header image
 

Tongkrongan Asik

Beberapa waktu lalu saya merengek-rengek pada suami saya untuk nongkrong di suatu tempat di malam hari. Saat itu saya benar-benar rindu suasana Jogja yang asyikdi malam hari dengan banyak anak muda yang nongkrong sambil “leyeh-leyeh”. Suasana Jalan Malioboro dan Boulevard UGM benar-benar suasana yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Sepertinya, refreshing tanpa duit sepersepun itu cukup membuat diri saya sangat terhibur.

Tapi alangkah sedih hati saya saat suami bilang, “Ga ada tempat yang seperti itu”.

“Masak ga ada sih?”.

“Iya, ga ada. Orang-orang disini jarang sekali yang tongkrongan di jalan kaya Jalan Malioboro gitu malam-malam”.

“Kalau di Park gimana?”.

“Yaa, kalau di park sih, biasanya orang-orang olahraga disitu. Ada satu dua orang yang duduk, tapi kalau malam ya pada pulang semua”.

“Di pertokoan gitu kek, yang orang-orang pada duduk di luar sambil ngobrol-ngorol. Aku benar-benar lagi kangen sama suasana Jogja”.

Rasa kangen saya benar-benar tidak dapat terbendungkan hingga tak sadar saya meneteskan air mata.

“Kalau di pertokoan gitu memang ada orang yang duduk-duduk disitu tapi mereka biasanya tidak nongkrong, hanya nunggu orang yang sedang belanja. Kalau di depan restoran, ada juga yang duduk-duduk disitu tapi mereka harus membeli makan dulu baru bisa tongkrongan, itupun kalau ada tempat kosong”.

“Aku hanya ingin nongkrong, tidak ingin makan”. Tak sadar, air mata ini tambah besar volumenya:(.

” Sayang, Maryland adalah bagian Amerika yang dapat julukan state keluarga karena disini sebagian besar adalah orang-orang berkeluarga dan jarang anak muda. Kalaupun mereka butuh refreshing, mereka cenderung mencari tempat-tempat yang pasti akan memberikan hiburan seperti club, restoran, game station atau bilyard centre. Beda dengan orang Indonesia yang lebih suka ngobrol ngalur-ngidul atau nongkrong tanpa tahu tujuannya apa dan dengan siapa. Orang-orang sini tidak suka ngobrol ngalur ngidul dan melakukan kegiatan yang tidak ada tujuan tertentu ”.

Penjelasan suami saya sudah tidak nyangkut di telinga. Saya benar-benar tak mau tahu bagaimana orang sini, bagaimana orang Indonesia. Yang pasti saya hanya ingin pergi ke suatu tempat nongkrong yang asik. Benar-benar kangen Jogja….

That’s Mine…

Cerita ini berawal di Hari Jumat, saat saya dan suami pergi ke Islamic Centre Maryland untuk Sholat Jumat.

Sudah mulai Summer, udara mulai panas dengan matahari yang bersinar terik.  Hawa yang panas bikin kita lebih labil untuk emosi. Di badan rasanya lengket karena panas yang saya rasa sangat berbeda dengan panasnya di Indonesia. Di Indonesia udara terasa panas karena matahari plus polusi, disini panas murni hanya karena matahari yang terasa lebih sangat dekat bumi.

Sesampai di masjid, saya menuju ke tempat sholat wanita sekalian mencari tempat wudhlu khusus wanita. Saya pikir, mukena yang saya bawa saya letakkan dulu di masjid daripada saya nanti kerepotan membawanya saat wudhlu.

Masuk ruangan salat for ladies,

“ups, ada meja tuh, mukenanya taruh disana saja”, pikirku. Lalu saya jalan ke arah meja itu.

(Bentuk meja kecil, kira-kira berukuran 1×0,5m, di meja tidak terlihat barang apapun selain 1 buah pisang dan 1 apel yang tergeletak).

