Kurus dan Berat Berlebihan
March 25, 2008
Dari saya kecil, saya hampir tidak pernah mempunyai berat ideal yang disesuaikan dengan tinggi saya. Hampir semua orang bilang saya kurus, cengkring (bahasa jawa) dan terlihat penyakitan. Makan banyak dan bergizi, tidur cukup serta berusaha tidak terlalu banyak beraktivitas sudah saya lakukan tetapi berat tubuh saya tidak bisa tambah juga. Waktu itu tubuh ini rasanya terlalu rapuh dan pasti mudah limbung bila ada tiupan angin meskipun tidak terlalu kencang.
Dan saat beranjak mulai dewasa (umur 17 thn-an) saya sedih karena dapat dibilang saya tidak sexy sama sekali. Orang tua saya hanya menghibur dengan mengatakan ” La, kamu ki wis kaya model. Model ki yo kurus-kurus ngono, ga terlalu lemu.Wis pede ae lah” (Kamu itu sudah kaya model. model itu juga kurus-kurus seperti kamu, tidak terlalu gemuk. Sudahlah, kamu percaya diri aja).
Waktu berjalan, akhirnya saya kuliah di salah satu kota budaya di Indonesia. Pertemuan saya dengan orang-orang dari daerah yang berbeda-beda membuat wawasan saya bertambah termasuk dalam hal makanan, olahraga dan kegemukan. Tetap saja teman-teman baru saya mengatakan saya paling kurus bila dibandingkan teman-teman yang lain. Berbagai saran untuk menambah berat badan diberikan oleh teman-teman, mulai dari makan yang teratur dengan 4 sehat 5 sempurna, olahraga (aerobik dan body language) untuk membentuk badan supaya lebih sexy serta tips untuk menikmati hidup dengan tidak mudah stress sehingga badan ini terasa lebih segar dan bertambah berat.
Kurang lebih dua kali dalam seminggu, saya aerobik atau BL (body language) di tempat senam wanita terdekat dengan kos saya di Jogja. Salah satu teman saya bilang, setelah olahraga kamu harus makan makanan yang banyak mengandung protein dan lemak. Dia menyarankan saya minum susu kedelai yang terkenal ampuh untuk kebugaran dan menambah daya tahan tubuh. Salah satu customer di tempat senam tersebut juga sempat bercerita bahwa dia dulu kurus dan akhirnya menjadi gemuk karena rajin senam dan minum susu kedelai yang banyak (bayangkan saja, seorang customer tempat senam yang tidak kenal dengan saya tiba-tiba mendatangi saya dan memberikan tips untuk bertambah berat, mungkin kekurusan saya waktu itu benar-benar parah).
Selama kurang lebih 2 tahun saya menjalankan rutinitas yang mungkin dapat menambah kegemukan saya tapi hasilnya nihil dan saya seperti patah semangat. Saya pikir, sudah waktunya saya harus menerima apa adanya diri saya. Sejalan dengan waktu, saya tetap berusaha untuk tampil seideal mungkin, tapi saya tidak akan ngoyo (memaksa diri) lagi.
Pada suatu bulan, saya pindah kos karena berbagai konflik di kos lama yang tidak dapat saya selesaikan lagi. Serasa mendapat angin segar, di kos baru saya merasa lebih enjoy dan tidak ada beban masalah. Teman-teman kos baru saya juga asyik dan saya merasa mempunyai semangat baru. Beberapa bulan di kos baru, dengan makanan yang rata-rata sama (justru terkadang jauh lebih sederhana) dibandingkan saat di kos lama, saya bertambah berat sekitar 3-4 kg an (berat yang susah saya dapatkan saat di kos lama). Satu tahun kemudian, saya dipinang oleh seseorang yang terkadang dulu memang membuat saya resah dan beberapa saat setelah itu berat saya bertambah lagi sekitar 3 kg-an. Saya menjadi jarang aerobik dan BL lagi karena saya pikir tujuan saya untuk aerobik dan BL sudah kesampaian.
Saya pikir, ternyata selama ini tanpa sadar saya kurang menikmati hidup. Alam bawah sadar saya sering mengalami kestresan yang saya kira itu biasa. Begitu dalamnya masalah yang tidak saya rasa hingga akhirnya tubuh saya yang melawan dan metabolisme tubuh secara tidak sadar menjadi terganggu. Tubuh tidak bisa gemuk karena hasil metabolisme yang harusnya menjadi daging justru terbuang percuma karena stress. Ada kemungkinan kecil bahwa orang yang tubuhnya kecil (padahal dia suka makan) adalah orang yang secara sadar maupun tak sadar mempunyai tekanan mental dalam psikologisnya. Walaupun ada juga orang yang kurus karena keturunan genetis.
