertujuan mencari hadiah-hadiah untuk hari natal dengan harga murah. Tapi tak banyak juga yang hanya ingin mendapatkan suatu barang dengan harga sangat murah dibanding hari biasa bahkan ada juga yang sekedar iseng/hobi. Mereka rela mengantri 3 jam bahkan 6 jam sebelum toko buka. Toko-toko dan outlet-outlet pun buka lebih awal dari hari biasa, misalnya jam 4 pagi, jam 2 pagi maupun jam 12 tengah malam. Dan masyarakat rela mengantri dari jam 9 malam (apabila toko buka jam 12 tengah malam), jam 11 malam (apabila toko buka jam 4 pagi) dsb. Udara dingin Fall pada malam Black Friday pun bukan halangan untuk mereka. Mereka mempersiapkan diri dengan membawa selimut, alas tidur, makanan, kursi lipat bahkan mendirikan tenda pada saat mengantri. Ada juga yang berjualan kopi panas keliling pada malam itu. Pada malam itu juga saya sempatkan ambil foto di Best Buy (salah satu toko komputer dan elektronik terbesar di Amerika) dan Kohl’s (toko baju seperti Matahari di Indonesia).


Persaingan fisik terlihat pada malam itu. Mereka harus tahan dingin dan sakit saat mengantri. Semakin depan kita mengantri berarti semakin cepat kita masuk toko dan mendapatkan barang yang ingin dibeli, hal itu berarti waktu mengantri kita harus yang paling lama. Dan apa yang terjadi setelah itu? Pada saat pintu toko siap-siap mulai dibuka, orang-orang yang antrian belakang justru mendesak-desak kita yang paling depan. Tak dapat dielakkan lagi kita justru terbentur-bentur sama pintu depan toko. Kemudian, pada saat pintu toko benar-benar terbuka, bila kita tidak tahan diri kita bisa terdorong jatuh dan bisa dibayangkan kita akhirnya terinjak-injak oleh mereka. Tak heran pada tahun ini ada 1 korban pegawai toko yang meninggal karena tertindih pintu masuk yang ambruk saat orang-orang berdesakan ingin masuk ke dalam toko. Fenomena yang menyedihkan.
Pada saat kita sudah di depan barang yang kita inginkan pun persaingan tetap saja terjadi. “Siapa cepat dia dapat” hal itu yang perlu diingat-ingat. Tangan-tangan kekar kita harus cepat menjangkau barang yang kita inginkan. Kita harus menjangkau barang tersebut tanpa memilih dan langsung membawanya ke kasir. Tahun ini di daerah California juga telah terjadi penembakan di antara dua orang yang berebut barang saat di dalam toko.
Banyaknya korban yang jatuh inilah yang membuka pikiran saya mengapa saya repot-repot ikut mengantri di depan toko seperti mereka. Keuntungannya, saya memang bisa mendapatkan barang dengan harga murah hingga 80% dari harga biasa. Tetapi resikonya saya bisa jatuh, masuk rumah sakit, sakit bahkan meninggal. Belum ada jaminan juga saya bisa mendapatkan barang yang saya inginkan. Banyak juga orang-orang yang telah mengantri beberapa jam saat Black Friday pulang dengan tangan kosong.
Satu hal lagi, mengapa seorang accountant menyebut Black Friday seperti yang sudah saya katakan di atas? Karena pada saat itu, penjual justru mendapatkan untung yang berlipat ganda walaupun dia menurunkan harga jual besar-besaran. Selama satu tahun penuh seorang penjual dapat dikatakan defisit karena harga jual tidak dapat menutupi modal dan biaya operasional. Sedangkan pada saat Black Friday, harga jual diturunkan hingga 50 bahkan 80% tetapi biaya operasional juga diturunkan . Contoh kasus, pada hari biasa pegawai yang dipekerjakan ada 10 orang tetapi pada Black Friday orang yang dipekerjakan cuma ada 2 orang. Semisal pada Black Friday, gaji 2 orang adalah 2 x 7 jam x $10= $ 140 sedangkan pada hari biasa 10 x 7 jam x $10=$700. Kalaupun gaji pegawai dinaikkan hingga $15/ hour, biaya operasional tetap bisa menghemat sekitar $450an. Oleh karena itu, keuntungan dari harga jual yang sangat sedikit dapat tergantikan penuh dengan biaya operasional yang sedikit pula sehingga laba bersih yang diperolah justru berlipat-lipat dari hari biasa. Kondisi inilah yang menyebabkan laporan keuangan yang biasa ditulis dengan tinta merah karena rugi menjadi ditulis dengan tinta hitam karena untung sehingga dinamakan Black Friday.
