Menulis
October 6, 2009
Setelah lama tidak menjenguk blog tercinta ini, rasanya saya seperti kehilangan sebuah rumah kreativitas. Tidak ada semangat untuk menumpahkan apa yang ada di pikiran membuat diri kita menjadi ciut dan kurang bisa menginstropeksi diri.
Seperti yang kita telah tahu sebelumnya, suatu kreativitas tidak hanya dalam benrtuk tulisan. Bisa dalam bentuk gambar, foto maupun karya fisik yang terlihat secara nyata.
Dan, setiap masing-masing individu pasti mempunyai salah satu dari sekian pilihan kreativitas itu. Percaya atau tidak? Buktikan saja!



Ada yang sama sekali tidak bisa menggambar bahkan melihat gambarpun dia tidak suka, coba saja mulai dengan mengutak-atik barang-barang recycle di rumah, siapa tahu kita bisa membuat barang bermanfaat dari sampah-sampah itu. Atau, kita suka melihat gambar dan lukisan tetapi saat disodorkan sebuah pensil gambar atau kuas melukis, hati kita langsung ciut, otak kita buntu tidak tahu mau menggambar apa. So, coba saja dunia fotografi. Jepret sana jepret sini, tidak perlu menggambar, tetapi hasilnya berupa gambar yang mengagumkan. Ada juga yang hobi memasak, mengapa tidak mencoba mengutak-atik resep sehingga menjadi resep baru yang menggoda iman. Lalu, bagaimana bila diantara kita yang sama sekali tidak suka gambar, memasak maupun mengutak-atik barang bekas di rumah?
Cobalah menulis!

Menulis adalah suatu kegiatan yang sebenarnya setiap orang bisa melakukannya. Meskipun ada beberapa orang yang mengatakan bahwa menulis juga membutuhkan bakat, tetapi tetap saja, semua orang bisa menulis. Secara pribadi, saya membuat statement di atas dengan dalih bahwa pendidikan di Indonesia dari kita Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi semuanya menuntut kita bisa menulis, baik itu menulis cerita, artikel ilmiah maupun fiksi. Bahkan beberapa anak dari preschool sudah diajari bagaimana bercerita melalui gambar dan cerita singkat
So, minat yang dari dulu sudah kita pupuk pasti masih membekas di ingatan kita, tinggal kita memulai dan mencobanya kembali. Tunggu apa lagi?
Tidak Perlu Takut!
August 24, 2009
Kabar terakhir dari Indonesia cukup membuat saya kaget dan semakin membenci suatu oknum negara tertentu yang suka mengakui hak milik negara kita. Dari lagu Rasa Sayang-Sayange, Rendang, Reog, Keris, Wayang dan terakhir adalah Tari Pendet dari Bali. Khusus tentang Rendang, di daerah saya ada sebuah restoran Malaysia yang juga menyediakan menu rendang dan mengatakan bahwa makanan itu adalah makanan khas Malaysia. Terus terang saya dongkol tetapi saya pikir yang terbaik yang bisa dilakukan yaitu mempromosikan apa yang kita punya sekarang semaksimal mungkin sehingga dunia luar tahu apa yang sedang terjadi antara Malaysia dan negara kita tercinta ini.
Sampai detik ini saya percaya pemerintah kita bisa bijaksana dan mampu menjaga apa yang kita miliki sekarang. Dan Malaysia seharusnya mulai takut untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak elok untuk mereka lakukan.
Check this videos
Video ini menunjukkan betapa pemerintah kita peduli terhadap rakyatnya
Video ini juga menunjukkan bahwa orang Malaysia sebenarnya takut dengan kita. Jawaban yang membingungkan dari pihak Malaysia cukup menunjukkan bahwa mereka benar-benar salah dalam kasus ini.
Go Indonesia!
Jangan biarkan permasalahan dengan negara ini membuat kita lupa bahwa masih banyak negara di luar sana yang lebih perlu kita perhatikan.
Welcome!
August 24, 2009

Setelah sekian lama tidak menulis, membaca, blog walking dan blog-blog an, akhirnya saya memutuskan mengaktifkan lagi blog ini dengan cerita, berita yang lebih hidup, aktual dan sekalian wadah buat curahan hati (hehe).
Jangan lupa untuk selalu mengunjungi blog sebelah di goodnewsfromindonesia.com yang berita-beritanya oke dan membuat kita lebih bangga terhadap Indonesia.
Semangat! Hwaiting! Cheerrs! Slainte!
Gambar diambil dari sini.
Film yang Salah untuk Mereka
February 19, 2009
Malam minggu kemarin secara mendadak kami manfaatkan untuk nonton film di movie theater terdekat. Movie theater sangat ramai dipadati masyarakat yang sepertinya pulang dari pesta perayaan Valentine’s Day pada hari itu. Terlihat sekilas, banyak gadis-gadis membawa setangkai bunga mawar yang saya pikir itu dari kekasih atau sahabatnya.

Beberapa menit selanjutnya kami sibuk memilih movie yang akan ditonton. Suami saya sangat hobi nonton film horor, sedangkan saya lebih senang nonton drama romantis. Setelah beradu beberapa menit akhirnya kami memutuskan nonton film thriller yang judul Friday The 13th (di Indonesia udah ada belum ya?). “Kalau liat trailernya sih, film ini sepertinya tidak terlalu menyeramkan”, batin saya meyakinkan diri. Menonton film horor di movie theater dengan gambar dan sound yang lebih mantap mambuat saya kapok nonton film horor disana untuk kedua kalinya, hehe.
Tidak seperti biasanya, ketika menyerahkan tiket ke petugas penjaga di depan lorong masuk ruangan movie kami ditanyai ID. Dengan bingung, suami menyerahkan ID yang membuktikan bahwa umur kami sudah di atas 21 tahun. Dan akhirnya kami dipersilahkan masuk.
Kami datang pada malam itu sedikit terlambat . Film sudah diputar beberapa menit yang lalu. Adegan yang menyambut kami pertama adalah sekelompok muda-mudi yang sedang berlibur dan sebagian dari mereka terlihat bermesraan dengan kekasihnya. Tak segan-segan, adeganpun berlanjut ke adegan untuk orang dewasa yang menunjukkan sebagian banyak *maaf* bagian tubuh wanita. Saya baru sadar alasan mengapa penjaga tiket tadi meminta ID. 
Beberapa saat kemudian, rombongan anak-anak kecil masuk ke dalam ruangan itu. Kami yang sedang menikmati film sontak sedikit merasa terganggu dengan riuhnya suara kecil mereka. Pandangan kami berbalik ke mereka dan kami liat ada sekitar 6-7 anak yang kira-kira usianya berkisar antar 5-10 tahun. Kami juga melihat ada sosok orang dewasa (apakah itu orang tua mereka atau bukan) yang duduknya sedikit terpisah dengan mereka.
