Malam minggu kemarin secara mendadak kami manfaatkan untuk nonton film di movie theater terdekat. Movie theater sangat ramai dipadati masyarakat yang sepertinya pulang dari pesta perayaan Valentine’s Day pada hari itu. Terlihat sekilas, banyak gadis-gadis membawa setangkai bunga mawar yang saya pikir itu dari kekasih atau sahabatnya.
Beberapa menit selanjutnya kami sibuk memilih movie yang akan ditonton. Suami saya sangat hobi nonton film horor, sedangkan saya lebih senang nonton drama romantis. Setelah beradu beberapa menit akhirnya kami memutuskan nonton film thriller yang judul Friday The 13th (di Indonesia udah ada belum ya?). “Kalau liat trailernya sih, film ini sepertinya tidak terlalu menyeramkan”, batin saya meyakinkan diri. Menonton film horor di movie theater dengan gambar dan sound yang lebih mantap mambuat saya kapok nonton film horor disana untuk kedua kalinya, hehe.
Tidak seperti biasanya, ketika menyerahkan tiket ke petugas penjaga di depan lorong masuk ruangan movie kami ditanyai ID. Dengan bingung, suami menyerahkan ID yang membuktikan bahwa umur kami sudah di atas 21 tahun. Dan akhirnya kami dipersilahkan masuk.
Kami datang pada malam itu sedikit terlambat . Film sudah diputar beberapa menit yang lalu. Adegan yang menyambut kami pertama adalah sekelompok muda-mudi yang sedang berlibur dan sebagian dari mereka terlihat bermesraan dengan kekasihnya. Tak segan-segan, adeganpun berlanjut ke adegan untuk orang dewasa yang menunjukkan sebagian banyak *maaf* bagian tubuh wanita. Saya baru sadar alasan mengapa penjaga tiket tadi meminta ID.
Beberapa saat kemudian, rombongan anak-anak kecil masuk ke dalam ruangan itu. Kami yang sedang menikmati film sontak sedikit merasa terganggu dengan riuhnya suara kecil mereka. Pandangan kami berbalik ke mereka dan kami liat ada sekitar 6-7 anak yang kira-kira usianya berkisar antar 5-10 tahun. Kami juga melihat ada sosok orang dewasa (apakah itu orang tua mereka atau bukan) yang duduknya sedikit terpisah dengan mereka.
Selang beberapa detik setelah rombongan anak-anak itu tenang, di layar movie theater terlihat ada sepasang muda-mudi yang sedang melakukan hubungan intim. Kontan saja saya langsung mengamati anak-anak yang baru datang tadi. Saya sedikit miris melihat mereka tetap menonton dengan seksama bahkan selintas melalui siluet cahaya dari layar, saya melihat ada seorang anak yang melongo melihat adegan tersebut. Menyedihkan.
Namanya juga film remaja-dewasa, adegan seperti itu tidak hanya satu atau dua kali. Bahkan pemain-pemain itu melakukannya seperti terlihat nyata. Hal lain yang bikin saya menutup mata adalah adegan pembunuhan yang dilakukan si Jason (tokoh utama pembunuhan) yang tergolong sangat keji. Cara dan strategi dia mengikuti lawan dan membunuhnya dengan biadab termasuk sikap yang sangat kejam. Menurut saya, itu bisa dikategorikan sebagai pelajaran cara pembunuhan dan penganiayaan terhebat kepada anak-anak yang masih belum mengerti mana yang baik dan yang buruk. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti anak-anak yang ada di ruangan tersebut ketika dewasa.
Salah satu barang kesukaan saya adalah buku dan karena itu saya gemar sekali ke toko buku dan perpustakaan. Entah di dalam perpustakaan saya membaca atau sekedar mainan internet, saya merasa sangat nyaman. Begitupun juga di toko buku, beli atau enggak itu urusan belakangan. Duduk di toko buku atau perpustakaan dengan segelas kopi dan ketenangan adalah hal yang saya paling sukai.
Begitupun dengan semalam tadi. Saya menghabiskan sisa hari jumat di perpustakaan kota lalu lanjut ke salah satu toko buku terkenal disini (Barnes&Noble). Beberapa jam saya ada di toko buku itu. Mencari-cari buku lalu mencari tempat duduk yang nyaman untuk membacanya. Untung saja ada kursi kosong yang sengaja untuk customer yang posisinya menghadap ke jalan kota. Saya bernafas lega.
Beberapa jam saya duduk tenang sambil membaca suatu buku. Dari awal saya tidak berniat membeli buku itu karena mahal dan saya tidak mampu membelinya. Oleh sebab itu, saya terdorong untuk memanfaatkan waktu membaca secepatnya (lol). Beberapa kursi di sebelah kanan kiri saya juga penuh dengan orang yang duduk tenang membaca buku atau majalah. Mereka mungkin berpikir seperti saya.
Di tengah-tengah waktu membaca, saya mengamati seorang cewek (seumuran saya) yang juga sedang asyik membaca. Di tangannya ada berbagai majalah gaul wanita dan buku yang saya tidak tahu itu buku jenis apa. Beberapa jam kemudian dia menerima sebuah telepon. Yang saya dengar sekilas (bukan nguping lho ya) dia sedang ditunggu seseorang di suatu tempat. Dan akhirnya beberapa menit kemudian dia pergi.
Hal yang bikin saya terkejut adalah dia meninggalkan setumpuk majalah dan buku yang sebelumnya dia baca tergeletak di situ!
Padahal, setahu saya majalah dan berbagai jenis buku (yang akhirnya terbaca oleh saya) tersebut letaknya di lantai bawah (sedangkan saya waktu itu ada di lantai atas). Gadis itu mungkin sengaja membawa setumpuk majalah dan buku untuk dibaca di lantai atas tanpa berniat membelinya dan mengembalikannya!
Gambaran sikap sederhana yang sebenarnya bisa dikategorikan dengan perbuatan mendzalimi orang lain. Kenapa? Bayangkan saja, itu toko buku yang dibangun untuk menjual buku. Orang-orang diharapkan membeli buku disana bukan membacanya. Kalau toko buku diniatkan supaya orang-orang bisa membaca buku lantas apa bedanya dengan library?
