Akhir-akhir ini aku sadar bahwa berbicara sebaiknya yang seperlunya saja karena beberapa kali aku kena komentar ‘blak-blakan’ ala Amerika yang membuatku selalu instropeksi diri. Di Indonesia dulu, orang-orang sekitarku mungkin akan lebih diam saat aku ngomong hal yang tidak sesuai dengan mereka, walaupun hati mereka sebenarnya geregetan dengan kata-kataku. Prinsip tidak ingin diperlakukan seenaknya sangat aku rasakan di Amerika meskipun baru beberapa bulan aku disini.

Akibatnya, aku jadi malas ngomong karena harus hati-hati banget. Kalau ngobrol sama orang bule, aku akan lebih banyak tersenyum, :) , dengan alasan: 1. terkadang masih susah mengerti bahasa mereka “nih bule ngomong apa sih?”, udah pake Bhs Inggris, pake logat pula, logat Indialah, logat Eropalah, logat Chinalah, logat Jepanglah, logat Vietnamlah plus logat Black People, semuanya beda-beda cara ngomong dan spell englishnya. Kedua, ya..karena memang agak malas ngobrol panjang lebar, tar jangan-jangan si bule ini ga ngerti apa yang aku omongin? :-( . Ketiga, terkadang si bule tanpa diduga akan berkomentar yang di luar dugaan kita, waktu kita nganggap ini candaan, ternyata mereka mikir kita serius, saat kita serius, tanpa diduga mereka tertawa terbahak-bahak, yaah…mesti pintar lihat suasana. Kalau wajah mereka berubah “aneh”, buruan bilang, “im sorry, im just kidding” lalu tersenyum:). Memang, hidup di luar, bukan hanya bahasa saja yang harus kita pelajari tapi karakteristik masyarakat juga.

Nah, beda kalau ngobrol sama orang indonesia yang ada disini. Mungkin, aku justru bersikap biasa saja, yah tersenyum itu pasti tapi ala kadarnya, khawatir dipikirnya kita terlalu “berlebihan”. Bedanya bila kita ngomong sama orang indo yang disini dibandingkan orang indo yang di Indonesia , kita harus lebih terbuka sama kritik dan saran orang lain yang terkadang kita rasakan bukan hanya pada waktu dan tempat yang tepat. Sebenarnya orang indo yang di Indonesia pun ada juga yang mempunyai kebiasaan seperti itu tapi mungkin hanya sebagian kecil. Sedangkan hampir semua orang indo yang disini (berdasarkan survey kecil-kecilan) lebih bersikap apa adanya, ngomong apa adanya, saat dan waktu kapanpun. Secara geografis, aku yang termasuk Orang Jawa agak kaget dengan sikap seperti itu. Mungkin, hal itu karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan Amerika yang bebas dan berani.

Sikap apa adanya seperti itu sebenarnya lebih banyak sisi positifnya. Seseorang lebih bisa menghargai orang lain dengan berbicara yang baik-baik saja kepada orang lain, selain itu seseorang akan merasa mempunyai kebebasan untuk jujur kepada orang lain dan dia juga bisa membela diri sendiri bila ada orang lain yang menyinggung perasaannya. Kapanpun, kita tetap harus selalu siap dengan reaksi apapun orang lain saat kita ngomong dengan mereka meskipun kita selalu menjaga ucapan kita.

Kecanduan

May 28, 2008

Kecanduan terhadap sesuatu pasti mengkonotasikan keburukan. Kecanduan dapat berarti kesukaan yang terlalu berlebih, tidak sesuai kadarnya dan terkadang tidak sesuai tempat dan waktu yang bijak.

Apa jadinya bila orang terdekat kita sedang kecanduan sesuatu? Bisa saja kecanduan makanan tertentu, minuman tertentu, musik tertentu, group music tertentu sampai obat-obatan tertentu (astagfirullah…). Mending, kalau kita atau orang terdekat kita itu kecanduan baca buku-buku keilmuan atau menonton acara Discovery Channel. Tapi, lagi-lagi kecanduan apapun tetap saja itu tidak positif.

Beberapa bulan terakhir ini, orang terdekat saya (baca: suami), kecanduan group  musik tertentu. Dia sedang senang-senangnya all about Korea. Dari makanan, bahasa, musik sampai group musiknya, terfavorit berasal dari negara kecil itu. Kalau saya bilang itu sudah termasuk kecanduan.

Yang paling terasa adalah kecanduan salah satu group musik bernama Wonder Girls yang semua personelnya adalah perempuan. Menurut saya, menyukai sesuatu adalah wajar. Bahkan saya pun sebenarnya juga suka dengan group musik tersebut tapi mungkin sedikit lebih terkontrol.

Setiap hari selalu menyempatkan membuka blog full about Wonder Girls walaupun hanya semenit. Pernah suatu hari, ketika beliau akan berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa tiba-tiba mampir ke laptop dan membuka wondergirls.wordpress.com, ampyuuunnnn….walaupun tidak dalam hitungan menit, saya pikir ini sangatlah tak wajar.