Dengan langkah jinjit (biar tidak menganggu orang berdoa) saya mendekati meja itu. Saat saya jinjit kira-kira setengah senti dari meja tiba-tiba terdengar suara bentakan keras mengejutkan (hingga semua wanita yang akan sholat disitu melihat saya),

” Hei, that’s mine! You know, that’s mine, don’t touch it, dont take it!”

Ups, What the hack? …..

Astagfirullah!!

hasna hasna sabar sabar, sabar ya nduk, ini masjid, tahan nafas, tersenyum, jangan marah, biarkan dia mengumpat sesukanya, yang penting kamu tidak berniat mengambilnya.

Dan yang ada, “ups, im sorry mom, im just going to put my hijab” dengan senyum berlagak pilon.

Ya Allah, serendah apa saya ini sampai mau-maunya mencuri apel dan pisang?  Di rumah saja, apel sama pisang sampai kebuang-buang karena tidak ada yang makan (sombong dikitlah dalam hati).

Ampun deh ibu-ibu ini…(semoga diampuni dosanya olehNya).

Setelah sholat, saya dan suami meluncur ke suatu tempat. Sepanjang jalan, saya bercerita panjang lebar dengan kejadian barusan. Kupikir, dia akan berkomentar “marah-marah” ke ibu tersebut. Tapi ternyata dia justru berkomentar kalau orang Amerika mempunyai batasan yang jelas terhadap barang-barang miliknya. Mungkin, ibu itu marah-marah karena dipikirnya aku akan mengambil buah-buah yang dibagikan gratis oleh pihak masjid setiap hari Jumat, dia mengklaim bahwa buah di meja itu milik dia sepenuhnya karena dia yang ambil dari pihak masjid. Ada satu hal lagi, orang sini akan sangat berhati-hati dengan makanan. Mereka jijik jika ada orang lain yang mengutak atik atau bahkan hanya menyentuh makanan mereka. Mereka juga berani “to the point” bila ada yang mengancam makanan atau barang mereka. Tidak seperti di Indonesia yang kemungkinan akan melihat dulu gerak-gerik orang sebelum dia bertindak menuduh. Oleh karena itulah, ibu itu mungkin sangat takut waktu saya mendekat karena dia pikir saya akan mengambil buah itu atau saya akan menyentuh buah itu.

Suami saya bahkan menjelaskan, ada kemungkinan kalau barang itu HP atau tas, orang tidak akan berteriak ketakutan seperti itu karena dia percaya orang lain akan tahu bahwa itu pasti barang pribadi milik orang dan orang tersebut pasti tidak berani menyentuhnya.

Benar-benar paradigma baru untuk saya.

Hawa Individualism

Kehidupan masyarakat yang individual ala Amerika;

1. Tak kenal satupun tetangga rumah

2. Tak pernah bertamu satu kalipun ke masyarakat sekitar

3. Tak ada Pak Lurah, Bu Lurah, apalagi Pak and Bu RT

4. Butuh apapun, call 911 adalah pilihan terbaik daripada minta tolong tetangga

5. Tak ada satupun acara rame-rame se-perumahan atau se-wilayah kampung

6. Tentu saja tak ada ronda dan pos ronda, kalau ada maling urusan masing-masing rumah

7. Pakai baju model apapun, terserah, tak ada yang peduli

8. Ada kelainan fisik bentuk apapun, tak ada satupun yang melihat dengan sorotan mata aneh/  kasihan (seperti di Indo)

9. Mobil mogok? call 911 atau panggil mobil derek adalah pilihan lebih bijak daripada meminta tolong orang buat mendorong mobil. cttn: Mobil Derek bisa dibayar pakai Credit Card (kalau ga bawa cash), jadi ga perlu khawatir.

10. Tak kenal temen satu kelas atau satu ruang sekolah adalah hal biasa

11. Tak peduli orang itu muslim, kristen, katolik, atheis

hmm….

apalagi ya?

banyak bgt deh hawa-hawa individualism disini. Dijamin privacy anda bakal terjaga total:).

