Don’t Believe It! Check It First
September 7, 2011
Sekilas dari judul, cerita yang akan saya ungguh ini seperti cerita tentang video. Check this out men! Kata-kata yang biasanya dipakai di website anak-anak muda tentang artis dan video film terbaru. Padahal sebenarnya, yang saya mau tulis ini adalah tentang dokter dan saya, pelanggannya.
Terus terang, dari saya kecil, saya sangat akrab dengan dunia perumahsakitan, kedokteran apalagi persalinan (berhubungan karena pekerjaan ibu saya sebagai bidan di sebuah RS umum). Saya akui para tenaga medis yang berkecimpung di dunia tersebut adalah hebat dan pengetahuan mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Setiap kali saya baca atau dengar saran para tenaga medis, saya 100% akan percaya dan melakukan apa yang mereka sarankan.
Tetapi sekarang? Setelah teknologi semakin maju, akses kita sebagai orang “biasa” saja semakin bertambah. Kita bisa men”search” apa saja yang kita mau, apa yang kita perlu dan apa yang kita pertanyakan. Dari situlah saya tahu bahwa apa yang dibilang tenaga medis itu terkadang bisa salah. Siapapun kalau dia masih bisa disebut sebagai manusia, terkadang bisa salah termasuk mereka. Otomatis, setelah kita diberi saran A, B,C atau peringatan D,E,F, please…check them out first. Cek apakah apa yang mereka sarankan itu sesuai dengan penelitian terbaru, apakah yang mereka katakan itu mash sesui dengan keadaan sekarang. Siapa tahu, itu adalah ajaran mereka waktu di sekolah kesehatan/kedokteran yang notabene sudah 10/15 tahun yang lalu. Sedangkan ilmu pengetahuan dan research itu berkembang setiap detik. Kita sebagai manusia tetap tidak boleh berdiam diri membiarkan orang lain mengatur diri kita dengan ilmunya. Kita juga harus tahu dan yakin dengan apa yang disarankan itu. Bukan menolak mentah-mentah dan menerima mentah-mentah.
Kasus nyata yang terjadi pada saya. Saya punya anak yang sekarang berumur 10 bulan. Saya ingat sekali, sewaktu anak saya check up di usia 2 bulan, dokter anak saya menyarankan untuk memberikannya vitamin D yang dilengkapi vitamin2 yang lain seperti A, B dan juga dengan beberapa mineral tambahan seperti potassium, iron, zinc dsb. Saat itu, saya ingat sekali, si dokter anak ini memberikan pilihan lain yaitu vitamin D yang hanya disertai vitamin A dan C. Setelah dari dokter, saya langsung ke apotek terdekat dan mencari nama vitamin yang disarankan si dokter. Awalnya saya ingin memberikan vitamin yang paling lengkap mengingat ini demi kebaikan si buah hati. Rasanya semakin memberikan dia yang kompleks, semakin dia nanti bisa tumbuh lebih baik. Untungnya, sesampainya di apotek, saya ngeri lihat ingredients vitamin (catatan; bacalah ingredients/kandungan obat/makanan/vitamin sebelum membelinya, siapa tahu anda menemukan hal yg diharamkan seperti gelatin atau alkohol dsb). Saya pikir, “MasyaAllah, ini vitamin atau bahan kimia?”. Saya akhirnya memilih vitamin yang lebih sederhana bahan kimianya (dimanapun, namanya vitamin selalu pakai bahan kimia). Entah mengapa, saya merasa bersyukur saya sering lupa memberikan anak saya vitamin tambahan itu. Saya benar-benar lupa (bukan karena sengaja) memberikannya rutin ke buah hati sampai saya sendiri merasa bersalah.
Pada akhirnya, saya baca di internet dengan beberapa sumber yang bisa dipercaya. Mereka mengatakan bahwa ASI (anak saya tidak doyan formula) memberikan iron yang dibutuhkan oleh si bayi sepenuhnya. Iron yang terkandung pada asi jauh lebih banyak dibanding pada susu formula. Dan hal yang membuat saya ngeri, bila bayi kelebihan iron, dia akan bisa mengalami keracunan yang berakibat fatal. Oke, anggap saja saya tidak makan dengan baik sehingga asi saya tidak terlalu bergizi. Tetapi tetap saja, apabila di usia 6 bulan anak saya sudah makan solid food yang biasanya di kemasan ditambahkan kata-kata “iron sources“, bisa-bisa anak saya akan kelebihan iron dan berakibat fatal. Hal yang membuat saya lebih bergidik lagi, selama ini dokter di negara angkuh ini (karena sudah tidak digdaya tetapi masih menyebut dirinya Negara Adigdaya, lol) “ketakutan” dengan bayi yang punya hemoglobin rendah. Padahal, standart yang dipakai mereka sebenarnya sudah berubah berdasarkan penelitian terbaru. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa 85% bayi terkena anemia karena memang standart kandungan darah yang dipakai oleh para dokter itu adalah standart orang dewasa, padahal seharusnya itu sangat-sangat berbeda dengan standart bayi. Yang ada bisa-bisa akibat fatal, bayi keracunan justru yang bisa terjadi. Naudzubillah min dzalik.
Berhati-hatilah mulai sekarang! Take your time for your research!

