Aku Takkan Pernah Puas

January 23, 2009

Sebut saja namaku Rita. Gadis dengan setumpuk prestasi dan keberuntungan. Tapi saya selalu merasa bahwa diriku ini termasuk sosok yang kurang beruntung di dunia. Ada kalanya saya sedih dengan diri sendiri mengapa saya tidak bahagia. Dan ada kalanya pula, saya merasa sangat tersanjung dengan semua apa yang sudah saya peroleh. Dua hal tersebut selalu berganti mewarnai hari-hariku.

Lima tahun yang lalu, saya yang masih tinggal di negara sendiri mempunyai mimpi untuk mencicipi kerasnya hidup di negara lain. Apa saja saya lakukan untuk memenuhi usaha saya. Saya berdoa tiap hari, berusaha menabung sekuat tenaga dan mencari relasi siapa tahu ada yang bersedia mensponsori saya tinggal di LN. Dan akhirnya tercapailah cita-cita itu. Betapa bahagianya saya dan keluarga.

Tapi setelah beberapa bulan di LN. Kebahagiaan itu memudar hingga akhirnya saya menyesal. Mengapa dulu saya rela-relanya berjuang untuk bisa hidup di LN. Padahal hidup di LN itu ternyata tidak mengasyikkan bahkan lebih asyik hidup di tanah air.  Beasiswa sekolah saya pun rasanya sudah tidak berharga lagi. Saya menyesal mengapa dulu saya tidak apply beasiswa master di tanah air saja.

Tidak betahnya saya di LN sebenarnya dikarenakan karena banyaknya kebutuhan hidup di luar dugaan dan jumlah beasiswa yang ternyata jauh tidak sebanding. Saya seharusnya bisa bekerja untuk menambah penghasilan. Tapi sampai beberapa bulan berusaha mencari pekerjaan, tak ada satupun dosen, instansi kampus bahkan company lokal yang mau mengangkat saya jd employee. Betapa merananya hidup saya saat itu.

Hingga keberuntungan itu terjadi. Saya tiba-tiba dipanggil oleh sebuah dosen dan dipercaya menjadi asisten proyek terbarunya beliau yang bernilai ratusan ribu US dollar. Saya merasa sangat tersanjung karena tidak semua bisa menjadi bagian dalam penelitiannya itu. “Alhamdulillah”, ujar saya.

Tapi lagi-lagi, tak selang dalam beberapa hari, saya merasa menyesal menerima pekerjaan itu. Menjadi asisten suatu proyek penelitian yang bernilai ratusan ribu dollar terlalu susah untuk saya. Saya merasa tidak bisa mengimbangi jam kerjanya yang selangit, belum lagi harus se-perfect mungkin karena dosen saya perfeksionis dan beliau tidak ingin penelitiannya berakhir sia-sia. Saya merasa apa yang saya dapatkan tidak setimpal dengan apa yang saya lakukan saat itu. Karena kontrak kerja yang masih lama, akhirnya saya hanya berusaha untuk bertahan, tentu saja disertai stress yang sangat berat.

Kontrak kerja penelitian selesai. Akhirnya saya mengurutkan dada. Lega.

Selang beberapa bulan kemudian, saya kembali kelimpungan dengan jumlah uang di rekening yang semakin menipis padahal tagihan menumpuk. Lagi-lagi saya stress. “Tuhan, ada saja masalah datang. Tak relakah Kau berikanku kesenangan yang lebih lama?”, gumam saya sambil menangis.

Saya bertekad harus mendapatkan pekerjaan lagi. Apapun bentuknya dan bagaimana capeknya harus saya jalani demi kebutuhan. Dan keberuntungan memang selalu berpihak pada saya. Akhirnya saya dapat pekerjaan menjadi salah satu karyawan di library kampus. Uangnya lumayan bisa menutup kebutuhan hidup saya. Bahkan kadang lebihnya bisa saya belanjakan untuk hal-hal lain yang sifatnya tersier. Alhamdulillah, Allah masih membuka pintu rejeki-Nya lebar-lebar.

Pasti teman-teman bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Yup! Saya kembali ke peraduan kesedihan. Kali ini saya tidak menyesal seperti sebelumnya, tapi saya merasa tidak beruntung. Tidak beruntung karena walaupun udah cukup materi, masalah selalu datang silih berganti. Dari masalah rekan kerja, atasan kerja, kuliah hingga urusan keluarga.  Tekanan masalah dan perasaan tidak beruntung ini akhirnya mendorong saya merasakan depresi yang amat sangat.

Yang saya sangat butuhkan saat itu tentu saja adalah seorang teman. Saya berharap saya bisa mendapat pencerahan dari teman saya. Dan ternyata, teman yang saya butuhkan tak kunjung datang. Mungkin kesibukan sangat menyita waktu mereka. Dan kejadian ini justru menyulut kemarahan saya pada keadaan. Mengapa selalu ada masalah?

3086156325_dcfcacf39a

Hingga akhirnya seusai berdoa, saya tiba-tiba terpaku beberapa saat. Memori saya menuntun saya kembali ke masa lalu. Berbagai bayangan suka, duka menyelinap masuk bergantian.  Perasaan bahagia, tersanjung silih datang dan pergi dengan perasaan sedih dan putus asa. Apa yang saya minta sering Tuhan berikan kepada saya. Mengapa saya tidak selalu puas? Mengapa setelahnya saya justru tidak terus ingat untuk mensyukurinya. Hanya beberapa hari saya mensyukuri setelah itu mencercanya? Perasaan malu langsung menyelimuti hati saya.

“Tuhan, ampuni hamba-Mu ini. Sepertinya hamba-Mu ini bukan tidak beruntung tetapi terlalu beruntung hingga lupa dengan banyaknya nikmat yang Kau berikan dan tidak mensyukurinya. Sesungguhnya umur, keluarga, kesehatan, status  hamba yang sekarang masih melekat di diri hamba ini adalah nikmat yang paling mahal tapi saya tidak menyadarinya”

*Didedikasikan untuk seorang teman yang pura-pura bernama Rita. Gambar diambil dari sini.

One Response to “Aku Takkan Pernah Puas”

  1. achoey Says:

    Itulah kita
    Itulah manusia

    syukur atas apa yg ada adalah perbuatan yg mulia
    dan kita terus berusaha menanamkannya

    salam semangat!


Leave a Reply