Selang beberapa detik setelah rombongan anak-anak itu tenang, di layar movie theater terlihat ada sepasang muda-mudi yang sedang melakukan hubungan intim. Kontan saja saya langsung mengamati anak-anak yang baru datang tadi. Saya sedikit miris melihat mereka tetap menonton dengan seksama bahkan selintas melalui siluet cahaya dari layar, saya melihat ada seorang anak yang melongo melihat adegan tersebut. Menyedihkan.
Namanya juga film remaja-dewasa, adegan seperti itu tidak hanya satu atau dua kali. Bahkan pemain-pemain itu melakukannya seperti terlihat nyata. Hal lain yang bikin saya menutup mata adalah adegan pembunuhan yang dilakukan si Jason (tokoh utama pembunuhan) yang tergolong sangat keji. Cara dan strategi dia mengikuti lawan dan membunuhnya dengan biadab termasuk sikap yang sangat kejam. Menurut saya, itu bisa dikategorikan sebagai pelajaran cara pembunuhan dan penganiayaan terhebat kepada anak-anak yang masih belum mengerti mana yang baik dan yang buruk. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti anak-anak yang ada di ruangan tersebut ketika dewasa.
Beberapa menit kemudian, Read the rest of this entry »
Aku Takkan Pernah Puas
January 23, 2009
Sebut saja namaku Rita. Gadis dengan setumpuk prestasi dan keberuntungan. Tapi saya selalu merasa bahwa diriku ini termasuk sosok yang kurang beruntung di dunia. Ada kalanya saya sedih dengan diri sendiri mengapa saya tidak bahagia. Dan ada kalanya pula, saya merasa sangat tersanjung dengan semua apa yang sudah saya peroleh. Dua hal tersebut selalu berganti mewarnai hari-hariku.
Lima tahun yang lalu, saya yang masih tinggal di negara sendiri mempunyai mimpi untuk mencicipi kerasnya hidup di negara lain. Apa saja saya lakukan untuk memenuhi usaha saya. Saya berdoa tiap hari, berusaha menabung sekuat tenaga dan mencari relasi siapa tahu ada yang bersedia mensponsori saya tinggal di LN. Dan akhirnya tercapailah cita-cita itu. Betapa bahagianya saya dan keluarga.
Tapi setelah beberapa bulan di LN. Kebahagiaan itu memudar hingga akhirnya saya menyesal. Mengapa dulu saya rela-relanya berjuang untuk bisa hidup di LN. Padahal hidup di LN itu ternyata tidak mengasyikkan bahkan lebih asyik hidup di tanah air. Beasiswa sekolah saya pun rasanya sudah tidak berharga lagi. Saya menyesal mengapa dulu saya tidak apply beasiswa master di tanah air saja.
Tidak betahnya saya di LN sebenarnya dikarenakan karena banyaknya kebutuhan hidup di luar dugaan dan jumlah beasiswa yang ternyata jauh tidak sebanding. Saya seharusnya bisa bekerja untuk menambah penghasilan. Tapi sampai beberapa bulan berusaha mencari pekerjaan, tak ada satupun dosen, instansi kampus bahkan company lokal yang mau mengangkat saya jd employee. Betapa merananya hidup saya saat itu.
Hingga keberuntungan itu terjadi. Saya tiba-tiba dipanggil oleh sebuah dosen dan dipercaya menjadi asisten proyek terbarunya beliau yang bernilai ratusan ribu US dollar. Saya merasa sangat tersanjung karena tidak semua bisa menjadi bagian dalam penelitiannya itu. “Alhamdulillah”, ujar saya.
Tapi lagi-lagi, tak selang dalam beberapa hari, saya merasa menyesal menerima pekerjaan itu. Menjadi asisten suatu proyek penelitian yang bernilai ratusan ribu dollar terlalu susah untuk saya. Saya merasa tidak bisa mengimbangi jam kerjanya yang selangit, belum lagi harus se-perfect mungkin karena dosen saya perfeksionis dan beliau tidak ingin penelitiannya berakhir sia-sia. Saya merasa apa yang saya dapatkan tidak setimpal dengan apa yang saya lakukan saat itu. Karena kontrak kerja yang masih lama, akhirnya saya hanya berusaha untuk bertahan, tentu saja disertai stress yang sangat berat.
Kontrak kerja penelitian selesai. Akhirnya saya mengurutkan dada. Lega.
Selang beberapa bulan kemudian, saya kembali kelimpungan dengan jumlah uang di rekening yang semakin menipis padahal tagihan menumpuk. Lagi-lagi saya stress. “Tuhan, ada saja masalah datang. Tak relakah Kau berikanku kesenangan yang lebih lama?”, gumam saya sambil menangis.
Saya bertekad harus mendapatkan pekerjaan lagi. Apapun bentuknya dan bagaimana capeknya harus saya jalani demi kebutuhan. Dan keberuntungan memang selalu berpihak pada saya. Akhirnya saya dapat pekerjaan menjadi salah satu karyawan di library kampus. Uangnya lumayan bisa menutup kebutuhan hidup saya. Bahkan kadang lebihnya bisa saya belanjakan untuk hal-hal lain yang sifatnya tersier. Alhamdulillah, Allah masih membuka pintu rejeki-Nya lebar-lebar.
Pasti teman-teman bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Yup! Saya kembali ke peraduan kesedihan. Kali ini saya tidak menyesal seperti sebelumnya, tapi saya merasa tidak beruntung. Tidak beruntung karena walaupun udah cukup materi, masalah selalu datang silih berganti. Dari masalah rekan kerja, atasan kerja, kuliah hingga urusan keluarga. Tekanan masalah dan perasaan tidak beruntung ini akhirnya mendorong saya merasakan depresi yang amat sangat.
Yang saya sangat butuhkan saat itu tentu saja adalah seorang teman. Saya berharap saya bisa mendapat pencerahan dari teman saya. Dan ternyata, teman yang saya butuhkan tak kunjung datang. Mungkin kesibukan sangat menyita waktu mereka. Dan kejadian ini justru menyulut kemarahan saya pada keadaan. Mengapa selalu ada masalah?

Hingga akhirnya seusai berdoa, saya tiba-tiba terpaku beberapa saat. Memori saya menuntun saya kembali ke masa lalu. Berbagai bayangan suka, duka menyelinap masuk bergantian. Perasaan bahagia, tersanjung silih datang dan pergi dengan perasaan sedih dan putus asa. Apa yang saya minta sering Tuhan berikan kepada saya. Mengapa saya tidak selalu puas? Mengapa setelahnya saya justru tidak terus ingat untuk mensyukurinya. Hanya beberapa hari saya mensyukuri setelah itu mencercanya? Perasaan malu langsung menyelimuti hati saya.