Salah satu hal yang menyenangkan disini adalah buku-buku yang dijual di toko buku 90% tidak disegel. Hal ini berbeda sekali dengan toko buku di Indonesia semacam Gramedia yang biasanya menyegel bukunya. Hal positifnya adalah sebelum membeli kita bisa memilih sebaik mungkin buku yang cocok untuk kita. Sedangkan kalau di Indonesia, kita sering tertipu dengan buku yang terlihat keren dari judul dan covernya. Buku yang terlihat keren di covernya belum tentu keren isinya kan?Kalaupun hanya diberikan satu contoh buku yang tidak disegel, hal itu sudah bagus, tapi kenyataannya buku yang tidak disegel itu pasti akan menjadi korban buku yang takkan terjual (bayangkan setiap orang calon pembeli memegang buku yang sama. Buku itu lama-lama bisa jadi usang). Dan anggap aja satu judul buku mengorbankan satu buku usang, gimana toko buku mau untung? Dilema!.
Negatifnya, apabila masyarakat tidak bisa menempatkan diri dengan kelebihan itu, lama-lama toko buku juga bangkrut. Masyarakat bisa membaca sesukanya entah nanti jadi membeli atau tidak. Masyarakat juga diberi fasilitas tempat duduk yang nyaman untuk membaca buku yang ingin dibelinya. Bila nanti akhirnya tidak membeli, saya pikir itu hak setiap customer. Tapi alangkah baiknya kita juga tahu diri batasan mana yang bisa kita lakukan. Kita membaca buku kemudian membawanya ke kasir dan membayarnya itu hal yang bagus. Tapi bila seandainya kita membaca buku dan meninggalkannya begitu saja itu sudah melampui batas. Seharusnya kita sudah berterima kasih diberikan kesempatan untuk membaca buku walaupun kita tidak diwajibkan membelinya. Apa susahnya kita mengembalikan buku yang tidak jadi kita beli ke tempat asalnya? Paling tidak ke tempat rak buku (kalau kita lupa tempat asalnya) sehingga customer lain bisa melihatnya. Selain itu, kita juga bisa meringankan pekerjaan pegawai di sana, perbuatan mulia juga kan?
Sebut saja namaku Rita. Gadis dengan setumpuk prestasi dan keberuntungan. Tapi saya selalu merasa bahwa diriku ini termasuk sosok yang kurang beruntung di dunia. Ada kalanya saya sedih dengan diri sendiri mengapa saya tidak bahagia. Dan ada kalanya pula, saya merasa sangat tersanjung dengan semua apa yang sudah saya peroleh. Dua hal tersebut selalu berganti mewarnai hari-hariku.
Lima tahun yang lalu, saya yang masih tinggal di negara sendiri mempunyai mimpi untuk mencicipi kerasnya hidup di negara lain. Apa saja saya lakukan untuk memenuhi usaha saya. Saya berdoa tiap hari, berusaha menabung sekuat tenaga dan mencari relasi siapa tahu ada yang bersedia mensponsori saya tinggal di LN. Dan akhirnya tercapailah cita-cita itu. Betapa bahagianya saya dan keluarga.
Tapi setelah beberapa bulan di LN. Kebahagiaan itu memudar hingga akhirnya saya menyesal. Mengapa dulu saya rela-relanya berjuang untuk bisa hidup di LN. Padahal hidup di LN itu ternyata tidak mengasyikkan bahkan lebih asyik hidup di tanah air. Beasiswa sekolah saya pun rasanya sudah tidak berharga lagi. Saya menyesal mengapa dulu saya tidak apply beasiswa master di tanah air saja.
Tidak betahnya saya di LN sebenarnya dikarenakan karena banyaknya kebutuhan hidup di luar dugaan dan jumlah beasiswa yang ternyata jauh tidak sebanding. Saya seharusnya bisa bekerja untuk menambah penghasilan. Tapi sampai beberapa bulan berusaha mencari pekerjaan, tak ada satupun dosen, instansi kampus bahkan company lokal yang mau mengangkat saya jd employee. Betapa merananya hidup saya saat itu.
Hingga keberuntungan itu terjadi. Saya tiba-tiba dipanggil oleh sebuah dosen dan dipercaya menjadi asisten proyek terbarunya beliau yang bernilai ratusan ribu US dollar. Saya merasa sangat tersanjung karena tidak semua bisa menjadi bagian dalam penelitiannya itu. “Alhamdulillah”, ujar saya.
Tapi lagi-lagi, tak selang dalam beberapa hari, saya merasa menyesal menerima pekerjaan itu. Menjadi asisten suatu proyek penelitian yang bernilai ratusan ribu dollar terlalu susah untuk saya. Saya merasa tidak bisa mengimbangi jam kerjanya yang selangit, belum lagi harus se-perfect mungkin karena dosen saya perfeksionis dan beliau tidak ingin penelitiannya berakhir sia-sia. Saya merasa apa yang saya dapatkan tidak setimpal dengan apa yang saya lakukan saat itu. Karena kontrak kerja yang masih lama, akhirnya saya hanya berusaha untuk bertahan, tentu saja disertai stress yang sangat berat.
Kontrak kerja penelitian selesai. Akhirnya saya mengurutkan dada. Lega.
Selang beberapa bulan kemudian, saya kembali kelimpungan dengan jumlah uang di rekening yang semakin menipis padahal tagihan menumpuk. Lagi-lagi saya stress. “Tuhan, ada saja masalah datang. Tak relakah Kau berikanku kesenangan yang lebih lama?”, gumam saya sambil menangis.
Saya bertekad harus mendapatkan pekerjaan lagi. Apapun bentuknya dan bagaimana capeknya harus saya jalani demi kebutuhan. Dan keberuntungan memang selalu berpihak pada saya. Akhirnya saya dapat pekerjaan menjadi salah satu karyawan di library kampus. Uangnya lumayan bisa menutup kebutuhan hidup saya. Bahkan kadang lebihnya bisa saya belanjakan untuk hal-hal lain yang sifatnya tersier. Alhamdulillah, Allah masih membuka pintu rejeki-Nya lebar-lebar.
Pasti teman-teman bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Yup! Saya kembali ke peraduan kesedihan. Kali ini saya tidak menyesal seperti sebelumnya, tapi saya merasa tidak beruntung. Tidak beruntung karena walaupun udah cukup materi, masalah selalu datang silih berganti. Dari masalah rekan kerja, atasan kerja, kuliah hingga urusan keluarga. Tekanan masalah dan perasaan tidak beruntung ini akhirnya mendorong saya merasakan depresi yang amat sangat.
Yang saya sangat butuhkan saat itu tentu saja adalah seorang teman. Saya berharap saya bisa mendapat pencerahan dari teman saya. Dan ternyata, teman yang saya butuhkan tak kunjung datang. Mungkin kesibukan sangat menyita waktu mereka. Dan kejadian ini justru menyulut kemarahan saya pada keadaan. Mengapa selalu ada masalah?