Entah tradisi di Amerika ini bakal bertahan sampai kapan. Hingga sekarangpun pemerintah justru mendukung progam ini karena alasan ekonomi. Sehingga yang jadi pertanyaan, kapan masyarakat akan terbuka matanya melihat fenomena seperti ini? Let’s wait and see sajalah:D.
Foto pertama diambil dari sini.
Birthday Party!
November 21, 2008
Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya berulang tahun. Saya tahu beberapa hari sebelum tepat hari ulang tahunnya. Tidak tanggung-tanggung, teman saya sendiri yang memberitahukan pada kami bahwa dia akan berulang tahun pada tanggal sekian dan sekalian dia mengundang kami untuk hadir di suatu restoran sore harinya.
Dengan berbekal baju yang pantas dan sejumlah dollar di dompet, saya, suami dan beberapa teman saya berangkat untuk memenuhi undangannya. Seperti layaknya orang yang berulang tahun, teman saya terlihat bahagia. Tak lupa kami memberikan ucapan doa dan nyanyian Happy Birthday to You seperti biasa. Waktu berjalan cepat. Berkumpul dengan teman-teman, bercanda gurau plus makan makanan restoran yang lezat membuat kami semua bahagia juga malam itu hingga tak terasa malam semakin larut.
Ketika mendekati waktu jam tutupnya restoran, seorang pelayan datang menghampiri kami dan memberikan bill pembayaran apa yang telah kami pesan. Sekian ratus dollar yang tertera di bill yang saya lihat sekilas cukup membuat saya kasihan sama teman saya yang berulang tahun. “Gila, boros banget nih anak. Party ulang tahun gini aja habis ratusan dollar. Busyeeet”, batin saya.
Tak lama kemudian,
“Hey, iuran-iuran!”, salah satu teman saya mengucapkan kata yang tidak asing bagi saya saat saya masih jadi mahasiswa di Indonesia dulu.
“Iuran?hm?”, tanya saya polos.
“Iya, iuran. Loe tadi makan apa aja sih? Catat aja habis berapa. Kalau lo ga ada uang cash, kita barengan aja dulu pakai kartu kredit gue. Tar kapan-kapan loe bayar ke gue. Ok?”, kata teman yang duduknya di sebelah saya.
Saya benar-benar tidak mengerti apa maksut dari semua ini. Saya turuti dulu aja apa yang dibilang teman yang ada di sebelah saya, setelahnya saya bisa bertanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian teman saya bilang, “Di sini memang kaya gini. Kalau ada yang ulang tahun, mereka mengundang kita di restoran trus kita bayar sendiri-sendiri. Teman-temannya justru berkewajiban bayarin orang yang sedang ulang tahun, bukan yang ulang tahun yang harus bayarin teman-temannya. Mereka beranggapan bahwa yang ulang tahun yang seharusnya bahagia bukan malah sebaliknya. Kalau yang ulang tahun yang bayarin uang makannya, kan pasti dia pusing mikirin uangnya”.
Wah? Bener juga ya?
Bandingkan saja dengan budaya kita, Orang Indonesia! Setiap ulang tahun, kita diminta mentraktir teman-teman, saudara-saudara kita. Kalau yang lagi apes, kita disiram rame-rame pakai air rendaman cucian berumur 3 hari plus telur busuk plus tepung, saos, kecap dan sejenisnya. Tanda kasih sayang orang-orang kita seakan dibudayakan dengan sesuatu yang mengenaskan, hehe.