“Tuhan, ampuni hamba-Mu ini. Sepertinya hamba-Mu ini bukan tidak beruntung tetapi terlalu beruntung hingga lupa dengan banyaknya nikmat yang Kau berikan dan tidak mensyukurinya. Sesungguhnya umur, keluarga, kesehatan, status hamba yang sekarang masih melekat di diri hamba ini adalah nikmat yang paling mahal tapi saya tidak menyadarinya”
*Didedikasikan untuk seorang teman yang pura-pura bernama Rita. Gambar diambil dari sini.
Fenomena Thanksgiving dan Black Friday
December 8, 2008
Kamis tanggal 27 November 2008 yang lalu, masyarakat North America merayakan Thanksgiving Day (maaf baru sempat update:-p). Berdasarkan sejarahnya beberapa puluh tahun lalu, Thanksgiving Day merupakan hari dimana masyarakan pilgrim (pendatang) merayakan pesta bersama dengan penduduk asli Amerika (Indian). Pesta tersebut sebagai ungkapan terima kasih para pilgrim kepada Indians karena mereka telah mengijinkan para pilgrim tinggal di daerahnya sekaligus mengajari pilgrims bagaimana cara bercocok tanam dan berburu. Pesta tersebut sekaligus juga ungkapan kepada Tuhan atas rahmat yang diberikan kepada mereka.
Masyarakat jaman dulu merayakan Thanksgiving dengan api unggun layaknya pasukan pramuka (hehe) bersama-sama antara orang putih dengan masyarakat asli. Sedangkan masyarakat Amerika pada jaman modern ini merayakannya dengan makan
turkey dan hidangan khas Thanksgiving seperti pumpkin pie, sweet potatoes, beberapa jenis buah dan sayuran bersama keluarga besar masing-masing. Hal itulah yang menjadikan Thanksgiving Day sebagai hari libur nasional, bahkan anak sekolah diliburkan 1 minggu penuh.
Selain makan turkey, hal yang unik pada saat Thanksgiving Day adalah BLACK FRIDAY. Black Friday adalah 1 hari tepat setelah Thanksgiving Day. Setiap tahun, Thanksgiving Day selalu jatuh pada hari Kamis pada minggu terakhir di Bulan November. Dan esok harinya hampir semua toko-toko dan sebagian besar outlet memberikan diskon besar-besaran. Dan itulah yang disebut sebagai Black Friday.
Beberapa polisi menyebut Black Friday karena pada hari itu lalu lintas padat dipenuhi orang-orang yang akan berbelanja. Sedangkan sopir bis dan taksi menyebut Black Friday karena pada hari itu banyak sekali customer yang minta diantar ke toko atau outlet untuk berbelanja. Lain lagi untuk seorang accountant yang menyebut Black Friday dengan alasan karena adanya keuntungan penjual yang meningkat tajam pada hari tersebut.
Sebagian besar masyarakat berduyun-duyun mencari diskon dengan alasan yang beragam. Sebagian besar dari mereka bertujuan mencari hadiah-hadiah untuk hari natal dengan harga murah. Tapi tak banyak juga yang hanya ingin mendapatkan suatu barang dengan harga sangat murah dibanding hari biasa bahkan ada juga yang sekedar iseng/hobi. Mereka rela mengantri 3 jam bahkan 6 jam sebelum toko buka. Toko-toko dan outlet-outlet pun buka lebih awal dari hari biasa, misalnya jam 4 pagi, jam 2 pagi maupun jam 12 tengah malam. Dan masyarakat rela mengantri dari jam 9 malam (apabila toko buka jam 12 tengah malam), jam 11 malam (apabila toko buka jam 4 pagi) dsb. Udara dingin Fall pada malam Black Friday pun bukan halangan untuk mereka. Mereka mempersiapkan diri dengan membawa selimut, alas tidur, makanan, kursi lipat bahkan mendirikan tenda pada saat mengantri. Ada juga yang berjualan kopi panas keliling pada malam itu. Pada malam itu juga saya sempatkan ambil foto di Best Buy (salah satu toko komputer dan elektronik terbesar di Amerika) dan Kohl’s (toko baju seperti Matahari di Indonesia).


Persaingan fisik terlihat pada malam itu. Mereka harus tahan dingin dan sakit saat mengantri. Semakin depan kita mengantri berarti semakin cepat kita masuk toko dan mendapatkan barang yang ingin dibeli, hal itu berarti waktu mengantri kita harus yang paling lama. Dan apa yang terjadi setelah itu? Pada saat pintu toko siap-siap mulai dibuka, orang-orang yang antrian belakang justru mendesak-desak kita yang paling depan. Tak dapat dielakkan lagi kita justru terbentur-bentur sama pintu depan toko. Kemudian, pada saat pintu toko benar-benar terbuka, bila kita tidak tahan diri kita bisa terdorong jatuh dan bisa dibayangkan kita akhirnya terinjak-injak oleh mereka. Tak heran pada tahun ini ada 1 korban pegawai toko yang meninggal karena tertindih pintu masuk yang ambruk saat orang-orang berdesakan ingin masuk ke dalam toko. Fenomena yang menyedihkan.
Pada saat kita sudah di depan barang yang kita inginkan pun persaingan tetap saja terjadi. “Siapa cepat dia dapat” hal itu yang perlu diingat-ingat. Tangan-tangan kekar kita harus cepat menjangkau barang yang kita inginkan. Kita harus menjangkau barang tersebut tanpa memilih dan langsung membawanya ke kasir. Tahun ini di daerah California juga telah terjadi penembakan di antara dua orang yang berebut barang saat di dalam toko.
Banyaknya korban yang jatuh inilah yang membuka pikiran saya mengapa saya repot-repot ikut mengantri di depan toko seperti mereka. Keuntungannya, saya memang bisa mendapatkan barang dengan harga murah hingga 80% dari harga biasa. Tetapi resikonya saya bisa jatuh, masuk rumah sakit, sakit bahkan meninggal. Belum ada jaminan juga saya bisa mendapatkan barang yang saya inginkan. Banyak juga orang-orang yang telah mengantri beberapa jam saat Black Friday pulang dengan tangan kosong.