Hingga akhirnya seusai berdoa, saya tiba-tiba terpaku beberapa saat. Memori saya menuntun saya kembali ke masa lalu. Berbagai bayangan suka, duka menyelinap masuk bergantian. Perasaan bahagia, tersanjung silih datang dan pergi dengan perasaan sedih dan putus asa. Apa yang saya minta sering Tuhan berikan kepada saya. Mengapa saya tidak selalu puas? Mengapa setelahnya saya justru tidak terus ingat untuk mensyukurinya. Hanya beberapa hari saya mensyukuri setelah itu mencercanya? Perasaan malu langsung menyelimuti hati saya.
“Tuhan, ampuni hamba-Mu ini. Sepertinya hamba-Mu ini bukan tidak beruntung tetapi terlalu beruntung hingga lupa dengan banyaknya nikmat yang Kau berikan dan tidak mensyukurinya. Sesungguhnya umur, keluarga, kesehatan, status hamba yang sekarang masih melekat di diri hamba ini adalah nikmat yang paling mahal tapi saya tidak menyadarinya”
*Didedikasikan untuk seorang teman yang pura-pura bernama Rita. Gambar diambil dari sini.
Kamis tanggal 27 November 2008 yang lalu, masyarakat North America merayakan Thanksgiving Day (maaf baru sempat update:-p). Berdasarkan sejarahnya beberapa puluh tahun lalu, Thanksgiving Day merupakan hari dimana masyarakan pilgrim (pendatang) merayakan pesta bersama dengan penduduk asli Amerika (Indian). Pesta tersebut sebagai ungkapan terima kasih para pilgrim kepada Indians karena mereka telah mengijinkan para pilgrim tinggal di daerahnya sekaligus mengajari pilgrims bagaimana cara bercocok tanam dan berburu. Pesta tersebut sekaligus juga ungkapan kepada Tuhan atas rahmat yang diberikan kepada mereka.
Masyarakat jaman dulu merayakan Thanksgiving dengan api unggun layaknya pasukan pramuka (hehe) bersama-sama antara orang putih dengan masyarakat asli. Sedangkan masyarakat Amerika pada jaman modern ini merayakannya dengan makan turkey dan hidangan khas Thanksgiving seperti pumpkin pie, sweet potatoes, beberapa jenis buah dan sayuran bersama keluarga besar masing-masing. Hal itulah yang menjadikan Thanksgiving Day sebagai hari libur nasional, bahkan anak sekolah diliburkan 1 minggu penuh.
Selain makan turkey, hal yang unik pada saat Thanksgiving Day adalah BLACK FRIDAY. Black Friday adalah 1 hari tepat setelah Thanksgiving Day. Setiap tahun, Thanksgiving Day selalu jatuh pada hari Kamis pada minggu terakhir di Bulan November. Dan esok harinya hampir semua toko-toko dan sebagian besar outlet memberikan diskon besar-besaran. Dan itulah yang disebut sebagai Black Friday.
Beberapa polisi menyebut Black Friday karena pada hari itu lalu lintas padat dipenuhi orang-orang yang akan berbelanja. Sedangkan sopir bis dan taksi menyebut Black Friday karena pada hari itu banyak sekali customer yang minta diantar ke toko atau outlet untuk berbelanja. Lain lagi untuk seorang accountant yang menyebut Black Friday dengan alasan karena adanya keuntungan penjual yang meningkat tajam pada hari tersebut.
Sebagian besar masyarakat berduyun-duyun mencari diskon dengan alasan yang beragam. Sebagian besar dari mereka bertujuan mencari hadiah-hadiah untuk hari natal dengan harga murah. Tapi tak banyak juga yang hanya ingin mendapatkan suatu barang dengan harga sangat murah dibanding hari biasa bahkan ada juga yang sekedar iseng/hobi. Mereka rela mengantri 3 jam bahkan 6 jam sebelum toko buka. Toko-toko dan outlet-outlet pun buka lebih awal dari hari biasa, misalnya jam 4 pagi, jam 2 pagi maupun jam 12 tengah malam. Dan masyarakat rela mengantri dari jam 9 malam (apabila toko buka jam 12 tengah malam), jam 11 malam (apabila toko buka jam 4 pagi) dsb. Udara dingin Fall pada malam Black Friday pun bukan halangan untuk mereka. Mereka mempersiapkan diri dengan membawa selimut, alas tidur, makanan, kursi lipat bahkan mendirikan tenda pada saat mengantri. Ada juga yang berjualan kopi panas keliling pada malam itu. Pada malam itu juga saya sempatkan ambil foto di Best Buy (salah satu toko komputer dan elektronik terbesar di Amerika) dan Kohl’s (toko baju seperti Matahari di Indonesia).
Persaingan fisik terlihat pada malam itu. Mereka harus tahan dingin dan sakit saat mengantri. Semakin depan kita mengantri berarti semakin cepat kita masuk toko dan mendapatkan barang yang ingin dibeli, hal itu berarti waktu mengantri kita harus yang paling lama. Dan apa yang terjadi setelah itu? Pada saat pintu toko siap-siap mulai dibuka, orang-orang yang antrian belakang justru mendesak-desak kita yang paling depan. Tak dapat dielakkan lagi kita justru terbentur-bentur sama pintu depan toko. Kemudian, pada saat pintu toko benar-benar terbuka, bila kita tidak tahan diri kita bisa terdorong jatuh dan bisa dibayangkan kita akhirnya terinjak-injak oleh mereka. Tak heran pada tahun ini ada 1 korban pegawai toko yang meninggal karena tertindih pintu masuk yang ambruk saat orang-orang berdesakan ingin masuk ke dalam toko. Fenomena yang menyedihkan.
Pada saat kita sudah di depan barang yang kita inginkan pun persaingan tetap saja terjadi. “Siapa cepat dia dapat” hal itu yang perlu diingat-ingat. Tangan-tangan kekar kita harus cepat menjangkau barang yang kita inginkan. Kita harus menjangkau barang tersebut tanpa memilih dan langsung membawanya ke kasir. Tahun ini di daerah California juga telah terjadi penembakan di antara dua orang yang berebut barang saat di dalam toko.
Banyaknya korban yang jatuh inilah yang membuka pikiran saya mengapa saya repot-repot ikut mengantri di depan toko seperti mereka. Keuntungannya, saya memang bisa mendapatkan barang dengan harga murah hingga 80% dari harga biasa. Tetapi resikonya saya bisa jatuh, masuk rumah sakit, sakit bahkan meninggal. Belum ada jaminan juga saya bisa mendapatkan barang yang saya inginkan. Banyak juga orang-orang yang telah mengantri beberapa jam saat Black Friday pulang dengan tangan kosong.