 

 

 

SSSttt…Jangan Asal Bicara!

Akhir-akhir ini aku sadar bahwa berbicara sebaiknya yang seperlunya saja karena beberapa kali aku kena komentar ‘blak-blakan’ ala Amerika yang membuatku selalu instropeksi diri. Di Indonesia dulu, orang-orang sekitarku mungkin akan lebih diam saat aku ngomong hal yang tidak sesuai dengan mereka, walaupun hati mereka sebenarnya geregetan dengan kata-kataku. Prinsip tidak ingin diperlakukan seenaknya sangat aku rasakan di Amerika meskipun baru beberapa bulan aku disini.

Akibatnya, aku jadi malas ngomong karena harus hati-hati banget. Kalau ngobrol sama orang bule, aku akan lebih banyak tersenyum, :), dengan alasan: 1. terkadang masih susah mengerti bahasa mereka  ”nih bule ngomong apa sih?”, udah pake Bhs Inggris, pake logat pula, logat Indialah, logat Eropalah, logat Chinalah, logat Jepanglah, logat Vietnamlah plus logat Black People, semuanya beda-beda cara ngomong dan spell englishnya. Kedua, ya..karena memang agak malas ngobrol panjang lebar, tar jangan-jangan si bule ini ga ngerti apa yang aku omongin? :-(. Ketiga, terkadang si bule tanpa diduga akan berkomentar yang di luar dugaan kita, waktu kita nganggap ini candaan, ternyata mereka mikir kita serius, saat kita serius, tanpa diduga mereka tertawa terbahak-bahak, yaah…mesti pintar lihat suasana. Kalau wajah mereka berubah “aneh”, buruan bilang, “im sorry, im just kidding” lalu tersenyum:). Memang, hidup di luar, bukan hanya bahasa saja yang harus kita pelajari tapi karakteristik masyarakat juga. Nah, beda…

Kecanduan

Kecanduan terhadap sesuatu pasti mengkonotasikan keburukan. Kecanduan dapat berarti kesukaan yang terlalu berlebih, tidak sesuai kadarnya dan terkadang tidak sesuai tempat dan waktu yang bijak.

Apa jadinya bila orang terdekat kita sedang kecanduan sesuatu? Bisa saja kecanduan makanan tertentu, minuman tertentu, musik tertentu, group music tertentu sampai obat-obatan tertentu (astagfirullah…). Mending, kalau kita atau orang terdekat kita itu kecanduan baca buku-buku keilmuan atau menonton acara Discovery Channel. Tapi, lagi-lagi kecanduan apapun tetap saja itu tidak positif.

Beberapa bulan terakhir ini, orang terdekat saya (baca: suami), kecanduan group  musik tertentu. Dia sedang senang-senangnya all about Korea. Dari makanan, bahasa, musik sampai group musiknya, terfavorit berasal dari negara kecil itu. Kalau saya bilang itu sudah termasuk kecanduan.

Yang paling terasa adalah kecanduan salah satu group musik bernama Wonder Girls yang semua personelnya adalah perempuan. Menurut saya, menyukai sesuatu adalah wajar. Bahkan saya pun sebenarnya juga suka dengan group musik tersebut tapi mungkin sedikit lebih terkontrol.

Setiap hari selalu menyempatkan membuka blog full about Wonder Girls walaupun hanya semenit. Pernah suatu hari, ketika beliau akan berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa tiba-tiba mampir ke laptop dan membuka wondergirls.wordpress.com, ampyuuunnnn….walaupun tidak dalam hitungan menit, saya pikir ini sangatlah tak wajar.

Kecanduan merupakan luapan dari kebiasaan kita melakukan (atau merasakan) sesuatu. Semakin sering kita melakukannya maka kita akan terbiasa dengan hal itu dan apabila suatu saat kita tidak melakukannya, hidup kita serasa tidak lengkap bahkan kita bisa merasa tidak bahagia.

kecanduan…(baca selengkapnya ya..)