Satu hal lagi, mengapa seorang accountant menyebut Black Friday seperti yang sudah saya katakan di atas? Karena pada saat itu, penjual justru mendapatkan untung yang berlipat ganda walaupun dia menurunkan harga jual besar-besaran. Selama satu tahun penuh seorang penjual dapat dikatakan defisit karena harga jual tidak dapat menutupi modal dan biaya operasional. Sedangkan pada saat Black Friday, harga jual diturunkan hingga 50 bahkan 80% tetapi biaya operasional juga diturunkan . Contoh kasus, pada hari biasa pegawai yang dipekerjakan ada 10 orang tetapi pada Black Friday orang yang dipekerjakan cuma ada 2 orang. Semisal pada Black Friday, gaji 2 orang adalah 2 x 7 jam x $10= $ 140 sedangkan pada hari biasa 10 x 7 jam x $10=$700. Kalaupun gaji pegawai dinaikkan hingga $15/ hour, biaya operasional tetap bisa menghemat sekitar $450an. Oleh karena itu, keuntungan dari harga jual yang sangat sedikit dapat tergantikan penuh dengan biaya operasional yang sedikit pula sehingga laba bersih yang diperolah justru berlipat-lipat dari hari biasa. Kondisi inilah yang menyebabkan laporan keuangan yang biasa ditulis dengan tinta merah karena rugi menjadi ditulis dengan tinta hitam karena untung sehingga dinamakan Black Friday.
Entah tradisi di Amerika ini bakal bertahan sampai kapan. Hingga sekarangpun pemerintah justru mendukung progam ini karena alasan ekonomi. Sehingga yang jadi pertanyaan, kapan masyarakat akan terbuka matanya melihat fenomena seperti ini? Let’s wait and see sajalah:D.
Foto pertama diambil dari sini.
I Wear Hijab (insyaAllah) for Everything, not for Nothing!
November 30, 2008
Saya berfikiran menulis tentang hal ini setelah membaca blog tetangga disini. Entah mengapa dari tulisan tersebut saya merasakan betapa sulitnya melawan berbagai budaya asing yang sangat berbeda dengan sunnah agama dan budaya daerah asal kita. Salah satu halnya adalah budaya berpakaian. Budaya asing mengajarkan pada kita bahwa fashion adalah segala-galanya. Fashion yang tidak ketinggalan jaman tentu saja yang selalu up to date, modis dan nyaman dipakai (contoh: kalau summer/musim panas, orang-orang akan memakai baju pendek plus tipis). Sedangkan sunnah agama dan budaya kita mengajarkan bahwa fashion adalah sesuatu yang harus kita perhatikan kenyamanannya, kebersihannya dan kesopanannya tanpa mengurangi jumlah aurat yang semestinya tertutup. Nyaman dipakai kalau tidak menutupi aurat yang semestinya tertutup berarti sama saja tidak sesuai dengan agama dan budaya. Begitu teorinya.
Sedangkan kenyataannya tidak seperti itu. Mengikuti fashion adalah hal pokok daripada memikirkan tentang budaya dan sunnah agama. Bahkan sekarang di Indonesia banyak perempuan-perempuan yang berjilbab sekedar mengikuti trend. Sehingga seringkali kita mendengar, “Berjilbab ga berjilbab sama saja. Itu cuman masalah fashion”. Nah loo???
Banyak perempuan yang takut memakai jilbab salah satunya karena melihat fenomena itu. Jilbab bukan sesuatu yang pokok untuk agama karena buktinya banyak yang memakai jilbab tapi secara kualitas agama sama saja dengan yang tidak pakai jilbab. Dan bahkan mereka takut apabila memakai jilbab tetapi tidak berubah menjadi baik nantinya justru akan menjelekkan agama.
Dari pengalaman pribadi di negara yang budayanya jauh dengan sunnah agama Islam, berjilbab adalah hal yang sangat membantu saya dalam segala hal salah satunya adalah masalah sholat. Kendala susahnya masjid di Amerika ini memaksa kita untuk sholat dimana saja dan dalam kondisi apa saja. Di mobil, duduk di kursi, di rumah teman, di sekolah, di tempat kerja, di bus maupun di kereta. Alhamdulillah, Allah memudahkan kita dengan tayamum. Andai kata kita perempuan yang tidak berjilbab betapa sulitnya kita saat harus sholat. Yang terjadi justru kita akan menundanya sampai kita menemukan masjid atau cari tempat yang benar-benar bisa ganti baju dan memakai hijab. Dan bila malas karena terlalu ribet, tak sadar kita benar-benar meninggalkan sholat. Sedangkan kalau kita berjilbab, kita tinggal ambil tayamum, membenarkan kaos kaki, hijab lalu sholat.
Yang kedua adalah lebih mudah menghindari dunia hedonism. Setiap minggu, dunia fashion di negara ini selalu berganti. Minggu ini celana sepaha dengan kancing di samping, minggu depannya rok mini dengan kancing jarang-jarang di bagian depan, minggu depannya ada lagi. Setiap weekend juga banyak tempat-tempat clubbing berkeliaran di seantero kota. Berapapapun banyaknya uang yang kita punya mungkin akan habis kalau tiap minggu kita berpesta pora disana. Dunia jauh lebih kejam daripada seekor rayap yang sedang menggerogoti rumah kayu kita. Sedangkan bila kita berjilbab, betapa kita lebih mudah menahan hawa nafsu kita untuk ikut-ikutan masuk ke dunia seperti itu. Kita akan lebih berhati-hati memilih fashion yang cocok dengan kita. Modelnya, potongannya, gayanya pasti akan kita sesuaikan dengan jilbab kita. Secara tidak langsung kita akan menghemat karena saya yakin tidak tiap minggu ada fashion yang cocok dengan pakaian berjilbab kita. Kita juga akan berpikir 50x lipat untuk memutuskan bergabung di tempat-tempat clubbing ketika weekend. Kita akan berpikir, “Apa kata dunia dengan jilbab ini andai saya masuk ke dunia seperti itu?”.
Jadi, meskipun sedang di negara tidak berbudaya sekalipun, berjilbab itu sangat lah berarti buat kita. Walaupun jilbab tidak menunjukkan secara mutlak tingkat keimanan kita, tapi setidaknya dimanapun kita bisa ingat bahwa kita wajib menjaga aurat, sholat dan sunnah agama. Manusia tidak ada yang sempurna. Tapi kita harus selalu berusaha untuk menjadi/mendekati sempurna.
Semoga ini bisa membantu teman-teman yang ragu berjilbab karena sedang di negara asing.
Gambar diambil dari sini.
Birthday Party!
November 21, 2008
Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya berulang tahun. Saya tahu beberapa hari sebelum tepat hari ulang tahunnya. Tidak tanggung-tanggung, teman saya sendiri yang memberitahukan pada kami bahwa dia akan berulang tahun pada tanggal sekian dan sekalian dia mengundang kami untuk hadir di suatu restoran sore harinya.
Dengan berbekal baju yang pantas dan sejumlah dollar di dompet, saya, suami dan beberapa teman saya berangkat untuk memenuhi undangannya. Seperti layaknya orang yang berulang tahun, teman saya terlihat bahagia. Tak lupa kami memberikan ucapan doa dan nyanyian Happy Birthday to You seperti biasa. Waktu berjalan cepat. Berkumpul dengan teman-teman, bercanda gurau plus makan makanan restoran yang lezat membuat kami semua bahagia juga malam itu hingga tak terasa malam semakin larut.