Satu hal lagi, mengapa seorang accountant menyebut Black Friday seperti yang sudah saya katakan di atas? Karena pada saat itu, penjual justru mendapatkan untung yang berlipat ganda walaupun dia menurunkan harga jual besar-besaran. Selama satu tahun penuh seorang penjual dapat dikatakan defisit karena harga jual tidak dapat menutupi modal dan biaya operasional. Sedangkan pada saat Black Friday, harga jual diturunkan hingga 50 bahkan 80% tetapi biaya operasional juga diturunkan . Contoh kasus, pada hari biasa pegawai yang dipekerjakan ada 10 orang tetapi pada Black Friday orang yang dipekerjakan cuma ada 2 orang. Semisal pada Black Friday, gaji 2 orang adalah 2 x 7 jam x $10= $ 140 sedangkan pada hari biasa 10 x 7 jam x $10=$700. Kalaupun gaji pegawai dinaikkan hingga $15/ hour, biaya operasional tetap bisa menghemat sekitar $450an. Oleh karena itu, keuntungan dari harga jual yang sangat sedikit dapat tergantikan penuh dengan biaya operasional yang sedikit pula sehingga laba bersih yang diperolah justru berlipat-lipat dari hari biasa. Kondisi inilah yang menyebabkan laporan keuangan yang biasa ditulis dengan tinta merah karena rugi menjadi ditulis dengan tinta hitam karena untung sehingga dinamakan Black Friday.
Entah tradisi di Amerika ini bakal bertahan sampai kapan. Hingga sekarangpun pemerintah justru mendukung progam ini karena alasan ekonomi. Sehingga yang jadi pertanyaan, kapan masyarakat akan terbuka matanya melihat fenomena seperti ini? Let’s wait and see sajalah:D.
Saya berfikiran menulis tentang hal ini setelah membaca blog tetangga disini. Entah mengapa dari tulisan tersebut saya merasakan betapa sulitnya melawan berbagai budaya asing yang sangat berbeda dengan sunnah agama dan budaya daerah asal kita. Salah satu halnya adalah budaya berpakaian. Budaya asing mengajarkan pada kita bahwa fashion adalah segala-galanya. Fashion yang tidak ketinggalan jaman tentu saja yang selalu up to date, modis dan nyaman dipakai (contoh: kalau summer/musim panas, orang-orang akan memakai baju pendek plus tipis). Sedangkan sunnah agama dan budaya kita mengajarkan bahwa fashion adalah sesuatu yang harus kita perhatikan kenyamanannya, kebersihannya dan kesopanannya tanpa mengurangi jumlah aurat yang semestinya tertutup. Nyaman dipakai kalau tidak menutupi aurat yang semestinya tertutup berarti sama saja tidak sesuai dengan agama dan budaya. Begitu teorinya.
Sedangkan kenyataannya tidak seperti itu. Mengikuti fashion adalah hal pokok daripada memikirkan tentang budaya dan sunnah agama. Bahkan sekarang di Indonesia banyak perempuan-perempuan yang berjilbab sekedar mengikuti trend. Sehingga seringkali kita mendengar, “Berjilbab ga berjilbab sama saja. Itu cuman masalah fashion”. Nah loo???
Banyak perempuan yang takut memakai jilbab salah satunya karena melihat fenomena itu. Jilbab bukan sesuatu yang pokok untuk agama karena buktinya banyak yang memakai jilbab tapi secara kualitas agama sama saja dengan yang tidak pakai jilbab. Dan bahkan mereka takut apabila memakai jilbab tetapi tidak berubah menjadi baik nantinya justru akan menjelekkan agama.
Dari pengalaman pribadi di negara yang budayanya jauh dengan sunnah agama Islam, berjilbab adalah hal yang sangat membantu saya dalam segala hal salah satunya adalah masalah sholat. Kendala susahnya masjid di Amerika ini memaksa kita untuk sholat dimana saja dan dalam kondisi apa saja. Di mobil, duduk di kursi, di rumah teman, di sekolah, di tempat kerja, di bus maupun di kereta. Alhamdulillah, Allah memudahkan kita dengan tayamum. Andai kata kita perempuan yang tidak berjilbab betapa sulitnya kita saat harus sholat. Yang terjadi justru kita akan menundanya sampai kita menemukan masjid atau cari tempat yang benar-benar bisa ganti baju dan memakai hijab. Dan bila malas karena terlalu ribet, tak sadar kita benar-benar meninggalkan sholat. Sedangkan kalau kita berjilbab, kita tinggal ambil tayamum, membenarkan kaos kaki, hijab lalu sholat.
Yang kedua adalah lebih mudah menghindari dunia hedonism. Setiap minggu, dunia fashion di negara ini selalu berganti. Minggu ini celana sepaha dengan kancing di samping, minggu depannya rok mini dengan kancing jarang-jarang di bagian depan, minggu depannya ada lagi. Setiap weekend juga banyak tempat-tempat clubbing berkeliaran di seantero kota. Berapapapun banyaknya uang yang kita punya mungkin akan habis kalau tiap minggu kita berpesta pora disana. Dunia yang tidak lebih kejam daripada seekor rayap yang sedang menggerogoti rumah kayu kita. Sedangkan bila kita berjilbab, betapa kita lebih mudah menahan hawa nafsu kita untuk ikut-ikutan masuk ke dunia seperti itu. Kita akan lebih berhati-hati memilih fashion yang cocok dengan kita. Modelnya, potongannya, gayanya pasti akan kita sesuaikan dengan jilbab kita. Secara tidak langsung kita akan menghemat karena saya yakin tidak tiap minggu ada fashion yang cocok dengan pakaian berjilbab kita. Kita juga akan berpikir 50x lipat untuk memutuskan bergabung di tempat-tempat clubbing ketika weekend. Kita akan berpikir, “Apa kata dunia dengan jilbab ini andai saya masuk ke dunia seperti itu?”.
Jadi, meskipun sedang di negara tidak berbudaya sekalipun, berjilbab itu sangat lah berarti buat kita. Walaupun jilbab tidak menunjukkan secara mutlak tingkat keimanan kita, tapi setidaknya dimanapun kita bisa ingat bahwa kita wajib menjaga aurat, sholat dan sunnah agama. Manusia tidak ada yang sempurna. Tapi kita harus selalu berusaha untuk menjadi/mendekati sempurna.