Hampir setiap hari saya menimbang berat badan saya. Saat jarum penunjuk mengarah ke angka 49 ke atas, saya selalu tersenyum dan merasa puas. Setiap hari saya kontrol dengan banyak makan yang bergizi dan selalu berusaha menikmati hidup senyaman mungkin. Saya selalu mencoba untuk hidup relax dan membuat hidup seperti apa yang saya mau. Hingga suatu hari, saya melihat jarum penunjuk di timbangan mengarah ke angka 54. Ups, berat saya sudah ideal dengan tinggi sekitar 163-an dengan rangka tubuh yang tidak terlalu besar.
Sudah tahu ideal, saya tetap saja makan yang banyak yang saya mau seperti biasanya, menikmati hidup menjadi semakin hidup dan jarang olahraga. Saya juga jarang menimbang lagi. Saya pikir, “Paling juga segitu”. Hingga suatu hari, saya iseng menimbang dan angka penunjuk berat mengarah ke angka 60 kg.
huwaaaaaaaaaww!!!
Ini sudah melewati batas normal. Bukan berat ideal lagi yang saya punya tapi kelebihan berat. Ibu saya bilang “Belum punya anak saja beratnya sudah segitu, nanti kalau sudah punya anak mau seberapa? 100 kg?”:(.
Untung saya cepat sadar bahwa ini sudah kelebihan. Paling tidak, saya hanya wajib menurunkan sekitar 6 kg-an. Saya pikir itu gampang karena dulu saya dengan cepat turun bisa sampai 10 kg-an dalam waktu 1 bulan. Pasti menurunkan berat 6 kg itu adalah urusan mudah.
Saya kurangi makan sedikit dan mulai olahraga lagi walaupun hanya kelebihan berat 6 kg tetapi tubuh saya sudah mempunyai gelambir di tempat-tempat tertentu. Saya rajin menimbang lagi setiap hari. Baju-baju dan celana mulai banyak yang tidak muat saya pakai. Hari demi hari, saya tetap melihat penunjuk berat itu mengarah ke angka 60. Ini semua meleset dari perkiraan saya.
Beberapa minggu olahraga cukup teratur pun belum bisa mengusir gelambir-gelambir lemak di tubuh. Saya baru tahu, “Ternyata susahnya menguruskan badan seperti orang-orang bilang itu seperti ini ya?”. Saya harus terus olahraga teratur, menjaga makanan supaya tidak kelebihan lemak dan kolesterol serta menjaga nafsu makan. Saya mulai browse artikel-artikel tentang diet ala indonesia dan pengaturan diet ala barat. Saya juga dibelikan berbagai macam alat fitness untuk membentuk bagian-bagian tubuh yang sekarang sedang banyak gelambir-gelambirnya. Setiap hari saya selalu berusaha untuk menyemangati diri saya menjadi kurusan lagi. Hal yang sangat kontradiktif dengan yang saya lakukan 2 thn lalu.
Dan sekarang, bila saya boleh memilih saya akan memilih menjadi saya yang dulu. Walaupun orang-orang mengatakan saya kurus, jelek, tidak sexy, penyakitan, biarkanlah saja. Menjadi orang yang gemuk juga bukan jaminan sehat. Banyak orang gemuk yang ternyata lebih beresiko adanya penyumbatan pembuluh darah dan jantung. Menjadi orang kurus bukan berarti orangnya jelek dan tidak sexy tapi mungkin saja dia tidak menunjukkan ke-sexy-annya di depan umum.
Intinya, bagaimanapun bentuk dirimu, nikmati saja. Yang terpenting kita selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam hidup ini.
Gambar diambil dari sini

August 22, 2008 at 7:25 am
mbak riri aza masih kelebihan 5 kg cuex aza, padahal bang liliek protes mlulu….. (padahal temen mbak riri bilang mbak enggak gendut , la wong cuma 58 kg skrg). Mbak riri aja yg mikir bang liliek yang kekurusan ha.ha.ha.
August 24, 2008 at 10:25 pm
huahahaha…
ternyata adek sm kakak sama aj ya..^-^
Asssiiikk,,,,aku ada temenna, hihihi
December 22, 2008 at 1:38 am
Oi, oi, Ne,…
dulu aku ngiri liat bodimu yg ideal pake baju apa aja itu lho
eniwei baswei..
itu kos-kos annya disebut dong, kos-kosan mana
ahahahahaha *wink wink