Pariwisata Indonesia

Beberapa menit yang lalu saya menonton acara TV America’s Top Model edisi final. Saya sempat ‘heran’ dengan pilihan ‘panitia acara yang menentukan bahwa Thailand adalah negara pilihan untuk show off model edisi final. Kenapa Thailand? Mungkin tidak hanya acara tersebut yang menggunakan negara-negara Asia khususnya Asean selain Indonesia sebagai tempat pilihan. Negara-negara yang dituju biasanya seputar Thailand, Vietnam dan Singapore.

Pertama; Dari segi keindahan alam. Saya sangat yakin Indonesia memiliki lebih dari seribu keindahan daripada ketiga noegara tersebut.

Kedua; Dari segi budaya. Indonesia sangat jauh lebih banyak mempunyai kebudayaan-kebudayaan daerah yang mempunyai karakteristik yang sangat memukau.

Ketiga; Dari segi fasilitas. Walaupun mungkin masih kalah bila dibandingkan Singapore, paling tidak dengan Thailand kita tidak terlalu jauh tertinggal.

Keempat; Dari segi promosi/ pengenalan negara. Mungkin dari satu segi ini, kita sangat jauh tertinggal dengan ketiga negara Asean tersebut. Walaupun Indonesia tahun ini mulai mencanangkan Visit Indonesia Year 2008, tapi sepertinya hal itu belum terlalu efektif.

Mengenai Visit Indonesia Year 2008, saya cukup tertawa dalam hati bila mengetahui ada seseorang yang mengaku berwarga negara Indonesia tetapi dia tidak mengenal bahkan belum pernah mendengar motto tersebut. Apakah ini kesalahan WNI tersebut yang tidak pernah update informasi tentang Indonesia? ataukah Pemerintah Indonesia sendiri yang belum optimal mempromosikan hal tersebut? Bayangkan saja, WNI yang ada dalam negeri tidak tahu tentang hal ini apalagi WNI yang sedang ada di luar negeri atau WNI baikyang di luar atau di dalam negeri aja tidak tahu apalagi orang asing. Bila di logika secara mentah, hal itu sangat mungkin terjadi dan satu-satunya cara adalah menggencarkan ajang promosi pariwisata kita.

 Dana yang harusnya untuk promosi Bidang Parawisata mungkin lebih banyak disektorkan untuk pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi nyatanya, masyarakat juga tak kunjung sejahtera dan uang pendidikan justru semakin mahal. Yang ada justru Pejabat Dewan meminta segudang fasilitas dengan dana yang entah diambil darimana.

Saya pribadi sangat penasaran dengan masa depan Pariwisata Indonesia. Promosi negara yang tersendat-sendat ditambah masih banyaknya image buruk tentang Indonesia yang beredar di kalangan mancanegara. Sektor Parawisata yang harusnya menjadi nilai lebih Indonesia dan sumber devisa negara yang tak ternilai mungkin akan menjadi satu hal yang tak terlalu dipikirkan oleh pemerintah dan akibatnya Indonesia semakin terpuruk dengan dirinya sendiri.

 

 

Budaya yang terlewatkan

Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman panitia “Malam Budaya JBRB” pergi ke Embassy Indonesia di Washington DC untuk latihan tari (panitia perempuan) dan latihan kendang (panitia laki-laki). Kebetulan Embassy menyediakan berbagai fasilitas alat musik (tidak hanya kendang) di suatu ruangan seni dan kami tentu saja diijinkan untuk menggunakannya selama latihan.