Semoga ini bisa membantu teman-teman yang ragu berjilbab karena sedang di negara asing.
Beberapa hari yang lalu, salah satu teman saya berulang tahun. Saya tahu beberapa hari sebelum tepat hari ulang tahunnya. Tidak tanggung-tanggung, teman saya sendiri yang memberitahukan pada kami bahwa dia akan berulang tahun pada tanggal sekian dan sekalian dia mengundang kami untuk hadir di suatu restoran sore harinya.
Dengan berbekal baju yang pantas dan sejumlah dollar di dompet, saya, suami dan beberapa teman saya berangkat untuk memenuhi undangannya. Seperti layaknya orang yang berulang tahun, teman saya terlihat bahagia. Tak lupa kami memberikan ucapan doa dan nyanyian Happy Birthday to You seperti biasa. Waktu berjalan cepat. Berkumpul dengan teman-teman, bercanda gurau plus makan makanan restoran yang lezat membuat kami semua bahagia juga malam itu hingga tak terasa malam semakin larut.
Ketika mendekati waktu jam tutupnya restoran, seorang pelayan datang menghampiri kami dan memberikan bill pembayaran apa yang telah kami pesan. Sekian ratus dollar yang tertera di bill yang saya lihat sekilas cukup membuat saya kasihan sama teman saya yang berulang tahun. “Gila, boros banget nih anak. Party ulang tahun gini aja habis ratusan dollar. Busyeeet”, batin saya.
Tak lama kemudian,
“Hey, iuran-iuran!”, salah satu teman saya mengucapkan kata yang tidak asing bagi saya saat saya masih jadi mahasiswa di Indonesia dulu.
“Iuran?hm?”, tanya saya polos.
“Iya, iuran. Loe tadi makan apa aja sih? Catat aja habis berapa. Kalau lo ga ada uang cash, kita barengan aja dulu pakai kartu kredit gue. Tar kapan-kapan loe bayar ke gue. Ok?”, kata teman yang duduknya di sebelah saya.
Saya benar-benar tidak mengerti apa maksut dari semua ini. Saya turuti dulu aja apa yang dibilang teman yang ada di sebelah saya, setelahnya saya bisa bertanya sebenarnya apa yang sedang terjadi.
Beberapa saat kemudian teman saya bilang, “Di sini memang kaya gini. Kalau ada yang ulang tahun, mereka mengundang kita di restoran trus kita bayar sendiri-sendiri. Teman-temannya justru berkewajiban bayarin orang yang sedang ulang tahun, bukan yang ulang tahun yang harus bayarin teman-temannya. Mereka beranggapan bahwa yang ulang tahun yang seharusnya bahagia bukan malah sebaliknya. Kalau yang ulang tahun yang bayarin uang makannya, kan pasti dia pusing mikirin uangnya”.
Wah? Bener juga ya?
Bandingkan saja dengan budaya kita, Orang Indonesia! Setiap ulang tahun, kita diminta mentraktir teman-teman, saudara-saudara kita. Kalau yang lagi apes, kita disiram rame-rame pakai air rendaman cucian berumur 3 hari plus telur busuk plus tepung, saos, kecap dan sejenisnya. Tanda kasih sayang orang-orang kita seakan dibudayakan dengan sesuatu yang mengenaskan, hehe.
Mungkin kita tidak akan melakukan hal seperti yang teman saya lakukan yaitu mengundang teman tapi mereka sendiri yang mesti bayar makanannya. Kalau tidak mau mengeluarkan duit, paling tidak minta doa saja. Atau kita bisa juga tetap mengadakan party kecil walaupun sederhana.
Ada budaya yang terkadang jauh dari nalar kita sebagai Orang Indonesia. Tidak semuanya harus masuk ke diri kita tapi tidak pula semuanya harus ditolak. Memilih mana yang terbaik untuk kita itu yang sangat utama.
Hati-hati ya kalau diundang teman ulang tahun. Siapkan uang secukupnya untuk jaga-jaga, siapa tahu teman yang mengundang kita menganut paham ini, hehe.
Ada seorang teman yang merasa seringkali bingung menempatkan diri dalam lingkungan yang baru. Dia mengatakan bahwa dirinya selalu canggung, malu dan tidak percaya diri. Bahkan di lingkungan (baca: komunitas) yang sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi dia, tetap saja teman saya merasa tidak nyaman.
Berbagai hal menjadi alasan seseorang merasa tidak nyaman di tempat baru. Salah satunya adalah ketidakpercayaan pada diri sendiri. Dia merasa bahwa komunitas yang sedang dia hadapi itu tidak sesuai dengan dirinya. Orang yang tidak percaya diri merasa bahwa dirinya terlalu rendah untuk bisa ikut bergabung dalam komunitas di tempat tersebut, sebaliknya orang yang over percaya diri merasa bahwa dia jauh di atas tingkat dari komunitas tersebut.
Banyak hal yang melatarbelakangi rasa percaya diri yaitu tingkat pendidikan, kekayan, umur dan jabatan. Segala usia pasti mengalami siklus ketidakpercayaan diri dengan kadar dan alasan berbeda. Semakin tua dan mapan, orang akan cenderung merasa percaya diri, sama halnya dengan seseorang yang merasa berkompeten dalam suatu komunitas. Mereka merasa bahwa dirinya mampu menghandle keadaan, situasi dan bahkan tingkat emosinya sendiri.
Kata kuncinya; tidak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap hari seseorang selalu bikin salah lalu belajar. Lebih baik begitu, daripada tidak bikin salah dan tidak pernah belajar. Setiap hari bos kita, teman kita, orang tua kita marah pada kita. Kenapa? Karena menurut mereka kita bikin salah. Dan apa yang terjadi pada kita? Marah, sebal, kecewa dan tidak percaya diri. Lebih baik kita tahu kita salah, dimarahin dan belajar. Kalau kita dimarahin bukan karena kita salah, lebih baik kita yang selalu percaya diri bahwa kita memang tidak salah dan kita mesti membentengi diri kita dengan melawan mereka baik secara frontal (*plus bahasa bersusila) maupun membentengi diri dengan membiasakan perasaan yang tidak tersakiti dan tidak stres.
Mampu menghandle situasi, kondisi dan emosi diri sendiri adalah satu kunci rasa percaya diri. Dan rasa percaya diri adalah satu kunci kenyamanan kita dalam suatu komunitas/ lingkungan.
Sekilas cerita, di Amerika restoran-restoran dan toko China sudah menjamur dimana-mana. Dimanapun anda berada di negara itu, tak secuil tempatpun yang tidak mempunyai restoran atau toko China. Bahkan sekarang, banyak bule yang sangat doyan makanan-makanan China. China benar-benar telah masuk dalam kehidupan dan budaya masyarakat di negara itu.
