Belajar dari Kite Festival
April 2, 2008
Di setiap tahun, masyarakat sekitar D.C. US menyambut awal Spring dengan tradisi Cherry Blossom. Masyarakat berbondong-bondong ke pusat keramaian di daerah D.C. Monument melihat kerumunan pohon Cherry yang sedang berbunga. Kadang, disana juga ada festival yang beberapa orang dari berbagai belahan dunia unjuk gigi dengan atraksi yang khas negara masing-masing. Tradisi rutin yang sederhana tapi cukup seru dan banyak diminati masyarakat.
Spring tahun ini, saya dan keluarga juga kesana. Ini adalah pertama kalinya saya melihat tradisi Cherry Blossom. Saya berfikir, apa asyiknya liat bunga-bunga bermekaran?bukannya di depan rumah dan di pinggir jalan banyak juga? justru terkadang bunganya lebih cantik. Ternyata, bukan hanya bunga mekar yang ditawarkan pemerintah, tapi juga beberapa tempat history dan hiburan yang cukup indah.
Satu lagi. Saat kami datang, ada Kite Festival yang dapat diikuti oleh masyarakat dari segala umur (batita sampai kakek jompo). Kite Festival ini juga terkesan sederhana. Hanya layang-layang kok bisa jadi festival? Entahlah, aku pikir itu tidak menarik. Di Indonesia juga pernah ada, tapi saya tidak pernah tertarik sama sekali. Ternyata (lagi-lagi), Kite Festival yang terlihat simple dan tidak menarik bisa dikemas dengan bagus dan alhasil festival itu sangat meriah dan ramai. Bayangkan saja, hanya layang-layang yang pada prinsipnya bisa terbang ternyata dapat menjadi alat untuk mengadakan moment yang selalu digemari dan diingat masyarakat. 
Di Indonesia banyak sekali layang-layang. Saya yakin semua element masyarakat Indonesia mengenal apa yang disebut layangan. Bahkan yang saya tahu, banyak juga masyarakat Indonesia yang bisa membuat layang-layang (selain tukang pembuat layang-layang tentunya). Tapi kenapa, di Indonesia, saya belum pernah mendengar ada Kite Festival yang banyak diminati oleh semua element masyarakat. Yang ada, mungkin hanya Festival Layangan 17 Agustusan dan itu mungkin hanya sebatas masyarakat terdekat yang menonton. Kalaupun ada yang bagus dan qualified, masyarakat harus membayar uang tiket masuk yang lumayan buat kantong tipis dan hasilnya, masyarakat jadi enggan nonton lalu berkomentar, “nonton layangan aja ngabisin duit”. Kalaupun nonton festivalnya gratis, tapi kita tetap butuh duit paling tidak Rp.1000,00 untuk ke toilet umum kan?
Dari menengok acara Kite Festival di D.C ini kita bisa belajar dari berbagai aspek yang mungkin masih jarang/ belum ada di Indonesia.
- Mengapa acara-acara yang simple dan sederhana bisa menjadi acara besar dan menarik?
- Mengapa masyarakat dengan murah dan tanpa tiket bisa mendapat hiburan yang cukup me-refresh pikiran?
- Mengapa acara yang ramai dan banyak peminatnya tetap bisa teratur dan tertib? Mengapa semakin banyak pengunjung, semakin membuat kita senang dan tidak terkesan sesak seperti di negara kita?
- Mengapa pemerintah dengan kepeduliannya mau memfasilitasi tradisi turun menurun tiap tahun dengan menyediakan toilet umum gratis, minum gratis dan polisi-polisi keamanan?
- Mengapa pemerintah juga mau menyisihkan uang negara untuk membangun fasilitas-fasilitas hiburan, histories, dan transportasi di sekitar pusat diadakannya tradisi turun menurun?
Entahlah, semuanya terlalu kompleks.

July 24, 2008 at 8:26 am
ada kok festival layang-layang internasional di Indonesia.
dan selalu gratis untuk nonton, yang paling bagus mungkin di Bali, Jakarta, Pangandaran, karena terbiasa mengadakan festival internasional. Pemerintah juga kok yang memfasilitasi kegiatan-kegiatan ini. dan tidak pernah sesak karena diadakan di lapangan.
July 24, 2008 at 8:31 pm
Terima kasih dah mampir ke rumah maya saya:).
Wah iya ya mas?
Saya sendiri sebenarnya juga belum pernah nonton Festival Layangan yang di Bali, Jakarta dan Pangandaran.Mungkin 1 hal yang masih menjadi pertanyaan saya, apakah masyarakat gratis juga kalau mau ke toilet umum?