Bukan Tari dan kendang yang akan saya ulas disini tetapi lebih kepada esensi dari rasa mencintai budaya asal kita. Terus terang, saya baru merasakan benar-benar menjadi WN Indonesia justru saat saya sudah di negeri orang. Saya baru terbuka matanya bahwa Indonesia itu benar-benar kaya akan kebudayaan, seni dan kemajemukan. Disini saya lebih senang melihat orang-orang yang sedang bermain angklung atau karawitan daripada saat di Indonesia dulu. Bahkan waktu di Indonesia dulu saya sedikit malu apabila melihat teman saya bermain karawitan. Lucunya lagi, saya baru tahu nama berbagai macam Tarian Indonesia justru saat saya sudah di US dan saya pun jadi tertarik berlatih tari setelah itu. Benar-benar hal yang kontradiktif.

Seharusnya kita sadar bahwa tarian dan budaya musik daerah adalah kekayaan bangsa kita dan itu mungkin yang akan menjadi satu-satunya kebanggaan kita saat negara kita benar-benar terpuruk. Jika kita sadar akan hal itu sudah selayaknya kita mulai menjaga dan melestarikannya mulai dari sekarang sebelum hal itu dirampas oleh negara lain.

Saya menyesal itu pasti. Mengapa tidak dari dulu saya menekuni dunia tari. Mengapa tidak dari dulu saya belajar karawitan dan mengapa tidak dari dulu saya gemar menyanyi gendang-gendang jawa atau musik khas daerah lainnya.

 

Menulis Tak Ada Batas…

Pernahkah anda merasa bahwa tulisan anda sangat tidak bermutu?

Pernahkah anda berpikir bahwa tulisan teman, saudara atau orang terdekat anda adalah tulisan terbaik?

Lantas, pernahkah anda merasa bahwa anda menjadi tidak berkualitas dengan mereka bila dibandingkan dari segi tulisan?

Selanjutnya anda menjadi tidak percaya diri apabila tulisan anda dibaca oleh mereka?

Pemikiran yang salah….

Sampai kapanpun dan berapakalipun, James Watt tidak akan berhenti mencoba lampu buatannya walaupun selalu gagal dan gagal, selalu diperolok dan dianggap tidak berkualitas hingga dia benar-benar menemukan lampu terbaik yang tercatat dalam sejarah. Perjuangan dia hendaknya selalu mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak akan berhenti saat orang-orang sekitar anda berpikir dan mengatakan bahwa anda tidak berkualitas. Menulis tidak akan selesai walaupun banyak orang yang mengatakan bahwa tulisan anda tidak bermutu. Tulisan akan bisa menunjukkan kualitas seseorang tetapi tidak akan bisa membunuh imajinasi seseorang seburuk apapun.

Be creative!!!

Belajar dari Kite Festival

Di setiap tahun, masyarakat sekitar D.C. US menyambut awal Spring dengan tradisi Cherry Blossom. Masyarakat berbondong-bondong ke pusat keramaian di daerah D.C. Monument melihat kerumunan pohon Cherry yang sedang berbunga. Kadang, disana juga ada festival yang beberapa orang dari berbagai belahan dunia unjuk gigi dengan atraksi yang khas negara masing-masing. Tradisi rutin yang sederhana tapi cukup seru dan banyak diminati masyarakat.

Spring tahun ini, saya dan keluarga juga kesana. Ini adalah pertama kalinya saya melihat tradisi Cherry Blossom. Saya berfikir, apa asyiknya liat bunga-bunga bermekaran?bukannya di depan rumah dan di pinggir jalan banyak juga? justru terkadang bunganya lebih cantik. Ternyata, bukan hanya bunga mekar yang ditawarkan pemerintah, tapi juga beberapa tempat history dan hiburan yang cukup indah.

