That’s Mine…
June 5, 2008
Cerita ini berawal di Hari Jumat, saat saya dan suami pergi ke Islamic Centre Maryland untuk Sholat Jumat.
Sudah mulai Summer, udara mulai panas dengan matahari yang bersinar terik. Hawa yang panas bikin kita lebih labil untuk emosi. Di badan rasanya lengket karena panas yang saya rasa sangat berbeda dengan panasnya di Indonesia. Di Indonesia udara terasa panas karena matahari plus polusi, disini panas murni hanya karena matahari yang terasa lebih sangat dekat bumi.
Sesampai di masjid, saya menuju ke tempat sholat wanita sekalian mencari tempat wudhlu khusus wanita. Saya pikir, mukena yang saya bawa saya letakkan dulu di masjid daripada saya nanti kerepotan membawanya saat wudhlu.
Masuk ruangan salat for ladies,
“ups, ada meja tuh, mukenanya taruh disana saja”, pikirku. Lalu saya jalan ke arah meja itu.
(Bentuk meja kecil, kira-kira berukuran 1×0,5m, di meja tidak terlihat barang apapun selain 1 buah pisang dan 1 apel yang tergeletak).
Dengan langkah jinjit (biar tidak menganggu orang berdoa) saya mendekati meja itu. Saat saya jinjit kira-kira setengah senti dari meja tiba-tiba terdengar suara bentakan keras mengejutkan (hingga semua wanita yang akan sholat disitu melihat saya),
” Hei, that’s mine! You know, that’s mine, don’t touch it, dont take it!”
Ups, What the hack? …..
Astagfirullah!!
hasna hasna sabar sabar, sabar ya nduk, ini masjid, tahan nafas, tersenyum, jangan marah, biarkan dia mengumpat sesukanya, yang penting kamu tidak berniat mengambilnya.
Dan yang ada, “ups, im sorry mom, im just going to put my hijab” dengan senyum berlagak pilon.
Ya Allah, serendah apa saya ini sampai mau-maunya mencuri apel dan pisang? Di rumah saja, apel sama pisang sampai kebuang-buang karena tidak ada yang makan (sombong dikitlah dalam hati).
Ampun deh ibu-ibu ini…(semoga diampuni dosanya olehNya).
Setelah sholat, saya dan suami meluncur ke suatu tempat. Sepanjang jalan, saya bercerita panjang lebar dengan kejadian barusan. Kupikir, dia akan berkomentar “marah-marah” ke ibu tersebut. Tapi ternyata dia justru berkomentar kalau orang Amerika mempunyai batasan yang jelas terhadap barang-barang miliknya. Mungkin, ibu itu marah-marah karena dipikirnya aku akan mengambil buah-buah yang dibagikan gratis oleh pihak masjid setiap hari Jumat, dia mengklaim bahwa buah di meja itu milik dia sepenuhnya karena dia yang ambil dari pihak masjid. Ada satu hal lagi, orang sini akan sangat berhati-hati dengan makanan. Mereka jijik jika ada orang lain yang mengutak atik atau bahkan hanya menyentuh makanan mereka. Mereka juga berani “to the point” bila ada yang mengancam makanan atau barang mereka. Tidak seperti di Indonesia yang kemungkinan akan melihat dulu gerak-gerik orang sebelum dia bertindak menuduh. Oleh karena itulah, ibu itu mungkin sangat takut waktu saya mendekat karena dia pikir saya akan mengambil buah itu atau saya akan menyentuh buah itu.
Suami saya bahkan menjelaskan, ada kemungkinan kalau barang itu HP atau tas, orang tidak akan berteriak ketakutan seperti itu karena dia percaya orang lain akan tahu bahwa itu pasti barang pribadi milik orang dan orang tersebut pasti tidak berani menyentuhnya.
Benar-benar paradigma baru untuk saya.
Filed in Budaya, Coretan dari sini
Tags: Amerika, apel, Barang, Islamic Centre Maryland, Jumat, mine, pisang, Sholat

June 10, 2008 at 4:28 pm
salam kenal.
ceritanya menarik. Kalau aku, udah pasti aku semprot tuh ibu asal tuduh itu.
Hergggghhh
June 11, 2008 at 6:34 pm
Suaminya bijak juga ^-^:)
June 12, 2008 at 4:48 pm
@ nina
Salam kenal juga:).
Coba kalau itu tidak di masjid, pasti udah aku maki-maki balik tuh.Hehe, kalau kita sabar pasti disayang Allah kok.
@oki
ehem ehem,,,
gimana yaaa???