Mungkin kita tidak akan melakukan hal seperti yang teman saya lakukan yaitu mengundang teman tapi mereka sendiri yang mesti bayar makanannya. Kalau tidak mau mengeluarkan duit, paling tidak minta doa saja. Atau kita bisa juga tetap mengadakan party kecil walaupun sederhana.
Ada budaya yang terkadang jauh dari nalar kita sebagai Orang Indonesia. Tidak semuanya harus masuk ke diri kita tapi tidak pula semuanya harus ditolak. Memilih mana yang terbaik untuk kita itu yang sangat utama.
Hati-hati ya kalau diundang teman ulang tahun. Siapkan uang secukupnya untuk jaga-jaga, siapa tahu teman yang mengundang kita menganut paham ini, hehe.
Apa Jadinya Kalau….
August 27, 2008
“Bulan…coba pikir, setiap hari restoran ini kira-kira ada 30 customer. Kalau setiap customer memesan makanan sekitar $20an aja. Maka setiap hari, restoran ini dapat duit $600. Kalau sebulan bisa dapat $18.000. Itu baru dihitung sangat-sangat minimal. Belum lagi kalau ada tips, belum lagi kalau pas rame, belum lagi kalau……..bla…bla…bla…jadi restoran ini bisa dapat…bla…bla…bla..” (sambil pencet-pencet kalkulator).
Begitulah kira-kira gambaran apa yang dilakukan suami ketika masuk dalam sebuah restoran yang baru kami kunjungi.
Melihat sekeliling, melihat kasir, mengamati jumlah makanan yang dibeli customer saat kami ada disitu kemudian melihat menu dan mengeluarkan kalkulator.
1234567899101112…..
angka angka angka dan angka…
Saat ini, kami sedang bingung memilih apakah kami sebaiknya mengganti provider telp selular dengan plan (sistem kontrak/pasca bayar) ke provider dengan prepaid (seperti prabayar di Indonesia). Menimbang baik buruknya, rugi tidaknya dan bagaimana masalah fasilitas-fasilitas yang ditawarkan. Pada umumnya, kita hanya melihat sekilas dari bulan ke bulan gimana tagihan telp, apakah kita rugi karena membuang banyak jatah telp atau tidak. Tapi yang terjadi suami justru membuka lembaran-lembaran tagihan, mengamati angka-angka satu persatu dan meminta saya untuk menyalin dalam Microsoft Excel.
Angka- angka itu nantinya akan dihitung rata-ratanya dan dilihat selisihnya.
(huehuehue..b-u-s-y-e-t)
hm….
Saya pikir, bagaimana ya jadinya kalau suami kita lawyer?
(“Wah seharusnya restoran ini salah. Berdasarkan hukum, dia itu tidak boleh menjual makanan sembarangan. Dia tidak boleh mempekerjakan orang-orang ilegal”)
kalau suami kita desainer interior?
(“Restoran ini seharusnya penataannya bisa lebih rapi dengan kursi yang dihadapkan ke depan…bla..bla…”)
kalau suami orang kesehatan?
(“Jangan beli makanan disini mama, dsini makanannya tidak sehat. Tuh lihat, banyak MSG nya. Liat nih, makanannya ada pengawetnya atau tidak”)
kalau suami ahli gizi?
(“Yah..nasi segini sih kalorinya cuman 30. Kamu mesti makan daging yang lebih banyak lagi. Makan tougenya juga untuk kesuburan. Trus…dihitung dulu kalau touge segitu berarti kamu hanya dapat vitamin sebesar…”)
Oalaaaah….
Gimana kalau kalian?
*Gambar diambil dari sini.
Minuman Kolaborasi ^-^
August 21, 2008
Hemmm,,,yang suka beraneka macam minuman, minuman kolaborasi ala suami saya ini sepertinya layak dicoba.
Rasanya manis, karena ada gulanya.
Rasanya “sedikit” pahit karena ada tehnya.
Rasanya asam karena ada Calpico Non-Carbonated Concentrate. (maaf nyebut merk ^-^)
Rasanya segar karena ada susu sapinya.
Lengkap kan?