Ketika mendekati waktu jam tutupnya restoran, seorang pelayan datang menghampiri kami dan memberikan bill pembayaran apa yang telah kami pesan. Sekian ratus dollar yang tertera di bill yang saya lihat sekilas cukup membuat saya kasihan sama teman saya yang berulang tahun. “Gila, boros banget nih anak. Party ulang tahun gini aja habis ratusan dollar. Busyeeet”, batin saya.
Tak lama kemudian,
“Hey, iuran-iuran!”, salah satu teman saya mengucapkan kata yang tidak asing bagi saya saat saya masih jadi mahasiswa di Indonesia dulu.
“Iuran?hm?”, tanya saya polos.
“Iya, iuran. Loe tadi makan apa aja sih? Catat aja habis berapa. Kalau lo ga ada uang cash, kita barengan aja dulu pakai kartu kredit gue. Tar kapan-kapan loe bayar ke gue. Ok?”, kata teman yang duduknya di sebelah saya.
Saya benar-benar tidak mengerti apa maksut dari semua ini. Saya turuti dulu aja apa yang dibilang teman yang ada di sebelah saya, setelahnya saya bisa bertanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian teman saya bilang, “Di sini memang kaya gini. Kalau ada yang ulang tahun, mereka mengundang kita di restoran trus kita bayar sendiri-sendiri. Teman-temannya justru berkewajiban bayarin orang yang sedang ulang tahun, bukan yang ulang tahun yang harus bayarin teman-temannya. Mereka beranggapan bahwa yang ulang tahun yang seharusnya bahagia bukan malah sebaliknya. Kalau yang ulang tahun yang bayarin uang makannya, kan pasti dia pusing mikirin uangnya”.
Wah? Bener juga ya?
Bandingkan saja dengan budaya kita, Orang Indonesia! Setiap ulang tahun, kita diminta mentraktir teman-teman, saudara-saudara kita. Kalau yang lagi apes, kita disiram rame-rame pakai air rendaman cucian berumur 3 hari plus telur busuk plus tepung, saos, kecap dan sejenisnya. Tanda kasih sayang orang-orang kita seakan dibudayakan dengan sesuatu yang mengenaskan, hehe.
Mungkin kita tidak akan melakukan hal seperti yang teman saya lakukan yaitu mengundang teman tapi mereka sendiri yang mesti bayar makanannya. Kalau tidak mau mengeluarkan duit, paling tidak minta doa saja. Atau kita bisa juga tetap mengadakan party kecil walaupun sederhana.
Ada budaya yang terkadang jauh dari nalar kita sebagai Orang Indonesia. Tidak semuanya harus masuk ke diri kita tapi tidak pula semuanya harus ditolak. Memilih mana yang terbaik untuk kita itu yang sangat utama.
Hati-hati ya kalau diundang teman ulang tahun. Siapkan uang secukupnya untuk jaga-jaga, siapa tahu teman yang mengundang kita menganut paham ini, hehe.
Tragedi Buble Milk Tea
October 7, 2008
Sekilas cerita, di Amerika restoran-restoran dan toko China sudah menjamur dimana-mana. Dimanapun anda berada di negara itu, tak secuil tempatpun yang tidak mempunyai restoran atau toko China. Bahkan sekarang, banyak bule yang sangat doyan makanan-makanan China. China benar-benar telah masuk dalam kehidupan dan budaya masyarakat di negara itu.
Begitupun dengan saya. Sama-sama Asia, makanan China tak jauh berbeda dengan makanan Indonesia. Bumbu dan rasa sedikit mirip dengan selera Indonesia. Akhirnya, tak ada makanan Indonesia, makanan China pun jadi. Selain itu, makanan China identik dengan harganya yang miring sehingga kami tak perlu berpikir lama lagi untuk membeli disana.
Hingga suatu hari. Tragedi Buble itu terjadi…
Setelah puasa penuh 29 hari (-10 hari karena alasan kewanitaan), saya ngidam banget minum “Buble Milk Tea Mango Flavour”. Hummm, yummy banget. Karena alasan waktu mepet, suami tidak mau mampir ke warung China Buble, dia lebih prefer makan California Roll di warung berbeda. Dan pada akhirnya, saya memaksakan diri tetap beli Buble Milk Tea idaman. Saya rela jalan kaki sambil lari2 kecil dari warung yang jual California Roll ke warung Buble Milk Tea.
Dan ternyata, warung Buble itu sedang penuh customer. Saya maklum karena waktu itu memang Lunch Time, jadi saya sedikit sabar menunggu. Buble Milk Tea adalah sejenis minuman komplikasi antara susu, black tea dan flavour dipadukan dengan Buble (semacam bulatan yang terbuat dari tepung tapioka dan pewarna hitam, mirip dengan Cincau di Indonesia). Selang beberapa menit, si penjual pun tidak melayani saya. Resah menunggu, akhirnya saya memutuskan tidak jadi memesan. Pada saat si penjual tahu saya mulai tak sabar menunggu, akhirnya dia menanyakan apa yang mau saya pesan dan bilang “Oke, I’ll be back”.
???
Saya pikir, setelah bertanya apa yang saya pesan dia langsung melayani saya tapi ternyata dia justru melayani beberapa orang bule yang juga datang di tempat itu.
Oups?
Antri dong!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Saya menggerutu dalam hati. Ini Amerika boo!!! Disini budaya antri jauh lebih tertib daripada di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Bodohnya, waktu itu saya hanya diam, melihat fenomena yang tidak biasa saya lihat di negara maju ini dan tentu saja sambil menggerutu dalam hati. Orang China lebih mengutamakan bule daripada saya yang berperawakan Asia? Itu masalah yang baru saya tahu disini.
Orang-orang bule, apalagi bule Amerika adalah orang-orang yang menomersatukan service di semua tempat terutama restoran. Mereka pikir mereka mengeluarkan duit untuk makan di restoran itu dan selayaknya restoran itu menjamu mereka dengan penuh. Restoran harus melayani mereka, memberikan makanan yang enak, bersih dan terjamin. Mereka akan menuntut bila apa yang didapatkannya tidak setimpal dengan apa yang dia bayar. Dan bahkan mereka berani mengancam untuk tidak ke restoran tersebut bila hal-hal buruk telah terjadi.
Sedangkan orang Asia apalagi seperti saya yang baru datang yang masih lengket sikap nrimonya? Orang Asia cenderung akan menerima apa yang terjadi dan tidak “berani” memberikan tekanan pada orang lain yang sebenarnya orang lain itu merugikan kita. Sebagian besar dari orang-orang seperti saya akan menerima begitu saja pesanan makanan yang salah (= kurang sempurna dari yang diinginkan) dan membayarnya, memberikan toleransi dengan, “Ya sudahlah, kasihan masnya, udah bikinin susah-susah, tar kalau dibuang makanannya, mubadzir juga”.