Kecanduan merupakan luapan dari kebiasaan kita melakukan (atau merasakan) sesuatu. Semakin sering kita melakukannya maka kita akan terbiasa dengan hal itu dan apabila suatu saat kita tidak melakukannya, hidup kita serasa tidak lengkap bahkan kita bisa merasa tidak bahagia.

kecanduan…(baca selengkapnya ya..)

Pariwisata Indonesia

May 13, 2008

Beberapa menit yang lalu saya menonton acara TV America’s Top Model edisi final. Saya sempat ‘heran’ dengan pilihan ‘panitia acara yang menentukan bahwa Thailand adalah negara pilihan untuk show off model edisi final. Kenapa Thailand? Mungkin tidak hanya acara tersebut yang menggunakan negara-negara Asia khususnya Asean selain Indonesia sebagai tempat pilihan. Negara-negara yang dituju biasanya seputar Thailand, Vietnam dan Singapore.

Pertama; Dari segi keindahan alam. Saya sangat yakin Indonesia memiliki lebih dari seribu keindahan daripada ketiga noegara tersebut.

Kedua; Dari segi budaya. Indonesia sangat jauh lebih banyak mempunyai kebudayaan-kebudayaan daerah yang mempunyai karakteristik yang sangat memukau.

Ketiga; Dari segi fasilitas. Walaupun mungkin masih kalah bila dibandingkan Singapore, paling tidak dengan Thailand kita tidak terlalu jauh tertinggal.

Keempat; Dari segi promosi/ pengenalan negara. Mungkin dari satu segi ini, kita sangat jauh tertinggal dengan ketiga negara Asean tersebut. Walaupun Indonesia tahun ini mulai mencanangkan Visit Indonesia Year 2008, tapi sepertinya hal itu belum terlalu efektif.

Mengenai Visit Indonesia Year 2008, saya cukup tertawa dalam hati bila mengetahui ada seseorang yang mengaku berwarga negara Indonesia tetapi dia tidak mengenal bahkan belum pernah mendengar motto tersebut. Apakah ini kesalahan WNI tersebut yang tidak pernah update informasi tentang Indonesia? ataukah Pemerintah Indonesia sendiri yang belum optimal mempromosikan hal tersebut? Bayangkan saja, WNI yang ada dalam negeri tidak tahu tentang hal ini apalagi WNI yang sedang ada di luar negeri atau WNI baikyang di luar atau di dalam negeri aja tidak tahu apalagi orang asing. Bila di logika secara mentah, hal itu sangat mungkin terjadi dan satu-satunya cara adalah menggencarkan ajang promosi pariwisata kita.

 Dana yang harusnya untuk promosi Bidang Parawisata mungkin lebih banyak disektorkan untuk pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi nyatanya, masyarakat juga tak kunjung sejahtera dan uang pendidikan justru semakin mahal. Yang ada justru Pejabat Dewan meminta segudang fasilitas dengan dana yang entah diambil darimana.

Saya pribadi sangat penasaran dengan masa depan Pariwisata Indonesia. Promosi negara yang tersendat-sendat ditambah masih banyaknya image buruk tentang Indonesia yang beredar di kalangan mancanegara. Sektor Parawisata yang harusnya menjadi nilai lebih Indonesia dan sumber devisa negara yang tak ternilai mungkin akan menjadi satu hal yang tak terlalu dipikirkan oleh pemerintah dan akibatnya Indonesia semakin terpuruk dengan dirinya sendiri.

 

 

Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman panitia “Malam Budaya JBRB” pergi ke Embassy Indonesia di Washington DC untuk latihan tari (panitia perempuan) dan latihan kendang (panitia laki-laki). Kebetulan Embassy menyediakan berbagai fasilitas alat musik (tidak hanya kendang) di suatu ruangan seni dan kami tentu saja diijinkan untuk menggunakannya selama latihan.

Bukan Tari dan kendang yang akan saya ulas disini tetapi lebih kepada esensi dari rasa mencintai budaya asal kita. Terus terang, saya baru merasakan benar-benar menjadi WN Indonesia justru saat saya sudah di negeri orang. Saya baru terbuka matanya bahwa Indonesia itu benar-benar kaya akan kebudayaan, seni dan kemajemukan. Disini saya lebih senang melihat orang-orang yang sedang bermain angklung atau karawitan daripada saat di Indonesia dulu. Bahkan waktu di Indonesia dulu saya sedikit malu apabila melihat teman saya bermain karawitan. Lucunya lagi, saya baru tahu nama berbagai macam Tarian Indonesia justru saat saya sudah di US dan saya pun jadi tertarik berlatih tari setelah itu. Benar-benar hal yang kontradiktif.

Seharusnya kita sadar bahwa tarian dan budaya musik daerah adalah kekayaan bangsa kita dan itu mungkin yang akan menjadi satu-satunya kebanggaan kita saat negara kita benar-benar terpuruk. Jika kita sadar akan hal itu sudah selayaknya kita mulai menjaga dan melestarikannya mulai dari sekarang sebelum hal itu dirampas oleh negara lain.

Saya menyesal itu pasti. Mengapa tidak dari dulu saya menekuni dunia tari. Mengapa tidak dari dulu saya belajar karawitan dan mengapa tidak dari dulu saya gemar menyanyi gendang-gendang jawa atau musik khas daerah lainnya.