Dan semua rasa tumplek blek ada disini. Ga heran, setiap pulang kerja, si emas minta dibuatin^-^ (saya aja doyan, hehe).
*Note: Calpico hanya sebuah merk. Kl ada merk lain, bisa dicoba kok. Kebetulan aja kemarin pas nyoba pakai Calpico dan sukses.
Apa arti puisi?
July 24, 2008
Hidup tanpa semangat layaknya baju tanpa benang,
Hidup selalu butuh semangat, tak kan ada baju tanpa benang,
Hidup tak kan berarti tanpa seonggok baju
Hidup tak kan terasa tanpa secuil senyum dan pengorbanan
Tanpa Hati, hidup akan terasa sebagai kapas putih yang akan selalu putih
Tanpa salah, hidup akan terasa hanya sebagai perjalanan yang membosankan
Tanpa benar, hidup akan selalu menjurang
Satu semangat satu kehidupan
Satu kesalahan berjuta kebenaran
Satu semangat berjuta impian
Berjuta impian adalah hidup
Tanpa mimpi tak ada hidup
Tak ada hidup tak ada hati
Kita harus selalu hidup karena kita punya hati
Hawa Individualism
June 1, 2008
Kehidupan masyarakat yang individual ala Amerika;
1. Tak kenal satupun tetangga rumah
2. Tak pernah bertamu satu kalipun ke masyarakat sekitar
3. Tak ada Pak Lurah, Bu Lurah, apalagi Pak and Bu RT
4. Butuh apapun, call 911 adalah pilihan terbaik daripada minta tolong tetangga
5. Tak ada satupun acara rame-rame se-perumahan atau se-wilayah kampung
6. Tentu saja tak ada ronda dan pos ronda, kalau ada maling urusan masing-masing rumah
7. Pakai baju model apapun, terserah, tak ada yang peduli
8. Ada kelainan fisik bentuk apapun, tak ada satupun yang melihat dengan sorotan mata aneh/ kasihan (seperti di Indo)
9. Mobil mogok? call 911 atau panggil mobil derek adalah pilihan lebih bijak daripada meminta tolong orang buat mendorong mobil. cttn: Mobil Derek bisa dibayar pakai Credit Card (kalau ga bawa cash), jadi ga perlu khawatir.
10. Tak kenal temen satu kelas atau satu ruang sekolah adalah hal biasa
11. Tak peduli orang itu muslim, kristen, katolik, atheis
hmm….
apalagi ya?
banyak bgt deh hawa-hawa individualism disini. Dijamin privacy anda bakal terjaga total:).
SSSttt…Jangan Asal Bicara!
May 30, 2008
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa berbicara sebaiknya yang seperlunya saja karena beberapa kali aku kena komentar ‘blak-blakan’ ala Amerika yang membuatku selalu instropeksi diri. Di Indonesia dulu, orang-orang sekitarku mungkin akan lebih diam saat aku ngomong hal yang tidak sesuai dengan mereka, walaupun hati mereka sebenarnya geregetan dengan kata-kataku. Prinsip tidak ingin diperlakukan seenaknya sangat aku rasakan di Amerika meskipun baru beberapa bulan aku disini.
Akibatnya, aku jadi malas ngomong karena harus hati-hati banget. Kalau ngobrol sama orang bule, aku akan lebih banyak tersenyum,
, dengan alasan: 1. terkadang masih susah mengerti bahasa mereka “nih bule ngomong apa sih?”, udah pake Bhs Inggris, pake logat pula, logat Indialah, logat Eropalah, logat Chinalah, logat Jepanglah, logat Vietnamlah plus logat Black People, semuanya beda-beda cara ngomong dan spell englishnya. Kedua, ya..karena memang agak malas ngobrol panjang lebar, tar jangan-jangan si bule ini ga ngerti apa yang aku omongin?
. Ketiga, terkadang si bule tanpa diduga akan berkomentar yang di luar dugaan kita, waktu kita nganggap ini candaan, ternyata mereka mikir kita serius, saat kita serius, tanpa diduga mereka tertawa terbahak-bahak, yaah…mesti pintar lihat suasana. Kalau wajah mereka berubah “aneh”, buruan bilang, “im sorry, im just kidding” lalu tersenyum:). Memang, hidup di luar, bukan hanya bahasa saja yang harus kita pelajari tapi karakteristik masyarakat juga.