Dan hal itu telah dipelajari oleh penjual Buble Milk Tea yang saya datangi tempo hari itu. Dia rela mengorbankan perasaan saya demi tidak menerima umpatan dan ancaman dari bule yang ada di warung tersebut. Dia tahu saya tidak akan mengumpat atau mengancam dia, dia tahu saya akan tetap sabar menunggu pesanan saya.
Hingga akhirnya, pesanan yang saya terima tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Buble Milk Tea diganti dengan Buble Tea (tanpa susu). Saya hanya mengeluh, tanpa berniat untuk minta ganti yang baru karena saya pikir kalau saya minta ganti, berapa lama lagi saya harus menunggu di warung itu? Saya pikir, apa salahnya sekali-sekali mencoba Buble Tea tanpa susu? (Lagi-lagi, pikiran orang yang nrimo).
Sruuut…
*&%$^%$*^%*^(*_)(_)(^%$#
Astagfirullah, lagi-lagi rasanya jauh dari bayangan saya. Buble Tea Mango Flavour yang saya minum hanya berasa seperti air putih yang sedikit asam dan pahit. Sedangkan Buble Tea Orange Flavour yang juga saya pesan seperti Juice Orange yang asamnya bukan maen.
Sejak saat itu saya memutuskan tidak lagi pergi ke warung itu dan berusaha belajar berani mengatakan apa yang saya mau dan menuntut apa yang seharusnya menjadi hak saya. Pembeli adalah raja dan saya seharusnya berhak melakukan apa saja sesuai dengan apa yang saya bayar. Masuk ke lingkungan baru tidak sepatutnya membuat kita takut untuk berani bertindak.
Ramadhanku….
September 23, 2008
Tak terasa hari ini adalah hari ke-23 Ramadhan. Ramadhan pertama di negara asing, Ramadhan pertama jauh dari orang tua dan keluarga besar, Ramadhan pertama di Negara Adigdaya dan Ramadhan pertama bersama suami^-^. Banyak judul untuk Ramadhan saya tahun ini.
Tapi, banyak yang terasa hilang di Ramadhan saya tahun ini. Bahkan saya terkadang merasa bahwa bulan ini bukan Bulan Ramadhan. Ibadah sunat yang utamanya dijalankan saat Ramadhan pun (seperti tarawih, tadarus, sholat lail dan sholat sunnah yang lain) tidak bisa dijalankan secara penuh apalagi dengan khusyuk.
Banyak teman, relasi saudara yang kebetulan Muslim sering mengeluh kecapekan ataupun tidak punya waktu untuk melakukan ibadah-ibadah tambahan seperti itu. Rutinitas kerja tiap hari yang sangat memakan waktu membuat mereka semakin malas untuk beribadah paket Ramadhan tersebut. Bahkan, sebagian besar dar mereka berargumen, “Sudah sholat wajib 5x sehari saja sudah baik kok”. La trus, bedanya apa dong sama ibadah di bulan bukan Ramadhan?.
Di Indonesia, suasana Ramadhan terasa sangat berbeda dengan bulan biasa. Tiap malam, orang-orang berduyun-duyun ke masjid, ke musholla dengan memakai sarung/ mukena. Shalat Isya bareng diteruskan tarawih dan mengaji. Pagi harinya, Sholat Shubuh beerjamaah disertai kultum pagi dan tadarus. Anak-anak muda yang sedikit enggan beribadahpun tetap ikut meramaikan Ramadhan dengan membuat letusan-letusan petasan yang bikin telinga sakit. Sedangkan disini, adzan Maghrib pun tidak ada (kalaupun ada karena kita install langsung dari internet). Bahkan, hari ini tadi saya keasikan makan sahur dan ga tahu kalau ternyata sudah masuk waktu shubuh, ketahuannya pas adzan udah selesai, hehe (lumayanlah…itu berarti rejeki saya ^-^). Sholat taraweh bisa dibilang seminggu 3 kali, itupun kalau kita mau menempuh perjalanan 1,5 jam-an by mobil and subway ke Kedutaan Indonesia. Bisa juga ke masjid terdekat, tapi tetap butuh 1 jam-an by mobil kalau kesana. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di rumah saja dengan catatan kalau sedang tidak malas dan sibuk dengan sesuatu. *huffhhh…..*
Selain itu, lingkungan yang kurang mendukungpun, saya lihat juga sangat mempengaruhi pola ibadah disini. Mau Taraweh? Sholat sendirilah. Kalau malas? Ya sudah deeeh, tutup sajadah, lipat rukuh, tidur deeeh (grook^-grook^). Mau ngaji? Juga sama aja…
Bener banget sama yang dibilang orang-orang. Tinggal di Negara Lain lebih banyak godaan dan rintangannya. Kita harus selalu memotivasi diri kita untuk selalu melakukan hal- hal yang positif termasuk beribadah.
Semoga kita semua yang disini selalu diberi kekuatan iman ya…
Amin.
Happy Fasting ^-^
Apa Jadinya Kalau….
August 27, 2008
“Bulan…coba pikir, setiap hari restoran ini kira-kira ada 30 customer. Kalau setiap customer memesan makanan sekitar $20an aja. Maka setiap hari, restoran ini dapat duit $600. Kalau sebulan bisa dapat $18.000. Itu baru dihitung sangat-sangat minimal. Belum lagi kalau ada tips, belum lagi kalau pas rame, belum lagi kalau……..bla…bla…bla…jadi restoran ini bisa dapat…bla…bla…bla..” (sambil pencet-pencet kalkulator).
Begitulah kira-kira gambaran apa yang dilakukan suami ketika masuk dalam sebuah restoran yang baru kami kunjungi.
Melihat sekeliling, melihat kasir, mengamati jumlah makanan yang dibeli customer saat kami ada disitu kemudian melihat menu dan mengeluarkan kalkulator.
1234567899101112…..
angka angka angka dan angka…
Saat ini, kami sedang bingung memilih apakah kami sebaiknya mengganti provider telp selular dengan plan (sistem kontrak/pasca bayar) ke provider dengan prepaid (seperti prabayar di Indonesia). Menimbang baik buruknya, rugi tidaknya dan bagaimana masalah fasilitas-fasilitas yang ditawarkan. Pada umumnya, kita hanya melihat sekilas dari bulan ke bulan gimana tagihan telp, apakah kita rugi karena membuang banyak jatah telp atau tidak. Tapi yang terjadi suami justru membuka lembaran-lembaran tagihan, mengamati angka-angka satu persatu dan meminta saya untuk menyalin dalam Microsoft Excel.
Angka- angka itu nantinya akan dihitung rata-ratanya dan dilihat selisihnya.
