header image
 

Budaya yang terlewatkan

Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman panitia “Malam Budaya JBRB” pergi ke Embassy Indonesia di Washington DC untuk latihan tari (panitia perempuan) dan latihan kendang (panitia laki-laki). Kebetulan Embassy menyediakan berbagai fasilitas alat musik (tidak hanya kendang) di suatu ruangan seni dan kami tentu saja diijinkan untuk menggunakannya selama latihan.

Bukan Tari dan kendang yang akan saya ulas disini tetapi lebih kepada esensi dari rasa mencintai budaya asal kita. Terus terang, saya baru merasakan benar-benar menjadi WN Indonesia justru saat saya sudah di negeri orang. Saya baru terbuka matanya bahwa Indonesia itu benar-benar kaya akan kebudayaan, seni dan kemajemukan. Disini saya lebih senang melihat orang-orang yang sedang bermain angklung atau karawitan daripada saat di Indonesia dulu. Bahkan waktu di Indonesia dulu saya sedikit malu apabila melihat teman saya bermain karawitan. Lucunya lagi, saya baru tahu nama berbagai macam Tarian Indonesia justru saat saya sudah di US dan saya pun jadi tertarik berlatih tari setelah itu. Benar-benar hal yang kontradiktif.

Seharusnya kita sadar bahwa tarian dan budaya musik daerah adalah kekayaan bangsa kita dan itu mungkin yang akan menjadi satu-satunya kebanggaan kita saat negara kita benar-benar terpuruk. Jika kita sadar akan hal itu sudah selayaknya kita mulai menjaga dan melestarikannya mulai dari sekarang sebelum hal itu dirampas oleh negara lain.

Saya menyesal itu pasti. Mengapa tidak dari dulu saya menekuni dunia tari. Mengapa tidak dari dulu saya belajar karawitan dan mengapa tidak dari dulu saya gemar menyanyi gendang-gendang jawa atau musik khas daerah lainnya.

 

~ by hasnabulan on May 12, 2008.

One Response to “Budaya yang terlewatkan”

  1. Gue juga kagak bisa nari loo. Never Mind!

Leave a Reply