Begitupun dengan saya. Sama-sama Asia, makanan China tak jauh berbeda dengan makanan Indonesia. Bumbu dan rasa sedikit mirip dengan selera Indonesia. Akhirnya, tak ada makanan Indonesia, makanan China pun jadi. Selain itu, makanan China identik dengan harganya yang miring sehingga kami tak perlu berpikir lama lagi untuk membeli disana.
Hingga suatu hari. Tragedi Buble itu terjadi…
Setelah puasa penuh 29 hari (-10 hari karena alasan kewanitaan), saya ngidam banget minum “Buble Milk Tea Mango Flavour”. Hummm, yummy banget. Karena alasan waktu mepet, suami tidak mau mampir ke warung China Buble, dia lebih prefer makan California Roll di warung berbeda. Dan pada akhirnya, saya memaksakan diri tetap beli Buble Milk Tea idaman. Saya rela jalan kaki sambil lari2 kecil dari warung yang jual California Roll ke warung Buble Milk Tea.
Dan ternyata, warung Buble itu sedang penuh customer. Saya maklum karena waktu itu memang Lunch Time, jadi saya sedikit sabar menunggu. Buble Milk Tea adalah sejenis minuman komplikasi antara susu, black tea dan flavour dipadukan dengan Buble (semacam bulatan yang terbuat dari tepung tapioka dan pewarna hitam, mirip dengan Cincau di Indonesia). Selang beberapa menit, si penjual pun tidak melayani saya. Resah menunggu, akhirnya saya memutuskan tidak jadi memesan. Pada saat si penjual tahu saya mulai tak sabar menunggu, akhirnya dia menanyakan apa yang mau saya pesan dan bilang “Oke, I’ll be back”.
???
Saya pikir, setelah bertanya apa yang saya pesan dia langsung melayani saya tapi ternyata dia justru melayani beberapa orang bule yang juga datang di tempat itu.
Oups?
Antri dong!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Saya menggerutu dalam hati. Ini Amerika boo!!! Disini budaya antri jauh lebih tertib daripada di negara-negara berkembang seperti di Indonesia. Bodohnya, waktu itu saya hanya diam, melihat fenomena yang tidak biasa saya lihat di negara maju ini dan tentu saja sambil menggerutu dalam hati. Orang China lebih mengutamakan bule daripada saya yang berperawakan Asia? Itu masalah yang baru saya tahu disini.
Orang-orang bule, apalagi bule Amerika adalah orang-orang yang menomersatukan service di semua tempat terutama restoran. Mereka pikir mereka mengeluarkan duit untuk makan di restoran itu dan selayaknya restoran itu menjamu mereka dengan penuh. Restoran harus melayani mereka, memberikan makanan yang enak, bersih dan terjamin. Mereka akan menuntut bila apa yang didapatkannya tidak setimpal dengan apa yang dia bayar. Dan bahkan mereka berani mengancam untuk tidak ke restoran tersebut bila hal-hal buruk telah terjadi.
Sedangkan orang Asia apalagi seperti saya yang baru datang yang masih lengket sikap nrimonya? Orang Asia cenderung akan menerima apa yang terjadi dan tidak “berani” memberikan tekanan pada orang lain yang sebenarnya orang lain itu merugikan kita. Sebagian besar dari orang-orang seperti saya akan menerima begitu saja pesanan makanan yang salah (= kurang sempurna dari yang diinginkan) dan membayarnya, memberikan toleransi dengan, “Ya sudahlah, kasihan masnya, udah bikinin susah-susah, tar kalau dibuang makanannya, mubadzir juga”.
Dan hal itu telah dipelajari oleh penjual Buble Milk Tea yang saya datangi tempo hari itu. Dia rela mengorbankan perasaan saya demi tidak menerima umpatan dan ancaman dari bule yang ada di warung tersebut. Dia tahu saya tidak akan mengumpat atau mengancam dia, dia tahu saya akan tetap sabar menunggu pesanan saya.
Hingga akhirnya, pesanan yang saya terima tidak sesuai dengan apa yang saya inginkan. Buble Milk Tea diganti dengan Buble Tea (tanpa susu). Saya hanya mengeluh, tanpa berniat untuk minta ganti yang baru karena saya pikir kalau saya minta ganti, berapa lama lagi saya harus menunggu di warung itu? Saya pikir, apa salahnya sekali-sekali mencoba Buble Tea tanpa susu? (Lagi-lagi, pikiran orang yang nrimo).
Sruuut…
*&%$^%$*^%*^(*_)(_)(^%$#
Astagfirullah, lagi-lagi rasanya jauh dari bayangan saya. Buble Tea Mango Flavour yang saya minum hanya berasa seperti air putih yang sedikit asam dan pahit. Sedangkan Buble Tea Orange Flavour yang juga saya pesan seperti Juice Orange yang asamnya bukan maen.
Sejak saat itu saya memutuskan tidak lagi pergi ke warung itu dan berusaha belajar berani mengatakan apa yang saya mau dan menuntut apa yang seharusnya menjadi hak saya. Pembeli adalah raja dan saya seharusnya berhak melakukan apa saja sesuai dengan apa yang saya bayar. Masuk ke lingkungan baru tidak sepatutnya membuat kita takut untuk berani bertindak.
Tak terasa hari ini adalah hari ke-23 Ramadhan. Ramadhan pertama di negara asing, Ramadhan pertama jauh dari orang tua dan keluarga besar, Ramadhan pertama di Negara Adigdaya dan Ramadhan pertama bersama suami^-^. Banyak judul untuk Ramadhan saya tahun ini.
Tapi, banyak yang terasa hilang di Ramadhan saya tahun ini. Bahkan saya terkadang merasa bahwa bulan ini bukan Bulan Ramadhan. Ibadah sunat yang utamanya dijalankan saat Ramadhan pun (seperti tarawih, tadarus, sholat lail dan sholat sunnah yang lain) tidak bisa dijalankan secara penuh apalagi dengan khusyuk.
Banyak teman, relasi saudara yang kebetulan Muslim sering mengeluh kecapekan ataupun tidak punya waktu untuk melakukan ibadah-ibadah tambahan seperti itu. Rutinitas kerja tiap hari yang sangat memakan waktu membuat mereka semakin malas untuk beribadah paket Ramadhan tersebut. Bahkan, sebagian besar dar mereka berargumen, “Sudah sholat wajib 5x sehari saja sudah baik kok”. La trus, bedanya apa dong sama ibadah di bulan bukan Ramadhan?.