(huehuehue..b-u-s-y-e-t)
hm….
Saya pikir, bagaimana ya jadinya kalau suami kita lawyer?
(“Wah seharusnya restoran ini salah. Berdasarkan hukum, dia itu tidak boleh menjual makanan sembarangan. Dia tidak boleh mempekerjakan orang-orang ilegal”)
kalau suami kita desainer interior?
(“Restoran ini seharusnya penataannya bisa lebih rapi dengan kursi yang dihadapkan ke depan…bla..bla…”)
kalau suami orang kesehatan?
(“Jangan beli makanan disini mama, dsini makanannya tidak sehat. Tuh lihat, banyak MSG nya. Liat nih, makanannya ada pengawetnya atau tidak”)
kalau suami ahli gizi?
(“Yah..nasi segini sih kalorinya cuman 30. Kamu mesti makan daging yang lebih banyak lagi. Makan tougenya juga untuk kesuburan. Trus…dihitung dulu kalau touge segitu berarti kamu hanya dapat vitamin sebesar…”)
Oalaaaah….
Gimana kalau kalian?
*Gambar diambil dari sini.
Minuman Kolaborasi ^-^
August 21, 2008
Hemmm,,,yang suka beraneka macam minuman, minuman kolaborasi ala suami saya ini sepertinya layak dicoba.
Rasanya manis, karena ada gulanya.
Rasanya “sedikit” pahit karena ada tehnya.
Rasanya asam karena ada Calpico Non-Carbonated Concentrate. (maaf nyebut merk ^-^)
Rasanya segar karena ada susu sapinya.
Lengkap kan?
Dan semua rasa tumplek blek ada disini. Ga heran, setiap pulang kerja, si emas minta dibuatin^-^ (saya aja doyan, hehe).
*Note: Calpico hanya sebuah merk. Kl ada merk lain, bisa dicoba kok. Kebetulan aja kemarin pas nyoba pakai Calpico dan sukses.
Kun Fayakun tak mudah ditebak
August 21, 2008
Huehuehue…
Telat ga ya kalau baru cerita tentang film ini? (maafkan saudara-saudara, film ini baru ada di You Tube. Maklummm, disini engga ada yang namanya Bioskop Film Indo, hwaaaaa)
Dari judulnya aja, udah ketahuan banget, Kun Fayakun adalah film yang bernafaskan Islam. Sebagian besar mungkin tidak tertarik karena dipikirnya film ini membosankan seperti ceramah. Terus terang, awalnya saya pun juga tidak terlalu tertarik (Mhh..mungkin, ini salah satu kesalahan tim creative yang tidak jeli memilih judul), tapi rasa penasaran saya terus memaksa dan akhirnya saya teruskan niat menonton film ini.
Ketika lihat judul dan ringkasan ceritanya, “Mhhh…kayanya film ini ceritanya sedih. Kemiskinan, tangisan, rintihan, kebodohan dan kekejian orang kaya kepada orang miskin”. Saya semakin ragu untuk menonton. Tapii…kok jadi penasaran banget ya?
Akhirnya…
Setiap kali adegan, seperti biasanya saya selalu menebak jalan cerita lanjutan film. Tebakan saya, pasti setelah adegan seharian berjualan frame kayu, si bapak tetap bersedih karena jualannya tidak laku sama sekali. Pasti bapak-bapak yang di mushola itu akan memberi duit banyak, sebanyak yang bapak penjual inginkan. Pasti setelah itu, mereka akan kaya karena menang undian atau mendapat harta warisan tak terduga. Pasti…
Halah…
Kebiasaan saya menebak setiap kali menonton film semakin hari semakin parah (keliatan banget ya kalau pengin jadi sutradara tapi belum kesampaian, hehe).
Dan ternyata, apa yang saya tebak sama sekali tak nyangkut di film itu. Dan tak ada satupun yang mirip dengan dugaan saya. Jalan ceritanya mengalir apa adanya. Dibuat-buat tapi tak terlalu terlihat seperti dibuat-buat. Banyak ceramah yang diselipkan di film namun tanpa kesan menggurui. Bahasanya simple, saya yakin, siapapun akan mengerti dengan jalan cerita film.Dan satu hal yang saya paling garis bawahi adalah nilai-nilai islamnya benar-benar masih terbawa dan terasa dalam film. Kalau teman-teman semua ingat, film Ayat-Ayat Cinta yang sempat membumbung di Perfilman Indonesia dan terlabel dengan film islami ternyata masih ada adegan gandeng tangan dan sejenisnya. Walaupun dalam film dikisahkan hal itu terjadi antara suami istri tapi tetap saja yang main bukan suami istri kan?Nah…dalam Kun Fayakun, tak satupun adegan seperti yang saya contohkan terjadi walaupun dalam film juga dikisahkan Desi Ratnasari adalah istri dari Agus Kuncoro. Memang sedikit terlihat kaku, tapi bisa dibungkus rapi dengan jalan cerita yang natural.
Selain, Kun Fayakun, saya sangat banget merekomendasikan juga film “Mereka Bilang Saya Monyet”. Walaupun itu film udah termasuk jadul (dikeluarkan sekitar tahun 2007), tapi saya yakin banyak dari temen-temen yang belum menonton karena film tersebut memang sedikit terlihat eksklusif. Jalan cerita film “Mereka Bilang Saya Monyet” ini juga tergolong susah ditebak (versi saya, hehe), tak heran bila film ini berkali-kali menjadi nominator dalam Ajang Perfilman.
Bravo Film Indonesia…
Housewife
July 24, 2008
Sebenarnya ini bukan cerita pengalaman hidup saya sih, bukan juga berdasarkan observasi lapangan, tapi cerita ini hanya berdasarkan pada asumsi beberapa orang wanita pada umumnya, yang kebetulan saya kenal.
“Jangan jadi housewife sejati cah ayu”, pesan seorang ibu pada saya.
Saya hanya mengangguk-angguk, mencoba mencermati apa yang dia katakan tadi.
Lalu saya bertanya, “Kenapa tante?”.
“Karena bila menjadi housewife sejati, itu adalah awal dari keretakan rumah tanggamu. Selain itu, kamu tidak punya tumpuan selain suamimu, kalau ada apa-apa kamu pasti menjadi takut bertindak”.
Kemudian orang yang saya panggil tante itu bercerita banyak hal tentang orang-orang di sekitarnya yang sebagian besar mengalami keretakan rumah tangga akibat adanya perselingkuhan dari pihak suami, beban rumah tangga yang berat hingga ada yang mau bunuh diri.
Sekali lagi, saya hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, walaupun dalam hati saya tidak percaya mutlak dengan apa yang ibu itu bilang.
“Lalu, kalau misalnya suami kita tidak mengijinkan kita bekerja karena kita harus mengurus anak itu bagaimana tante solusinya?”, pertanyaanku ini menandakan bahwa aku memang masih penasaran dengan apa yang dia ceritakan.