Satu lagi. Saat kami datang, ada Kite Festival yang dapat diikuti oleh masyarakat dari segala umur (batita sampai kakek jompo). Kite Festival ini juga terkesan sederhana. Hanya layang-layang kok bisa jadi festival? Entahlah, aku pikir itu tidak menarik. Di Indonesia juga pernah ada, tapi saya tidak pernah tertarik sama sekali. Ternyata (lagi-lagi), Kite Festival yang terlihat simple dan tidak menarik bisa dikemas dengan bagus dan alhasil festival itu sangat meriah dan ramai. Bayangkan saja, hanya layang-layang yang pada prinsipnya bisa terbang ternyata dapat menjadi alat untuk mengadakan moment yang selalu digemari dan diingat masyarakat. img_0870.jpg

Di Indonesia banyak sekali layang-layang. Saya yakin semua element masyarakat Indonesia mengenal apa yang disebut layangan. Bahkan yang saya tahu, banyak juga masyarakat Indonesia yang bisa membuat layang-layang (selain tukang pembuat layang-layang tentunya). Tapi kenapa, di Indonesia, saya belum pernah mendengar ada Kite Festival yang banyak diminati oleh semua element masyarakat. Yang ada, mungkin hanya Festival Layangan 17 Agustusan dan itu mungkin hanya sebatas masyarakat terdekat yang menonton. Kalaupun ada yang bagus dan qualified, masyarakat harus membayar uang tiket masuk yang lumayan buat kantong tipis dan hasilnya, masyarakat jadi enggan nonton lalu berkomentar, “nonton layangan aja ngabisin duit”. Kalaupun nonton festivalnya gratis, tapi kita tetap butuh duit paling tidak Rp.1000,00 untuk ke toilet umum kan?

Dari menengok acara Kite Festival di D.C ini kita bisa belajar dari berbagai aspek yang mungkin masih jarang/ belum ada di Indonesia. yaitu…

Dilema MSG (=Monosodium Glutamate)

Saya yakin anda pasti sering mendengar MSG (Monosodium Glutamate). Di Indonesia, MSG termasuk bumbu wajib yang ditambahkan di makanan. Tanpa MSG, makanan terasa hampa dan mungkin tidak menggugah selera. Banyak sekali merek MSG yang didistribusikan secara luas di Indonesia dari yang paling murah sampai yang cukup mahal (semahal-mahalnya MSG/vetsin hanya Rp.500/bungkus). Banyak ahli medis dan gizi yang mengatakan bahwa MSG yang berlebihan sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh. Akhir-akhir ini jumlah penduduk Indonesia yang menderita kanker dikatakan meningkat dengan perbandingan 1 dari 4 orang terkena kanker (buka situs 1 di akhir tulisan).

Pada saat saya masih kecil ibu sangat melarang saya untuk membeli snack semacam chiki, taro dan sebagainya. Saat saya mengerti mengapa ibu saya melakukan hal itu pada saya, saya justru bersyukur dan dengan kesadaran sendiri saya selalu berusaha menghindari sebisa mungkin MSG pada makanan. “No MSG” adalah mutu saya saat makan.

Saat saya masih di Indonesia, saya sering berpesan pada ibu untuk memasak tanpa vetsin. Dan saat saya di Jogja, saya sering berpesan pada penjual makanan, “mas, pesen nasi goreng pedes, ga pakai vetsin ya”. Walaupun saya tidak tahu apakah mereka tetap menambahkan vetsin atau tidak, yang terpenting saya sudah mencoba untuk tidak ber-MSG riaimg_0867.jpg.

Dan sekarang saya tinggal di Paman Sam yang katanya merupakan salah satu negara penyumbang terbanyak jumlah pengidap kanker. Pertama kali datang ke sini, salah satu hal yang saya amati adalah kebiasaan makan masyarakat. Semua terlihat serba praktis dan cepat. Dari makanan yang siap saji, minuman berwarna yang siap diminum kapanpun dan bahkan bahan makananpun juga siap langsung dimasak. Semua bumbu telah di-marinate. Bahan-bahan sayuran yang dijual di supermarket juga tinggal dicuci atau dipotong (kalau ingin dipotong) dan dicampur bumbu yang sudah siap. Mudah, cepat dan enak. Mungkin di restoran-restoranpun juga melakukan hal yang sama dengan bumbu siap saji. saya sempat……