Nah, beda kalau ngobrol sama orang indonesia yang ada disini. Mungkin, aku justru bersikap biasa saja, yah tersenyum itu pasti tapi ala kadarnya, khawatir dipikirnya kita terlalu “berlebihan”. Bedanya bila kita ngomong sama orang indo yang disini dibandingkan orang indo yang di Indonesia , kita harus lebih terbuka sama kritik dan saran orang lain yang terkadang kita rasakan bukan hanya pada waktu dan tempat yang tepat. Sebenarnya orang indo yang di Indonesia pun ada juga yang mempunyai kebiasaan seperti itu tapi mungkin hanya sebagian kecil. Sedangkan hampir semua orang indo yang disini (berdasarkan survey kecil-kecilan) lebih bersikap apa adanya, ngomong apa adanya, saat dan waktu kapanpun. Secara geografis, aku yang termasuk Orang Jawa agak kaget dengan sikap seperti itu. Mungkin, hal itu karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan Amerika yang bebas dan berani.
Sikap apa adanya seperti itu sebenarnya lebih banyak sisi positifnya. Seseorang lebih bisa menghargai orang lain dengan berbicara yang baik-baik saja kepada orang lain, selain itu seseorang akan merasa mempunyai kebebasan untuk jujur kepada orang lain dan dia juga bisa membela diri sendiri bila ada orang lain yang menyinggung perasaannya. Kapanpun, kita tetap harus selalu siap dengan reaksi apapun orang lain saat kita ngomong dengan mereka meskipun kita selalu menjaga ucapan kita.
Budaya yang terlewatkan
May 12, 2008
Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman panitia “Malam Budaya JBRB” pergi ke Embassy Indonesia di Washington DC untuk latihan tari (panitia perempuan) dan latihan kendang (panitia laki-laki). Kebetulan Embassy menyediakan berbagai fasilitas alat musik (tidak hanya kendang) di suatu ruangan seni dan kami tentu saja diijinkan untuk menggunakannya selama latihan.
Bukan Tari dan kendang yang akan saya ulas disini tetapi lebih kepada esensi dari rasa mencintai budaya asal kita. Terus terang, saya baru merasakan benar-benar menjadi WN Indonesia justru saat saya sudah di negeri orang. Saya baru terbuka matanya bahwa Indonesia itu benar-benar kaya akan kebudayaan, seni dan kemajemukan. Disini saya lebih senang melihat orang-orang yang sedang bermain angklung atau karawitan daripada saat di Indonesia dulu. Bahkan waktu di Indonesia dulu saya sedikit malu apabila melihat teman saya bermain karawitan. Lucunya lagi, saya baru tahu nama berbagai macam Tarian Indonesia justru saat saya sudah di US dan saya pun jadi tertarik berlatih tari setelah itu. Benar-benar hal yang kontradiktif.
Seharusnya kita sadar bahwa tarian dan budaya musik daerah adalah kekayaan bangsa kita dan itu mungkin yang akan menjadi satu-satunya kebanggaan kita saat negara kita benar-benar terpuruk. Jika kita sadar akan hal itu sudah selayaknya kita mulai menjaga dan melestarikannya mulai dari sekarang sebelum hal itu dirampas oleh negara lain.
Saya menyesal itu pasti. Mengapa tidak dari dulu saya menekuni dunia tari. Mengapa tidak dari dulu saya belajar karawitan dan mengapa tidak dari dulu saya gemar menyanyi gendang-gendang jawa atau musik khas daerah lainnya.
Belajar dari Kite Festival
April 2, 2008
Di setiap tahun, masyarakat sekitar D.C. US menyambut awal Spring dengan tradisi Cherry Blossom. Masyarakat berbondong-bondong ke pusat keramaian di daerah D.C. Monument melihat kerumunan pohon Cherry yang sedang berbunga. Kadang, disana juga ada festival yang beberapa orang dari berbagai belahan dunia unjuk gigi dengan atraksi yang khas negara masing-masing. Tradisi rutin yang sederhana tapi cukup seru dan banyak diminati masyarakat.