Dengan tegas ibu itu bilang, “Yaaa, paling tidak kamu bisa melakukan hal-hal keci yang menghasilkan jasa misalnya bisnis kecil-kecilan atau mungkin menjadi pekerja walaupun tak full time. Kalau anak-anak masih kecil, mungkin wajar saja kalau kita tidak bekerja, tapi kalau anak-anak sudah besar, sudah sepatutnya kita punya waktu untuk usaha”.
Yup, asumsi yang sangat tepat.
Dan lagi-lagi saya menggangguk, kali ini saya benar-benar mengerti apa yang dia ceritakan.
Berawal dari obrolan singkat, saya lalu berpikir sambil mengamati orang-orang yang setidaknya sudah berkeluarga.
Seseorang terutama wanita pasti juga mempunyai masalah dalam hidupnya tanpa terkecuali. Seorang wanita karir pasti pernah mempunyai masalah di kantor, wanita yang masih ambil sekolah, pasti juga mempunyai masalah dalam studinya bahkan wanita yang hanya di rumah (ada atau belum ada anak pasti juga mempunyai masalah).
Wanita yang sibuk dengan dunia luarnya pasti akan sangat senang ketika pintu rumahnya terbuka dan sang suami memeluk lembut serta berucap “Apa kabar sayang?”. Semua beban masalah terasa lenyap terbawa angin dan dalam sekejap wanita itu bisa berubah fungsi menjadi istri yang sempurna.
(Catatan: Mungkin, dalam kasus ini hanya dimaksutkan untuk wanita karir yang masih perhatian dengan keluarga bukan untuk wanita karir yang benar-benar karir (urusan karir adalah urusan pertama di atas urusan keluarga)).
Sedangkan wanita yang menjadi housewife sejati, sebagian besar masalah hanya ada pada dirinya sendiri. Masalah kebosanan itu pasti akan menduduki urutan pertama. Apalagi apabila wanita itu adalah wanita tipe pekerja keras dan suka tantangan. Selain itu bagi yang sudah punya anak, masalah yang mungkin adalah masalah anak-anak.
Dan, lucunya lagi, banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini adalah suami jaman sekarang yang “sedikit” pelit membagi harta kepada istri. Kalaupun tidak seperti itu, banyak juga istri yang merasa tidak enak hati meminta duit “lebih” kepada suami. Kalau hal itu benar-benar sudah banyak terjadi, dunia seakan menangis merintih. Kewajiban suami adalah memberikan nafkah seratus persen dan kewajiban istri adalah patuh pada suami dan dia berhak meminta haknya (semampu suami tentu saja).
Semakin banyak wanita karir maka semakin banyak suami yang berpikir bahwa dia tak perlu memberi nafkah 100% kepada istri dan mengakibatkan semakin banyak wanita yang dulunya hanya ingin mengabdi penuh di rumah berubah pikiran ingin menjadi wanita karir. Wanita-wanita itu takut apabila suaminya tidak mau memberi nafkah penuh karena pengaruh lingkungan dan takut bila suaminya melirik wanita karir di luar sana yang pasti tidak akan merepotkan dia karena dia tidak perlu memberikan nafkah penuh.
Dilema.
Apa arti puisi?
July 24, 2008
Hidup tanpa semangat layaknya baju tanpa benang,
Hidup selalu butuh semangat, tak kan ada baju tanpa benang,
Hidup tak kan berarti tanpa seonggok baju
Hidup tak kan terasa tanpa secuil senyum dan pengorbanan
Tanpa Hati, hidup akan terasa sebagai kapas putih yang akan selalu putih
Tanpa salah, hidup akan terasa hanya sebagai perjalanan yang membosankan
Tanpa benar, hidup akan selalu menjurang
Satu semangat satu kehidupan
Satu kesalahan berjuta kebenaran
Satu semangat berjuta impian
Berjuta impian adalah hidup
Tanpa mimpi tak ada hidup
Tak ada hidup tak ada hati
Kita harus selalu hidup karena kita punya hati
Tongkrongan Asik
June 12, 2008
Beberapa waktu lalu saya merengek-rengek pada suami saya untuk nongkrong di suatu tempat di malam hari. Saat itu saya benar-benar rindu suasana Jogja yang asyikdi malam hari dengan banyak anak muda yang nongkrong sambil “leyeh-leyeh”. Suasana Jalan Malioboro dan Boulevard UGM benar-benar suasana yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Sepertinya, refreshing tanpa duit sepersepun itu cukup membuat diri saya sangat terhibur.
Tapi alangkah sedih hati saya saat suami bilang, “Ga ada tempat yang seperti itu”.
“Masak ga ada sih?”.
“Iya, ga ada. Orang-orang disini jarang sekali yang tongkrongan di jalan kaya Jalan Malioboro gitu malam-malam”.
“Kalau di Park gimana?”.
“Yaa, kalau di park sih, biasanya orang-orang olahraga disitu. Ada satu dua orang yang duduk, tapi kalau malam ya pada pulang semua”.
“Di pertokoan gitu kek, yang orang-orang pada duduk di luar sambil ngobrol-ngorol. Aku benar-benar lagi kangen sama suasana Jogja”.
Rasa kangen saya benar-benar tidak dapat terbendungkan hingga tak sadar saya meneteskan air mata.
“Kalau di pertokoan gitu memang ada orang yang duduk-duduk disitu tapi mereka biasanya tidak nongkrong, hanya nunggu orang yang sedang belanja. Kalau di depan restoran, ada juga yang duduk-duduk disitu tapi mereka harus membeli makan dulu baru bisa tongkrongan, itupun kalau ada tempat kosong”.
“Aku hanya ingin nongkrong, tidak ingin makan”. Tak sadar, air mata ini tambah besar volumenya:(.
” Sayang, Maryland adalah bagian Amerika yang dapat julukan state keluarga karena disini sebagian besar adalah orang-orang berkeluarga dan jarang anak muda. Kalaupun mereka butuh refreshing, mereka cenderung mencari tempat-tempat yang pasti akan memberikan hiburan seperti club, restoran, game station atau bilyard centre. Beda dengan orang Indonesia yang lebih suka ngobrol ngalur-ngidul atau nongkrong tanpa tahu tujuannya apa dan dengan siapa. Orang-orang sini tidak suka ngobrol ngalur ngidul dan melakukan kegiatan yang tidak ada tujuan tertentu ”.
Penjelasan suami saya sudah tidak nyangkut di telinga. Saya benar-benar tak mau tahu bagaimana orang sini, bagaimana orang Indonesia. Yang pasti saya hanya ingin pergi ke suatu tempat nongkrong yang asik. Benar-benar kangen Jogja….







