SSSttt…Jangan Asal Bicara!
May 30, 2008
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa berbicara sebaiknya yang seperlunya saja karena beberapa kali aku kena komentar ‘blak-blakan’ ala Amerika yang membuatku selalu instropeksi diri. Di Indonesia dulu, orang-orang sekitarku mungkin akan lebih diam saat aku ngomong hal yang tidak sesuai dengan mereka, walaupun hati mereka sebenarnya geregetan dengan kata-kataku. Prinsip tidak ingin diperlakukan seenaknya sangat aku rasakan di Amerika meskipun baru beberapa bulan aku disini.
Akibatnya, aku jadi malas ngomong karena harus hati-hati banget. Kalau ngobrol sama orang bule, aku akan lebih banyak tersenyum,
, dengan alasan: 1. terkadang masih susah mengerti bahasa mereka “nih bule ngomong apa sih?”, udah pake Bhs Inggris, pake logat pula, logat Indialah, logat Eropalah, logat Chinalah, logat Jepanglah, logat Vietnamlah plus logat Black People, semuanya beda-beda cara ngomong dan spell englishnya. Kedua, ya..karena memang agak malas ngobrol panjang lebar, tar jangan-jangan si bule ini ga ngerti apa yang aku omongin?
. Ketiga, terkadang si bule tanpa diduga akan berkomentar yang di luar dugaan kita, waktu kita nganggap ini candaan, ternyata mereka mikir kita serius, saat kita serius, tanpa diduga mereka tertawa terbahak-bahak, yaah…mesti pintar lihat suasana. Kalau wajah mereka berubah “aneh”, buruan bilang, “im sorry, im just kidding” lalu tersenyum:). Memang, hidup di luar, bukan hanya bahasa saja yang harus kita pelajari tapi karakteristik masyarakat juga.
Nah, beda kalau ngobrol sama orang indonesia yang ada disini. Mungkin, aku justru bersikap biasa saja, yah tersenyum itu pasti tapi ala kadarnya, khawatir dipikirnya kita terlalu “berlebihan”. Bedanya bila kita ngomong sama orang indo yang disini dibandingkan orang indo yang di Indonesia , kita harus lebih terbuka sama kritik dan saran orang lain yang terkadang kita rasakan bukan hanya pada waktu dan tempat yang tepat. Sebenarnya orang indo yang di Indonesia pun ada juga yang mempunyai kebiasaan seperti itu tapi mungkin hanya sebagian kecil. Sedangkan hampir semua orang indo yang disini (berdasarkan survey kecil-kecilan) lebih bersikap apa adanya, ngomong apa adanya, saat dan waktu kapanpun. Secara geografis, aku yang termasuk Orang Jawa agak kaget dengan sikap seperti itu. Mungkin, hal itu karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan Amerika yang bebas dan berani.
Sikap apa adanya seperti itu sebenarnya lebih banyak sisi positifnya. Seseorang lebih bisa menghargai orang lain dengan berbicara yang baik-baik saja kepada orang lain, selain itu seseorang akan merasa mempunyai kebebasan untuk jujur kepada orang lain dan dia juga bisa membela diri sendiri bila ada orang lain yang menyinggung perasaannya. Kapanpun, kita tetap harus selalu siap dengan reaksi apapun orang lain saat kita ngomong dengan mereka meskipun kita selalu menjaga ucapan kita.
