Rumah Kita

March 24, 2008

Hanya bilik bambu, tempat tinggal kita tanpa hiasan tanpa lukisan
beratap jerami, beralaskan tanah
namun semua ini punya kita
mmg semua ini milik kita sendiri

Hanya alang2 bagai rumah kita
tanpa anyelir tanpa melati
hanya bunga batu tumbuh d halaman
namun semua ini punya kita
mmg semua ini milik kita sendiri

Lebih baik dsini …
rumah kita sendiri..
segala nikmat dan anugerah yg Kuasa
semuanya ada dsini
(rumah kitaaaaaa…)

Tulisan ini bukan hanya lirik lagu “Rumah Kita” yang dinyayiin sama Indonesian Voices, tapi lebih ke esensinya sebagai lagu semangat buat kita untuk mencintai daerah asal kita.

Mungkin, sebelum kita “pindah” ke suatu tempat yang sangat jauh dari asal kita, lagu ini belum bisa kita hayati “kenapa kita harus mencintai rumah kita?”,
Tetapi saat kita mulai berpisah jarak hingga ribuan miles dengan semua apa yang ada di rumah kita, lagu itu bisa membawa perasaan kita terbang jauh kembali ke tempat kita dibesarkan. Rindu, kangen membawa diri kita kembali ke rumah, ke masa lalu dan mengingat semua di masa lalu, suka duka semua bercampur menjadi satu dan akhirnya hanya membuat kita tersenyum, “semua telah berubah dan kita takkan bisa kembali ke masa itu. Kalaupun kembali, kita hanya melihat sisa rumah yang telah menjadi saksi bisu hidup kita”.

Tanpa disadari, sebagai manusia biasa, kita semua pasti memiliki sifat bosan dengan derajat keseringan yang berbeda-beda. Hanya di rumah, kerja di kota sendiri, tinggal di negara sendiri membuat kita bermimpi menikmati dunia luar yang biasanya menjanjikan hidup yang lebih layak. Hidup di kota besar terkesan lebih hebat dengan kerjaan yang terlihat mentereng daripada hidup di kampung halaman. Hidup di pulau lain terasa lebih menyenangkan karena adanya perbedaan kultur yang belum pernah kita tahu dan mungkin gaji kerjaan bisa lebih tinggi. Dan hidup di negara orang yang terlihat “wah” dengan gaji yang berbeda (karena mata uangnya juga berbeda) dan terkesan hebat karena otomatis pengalaman kita bertambah. Tanpa sadar, obsesi orang untuk menambah kualitas hidup dia selama di luar “rumah” (baca: daerah asal) menjadi sekedar obsesi untuk gengsi dan terlihat hebat.
Padahal, Rumah Kita yang telah lama menjadi tempat hidup kita adalah tempat yang paling banyak memberikan nilai untuk kita. Kita bisa belajar dari coretan sejarah masa lalu yang selalu mengingatkan kita akan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu kita ulang dan kebaikan-kebaikan yang seharusnya senantiasa ada di kita. Kita bisa belajar untuk mencintai keluarga kita, kerabat kita, teman-teman kita dan leluhur kita. Kita bisa belajar untuk lebih meningkatkan kualitas “rumah” kita dengan pengetahuan dan pengalaman kita.
Sejelek apapun “rumah” kita, sebobrok apapun tempat itu, semuanya pasti ada di sana. Jiwa kita, hati kita, rindu kita dan bahkan cinta kita pasti tertanam disana. Tergantung pilihan kita, apakah kita mau terus tanam dan suatu ketika akan memetik hasilnya? atau kita cabut dan kita takkan bisa memetik apapun?.
Tinggal di “rumah” adalah karunia yang tak terkira. Memanfaatkan semua yang ada disana dengan ilmu yang kita punya. Merasakan kemajuan tempat sejarah kita dengan hasil keringat generasi kita dan berlomba-lomba bagaimana meningkatkan kualitas masyarakat dan lingkungan “rumah”. Semuanya pasti ada di sana.
Jikalau pergi belajar dan cari ilmu menjadi solusi plus untuk “rumah kita”, semua itu bisa kita lakukan. Hanya sekedar “mencari” dan memberikan nilai positif untuk “rumah”. Menggerakkan kerabat yang tetap tertinggal untuk selalu semangat memajukan “rumah”. Dan suatu saat akan kembali dengan membawa perubahan yang berarti untuk “rumah” kita, bangsa kita, negara kita.
Suatu saat…
berharap secepatnya….

2 Responses to “Rumah Kita”

  1. Marhan Faishal Says:

    Rumah memang selalu tampak menyenangkan ketika kita menjauh darinya, memandangnya dari kejauhan sehingga bisa melihatnya lebih utuh. Makin besar rumah kita, makin jauh jarak yang kita perlukan untuk melihatnya utuh. Kalau kita bisa melihat sesuatu dengan utuh, pencerahan yang indah akan selalu kita dapatkan.

    Percayalah, Na, aku sudah pernah merasakannya.

  2. hasnabulan Says:

    iya mas, aku baru bisa merasakan keutuhan rumah kita setelah sampai disini.
    Mungkin ini salah satu hikmah aku terdampar disini, hehehe….

    Semoga…aku masih bisa ketemu sama rumah kita yang besar dengan utuh;)


Leave a Reply