Di Indonesia, suasana Ramadhan terasa sangat berbeda dengan bulan biasa. Tiap malam, orang-orang berduyun-duyun ke masjid, ke musholla dengan memakai sarung/ mukena. Shalat Isya bareng diteruskan tarawih dan mengaji. Pagi harinya, Sholat Shubuh beerjamaah disertai kultum pagi dan tadarus. Anak-anak muda yang sedikit enggan beribadahpun tetap ikut meramaikan Ramadhan dengan membuat letusan-letusan petasan yang bikin telinga sakit. Sedangkan disini, adzan Maghrib pun tidak ada (kalaupun ada karena kita install langsung dari internet). Bahkan, hari ini tadi saya keasikan makan sahur dan ga tahu kalau ternyata sudah masuk waktu shubuh, ketahuannya pas adzan udah selesai, hehe (lumayanlah…itu berarti rejeki saya ^-^). Sholat taraweh bisa dibilang seminggu 3 kali, itupun kalau kita mau menempuh perjalanan 1,5 jam-an by mobil and subway ke Kedutaan Indonesia. Bisa juga ke masjid terdekat, tapi tetap butuh 1 jam-an by mobil kalau kesana. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat di rumah saja dengan catatan kalau sedang tidak malas dan sibuk dengan sesuatu. *huffhhh…..*
Selain itu, lingkungan yang kurang mendukungpun, saya lihat juga sangat mempengaruhi pola ibadah disini. Mau Taraweh? Sholat sendirilah. Kalau malas? Ya sudah deeeh, tutup sajadah, lipat rukuh, tidur deeeh (grook^-grook^). Mau ngaji? Juga sama aja…
Bener banget sama yang dibilang orang-orang. Tinggal di Negara Lain lebih banyak godaan dan rintangannya. Kita harus selalu memotivasi diri kita untuk selalu melakukan hal- hal yang positif termasuk beribadah.
Semoga kita semua yang disini selalu diberi kekuatan iman ya…
“Bulan…coba pikir, setiap hari restoran ini kira-kira ada 30 customer. Kalau setiap customer memesan makanan sekitar $20an aja. Maka setiap hari, restoran ini dapat duit $600. Kalau sebulan bisa dapat $18.000. Itu baru dihitung sangat-sangat minimal. Belum lagi kalau ada tips, belum lagi kalau pas rame, belum lagi kalau……..bla…bla…bla…jadi restoran ini bisa dapat…bla…bla…bla..” (sambil pencet-pencet kalkulator).
Begitulah kira-kira gambaran apa yang dilakukan suami ketika masuk dalam sebuah restoran yang baru kami kunjungi.
Melihat sekeliling, melihat kasir, mengamati jumlah makanan yang dibeli customer saat kami ada disitu kemudian melihat menu dan mengeluarkan kalkulator.
1234567899101112…..
angka angka angka dan angka…
Saat ini, kami sedang bingung memilih apakah kami sebaiknya mengganti provider telp selular dengan plan (sistem kontrak/pasca bayar) ke provider dengan prepaid (seperti prabayar di Indonesia). Menimbang baik buruknya, rugi tidaknya dan bagaimana masalah fasilitas-fasilitas yang ditawarkan. Pada umumnya, kita hanya melihat sekilas dari bulan ke bulan gimana tagihan telp, apakah kita rugi karena membuang banyak jatah telp atau tidak. Tapi yang terjadi suami justru membuka lembaran-lembaran tagihan, mengamati angka-angka satu persatu dan meminta saya untuk menyalin dalam Microsoft Excel.
Angka- angka itu nantinya akan dihitung rata-ratanya dan dilihat selisihnya.
(huehuehue..b-u-s-y-e-t)
hm….
Saya pikir, bagaimana ya jadinya kalau suami kita lawyer?
(”Wah seharusnya restoran ini salah. Berdasarkan hukum, dia itu tidak boleh menjual makanan sembarangan. Dia tidak boleh mempekerjakan orang-orang ilegal”)
kalau suami kita desainer interior?
(”Restoran ini seharusnya penataannya bisa lebih rapi dengan kursi yang dihadapkan ke depan…bla..bla…”)
kalau suami orang kesehatan?
(”Jangan beli makanan disini mama, dsini makanannya tidak sehat. Tuh lihat, banyak MSG nya. Liat nih, makanannya ada pengawetnya atau tidak”)
kalau suami ahli gizi?
(”Yah..nasi segini sih kalorinya cuman 30. Kamu mesti makan daging yang lebih banyak lagi. Makan tougenya juga untuk kesuburan. Trus…dihitung dulu kalau touge segitu berarti kamu hanya dapat vitamin sebesar…”)
Hemmm,,,yang suka beraneka macam minuman, minuman kolaborasi ala suami saya ini sepertinya layak dicoba.
Rasanya manis, karena ada gulanya.
Rasanya “sedikit” pahit karena ada tehnya.
Rasanya asam karena ada Calpico Non-Carbonated Concentrate. (maaf nyebut merk ^-^)
Rasanya segar karena ada susu sapinya.
Lengkap kan?
Dan semua rasa tumplek blek ada disini. Ga heran, setiap pulang kerja, si emas minta dibuatin^-^ (saya aja doyan, hehe).
*Note: Calpico hanya sebuah merk. Kl ada merk lain, bisa dicoba kok. Kebetulan aja kemarin pas nyoba pakai Calpico dan sukses.
Telat ga ya kalau baru cerita tentang film ini? (maafkan saudara-saudara, film ini baru ada di You Tube. Maklummm, disini engga ada yang namanya Bioskop Film Indo, hwaaaaa)
Dari judulnya aja, udah ketahuan banget, Kun Fayakun adalah film yang bernafaskan Islam. Sebagian besar mungkin tidak tertarik karena dipikirnya film ini membosankan seperti ceramah. Terus terang, awalnya saya pun juga tidak terlalu tertarik (Mhh..mungkin, ini salah satu kesalahan tim creative yang tidak jeli memilih judul), tapi rasa penasaran saya terus memaksa dan akhirnya saya teruskan niat menonton film ini.
Ketika lihat judul dan ringkasan ceritanya, “Mhhh…kayanya film ini ceritanya sedih. Kemiskinan, tangisan, rintihan, kebodohan dan kekejian orang kaya kepada orang miskin”. Saya semakin ragu untuk menonton. Tapii…kok jadi penasaran banget ya?