Spring tahun ini, saya dan keluarga juga kesana. Ini adalah pertama kalinya saya melihat tradisi Cherry Blossom. Saya berfikir, apa asyiknya liat bunga-bunga bermekaran?bukannya di depan rumah dan di pinggir jalan banyak juga? justru terkadang bunganya lebih cantik. Ternyata, bukan hanya bunga mekar yang ditawarkan pemerintah, tapi juga beberapa tempat history dan hiburan yang cukup indah.
Satu lagi. Saat kami datang, ada Kite Festival yang dapat diikuti oleh masyarakat dari segala umur (batita sampai kakek jompo). Kite Festival ini juga terkesan sederhana. Hanya layang-layang kok bisa jadi festival? Entahlah, aku pikir itu tidak menarik. Di Indonesia juga pernah ada, tapi saya tidak pernah tertarik sama sekali. Ternyata (lagi-lagi), Kite Festival yang terlihat simple dan tidak menarik bisa dikemas dengan bagus dan alhasil festival itu sangat meriah dan ramai. Bayangkan saja, hanya layang-layang yang pada prinsipnya bisa terbang ternyata dapat menjadi alat untuk mengadakan moment yang selalu digemari dan diingat masyarakat. 
Di Indonesia banyak sekali layang-layang. Saya yakin semua element masyarakat Indonesia mengenal apa yang disebut layangan. Bahkan yang saya tahu, banyak juga masyarakat Indonesia yang bisa membuat layang-layang (selain tukang pembuat layang-layang tentunya). Tapi kenapa, di Indonesia, saya belum pernah mendengar ada Kite Festival yang banyak diminati oleh semua element masyarakat. Yang ada, mungkin hanya Festival Layangan 17 Agustusan dan itu mungkin hanya sebatas masyarakat terdekat yang menonton. Kalaupun ada yang bagus dan qualified, masyarakat harus membayar uang tiket masuk yang lumayan buat kantong tipis dan hasilnya, masyarakat jadi enggan nonton lalu berkomentar, “nonton layangan aja ngabisin duit”. Kalaupun nonton festivalnya gratis, tapi kita tetap butuh duit paling tidak Rp.1000,00 untuk ke toilet umum kan?
Dari menengok acara Kite Festival di D.C ini kita bisa belajar dari berbagai aspek yang mungkin masih jarang/ belum ada di Indonesia. yaitu…
Rumah Kita
March 24, 2008
Hanya bilik bambu, tempat tinggal kita tanpa hiasan tanpa lukisan
beratap jerami, beralaskan tanah
namun semua ini punya kita
mmg semua ini milik kita sendiri
Hanya alang2 bagai rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga batu tumbuh d halaman
namun semua ini punya kita
mmg semua ini milik kita sendiri
Lebih baik dsini …
rumah kita sendiri..
segala nikmat dan anugerah yg Kuasa
semuanya ada dsini
(rumah kitaaaaaa…)
Tulisan ini bukan hanya lirik lagu “Rumah Kita” yang dinyayiin sama Indonesian Voices, tapi lebih ke esensinya sebagai lagu semangat buat kita untuk mencintai daerah asal kita.
Mungkin, sebelum kita “pindah” ke suatu tempat yang sangat jauh dari asal kita, lagu ini belum bisa kita hayati “kenapa kita harus mencintai rumah kita?”,
Tetapi saat kita mulai berpisah jarak hingga ribuan miles dengan semua apa yang ada di rumah kita, lagu itu bisa membawa perasaan kita terbang jauh kembali ke tempat kita dibesarkan. Rindu, kangen membawa diri kita kembali ke rumah, ke masa lalu dan mengingat semua di masa lalu, suka duka semua bercampur menjadi satu dan akhirnya hanya membuat kita tersenyum, “semua telah berubah dan kita takkan bisa kembali ke masa itu. Kalaupun kembali, kita hanya melihat sisa rumah yang telah menjadi saksi bisu hidup kita”.