Akhirnya…
Setiap kali adegan, seperti biasanya saya selalu menebak jalan cerita lanjutan film. Tebakan saya, pasti setelah adegan seharian berjualan frame kayu, si bapak tetap bersedih karena jualannya tidak laku sama sekali. Pasti bapak-bapak yang di mushola itu akan memberi duit banyak, sebanyak yang bapak penjual inginkan. Pasti setelah itu, mereka akan kaya karena menang undian atau mendapat harta warisan tak terduga. Pasti…
Halah…
Kebiasaan saya menebak setiap kali menonton film semakin hari semakin parah (keliatan banget ya kalau pengin jadi sutradara tapi belum kesampaian, hehe).
Dan ternyata, apa yang saya tebak sama sekali tak nyangkut di film itu. Dan tak ada satupun yang mirip dengan dugaan saya. Jalan ceritanya mengalir apa adanya. Dibuat-buat tapi tak terlalu terlihat seperti dibuat-buat. Banyak ceramah yang diselipkan di film namun tanpa kesan menggurui. Bahasanya simple, saya yakin, siapapun akan mengerti dengan jalan cerita film.Dan satu hal yang saya paling garis bawahi adalah nilai-nilai islamnya benar-benar masih terbawa dan terasa dalam film. Kalau teman-teman semua ingat, film Ayat-Ayat Cinta yang sempat membumbung di Perfilman Indonesia dan terlabel dengan film islami ternyata masih ada adegan gandeng tangan dan sejenisnya. Walaupun dalam film dikisahkan hal itu terjadi antara suami istri tapi tetap saja yang main bukan suami istri kan?Nah…dalam Kun Fayakun, tak satupun adegan seperti yang saya contohkan terjadi walaupun dalam film juga dikisahkan Desi Ratnasari adalah istri dari Agus Kuncoro. Memang sedikit terlihat kaku, tapi bisa dibungkus rapi dengan jalan cerita yang natural.
Selain, Kun Fayakun, saya sangat banget merekomendasikan juga film “Mereka Bilang Saya Monyet”. Walaupun itu film udah termasuk jadul (dikeluarkan sekitar tahun 2007), tapi saya yakin banyak dari temen-temen yang belum menonton karena film tersebut memang sedikit terlihat eksklusif. Jalan cerita film “Mereka Bilang Saya Monyet” ini juga tergolong susah ditebak (versi saya, hehe), tak heran bila film ini berkali-kali menjadi nominator dalam Ajang Perfilman.
Sebenarnya ini bukan cerita pengalaman hidup saya sih, bukan juga berdasarkan observasi lapangan, tapi cerita ini hanya berdasarkan pada asumsi beberapa orang wanita pada umumnya, yang kebetulan saya kenal.
“Jangan jadi housewife sejati cah ayu”, pesan seorang ibu pada saya.
Saya hanya mengangguk-angguk, mencoba mencermati apa yang dia katakan tadi.
Lalu saya bertanya, “Kenapa tante?”.
“Karena bila menjadi housewife sejati, itu adalah awal dari keretakan rumah tanggamu. Selain itu, kamu tidak punya tumpuan selain suamimu, kalau ada apa-apa kamu pasti menjadi takut bertindak”.
Kemudian orang yang saya panggil tante itu bercerita banyak hal tentang orang-orang di sekitarnya yang sebagian besar mengalami keretakan rumah tangga akibat adanya perselingkuhan dari pihak suami, beban rumah tangga yang berat hingga ada yang mau bunuh diri.
Sekali lagi, saya hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, walaupun dalam hati saya tidak percaya mutlak dengan apa yang ibu itu bilang.
“Lalu, kalau misalnya suami kita tidak mengijinkan kita bekerja karena kita harus mengurus anak itu bagaimana tante solusinya?”, pertanyaanku ini menandakan bahwa aku memang masih penasaran dengan apa yang dia ceritakan.
Dengan tegas ibu itu bilang, “Yaaa, paling tidak kamu bisa melakukan hal-hal keci yang menghasilkan jasa misalnya bisnis kecil-kecilan atau mungkin menjadi pekerja walaupun tak full time. Kalau anak-anak masih kecil, mungkin wajar saja kalau kita tidak bekerja, tapi kalau anak-anak sudah besar, sudah sepatutnya kita punya waktu untuk usaha”.
Yup, asumsi yang sangat tepat.
Dan lagi-lagi saya menggangguk, kali ini saya benar-benar mengerti apa yang dia ceritakan.
Berawal dari obrolan singkat, saya lalu berpikir sambil mengamati orang-orang yang setidaknya sudah berkeluarga.
Seseorang terutama wanita pasti juga mempunyai masalah dalam hidupnya tanpa terkecuali. Seorang wanita karir pasti pernah mempunyai masalah di kantor, wanita yang masih ambil sekolah, pasti juga mempunyai masalah dalam studinya bahkan wanita yang hanya di rumah (ada atau belum ada anak pasti juga mempunyai masalah).
Wanita yang sibuk dengan dunia luarnya pasti akan sangat senang ketika pintu rumahnya terbuka dan sang suami memeluk lembut serta berucap “Apa kabar sayang?”. Semua beban masalah terasa lenyap terbawa angin dan dalam sekejap wanita itu bisa berubah fungsi menjadi istri yang sempurna.
(Catatan: Mungkin, dalam kasus ini hanya dimaksutkan untuk wanita karir yang masih perhatian dengan keluarga bukan untuk wanita karir yang benar-benar karir (urusan karir adalah urusan pertama di atas urusan keluarga)).
Sedangkan wanita yang menjadi housewife sejati, sebagian besar masalah hanya ada pada dirinya sendiri. Masalah kebosanan itu pasti akan menduduki urutan pertama. Apalagi apabila wanita itu adalah wanita tipe pekerja keras dan suka tantangan. Selain itu bagi yang sudah punya anak, masalah yang mungkin adalah masalah anak-anak.
Dan, lucunya lagi, banyak kasus yang terjadi akhir-akhir ini adalah suami jaman sekarang yang “sedikit” pelit membagi harta kepada istri. Kalaupun tidak seperti itu, banyak juga istri yang merasa tidak enak hati meminta duit “lebih” kepada suami. Kalau hal itu benar-benar sudah banyak terjadi, dunia seakan menangis merintih. Kewajiban suami adalah memberikan nafkah seratus persen dan kewajiban istri adalah patuh pada suami dan dia berhak meminta haknya (semampu suami tentu saja).
Semakin banyak wanita karir maka semakin banyak suami yang berpikir bahwa dia tak perlu memberi nafkah 100% kepada istri dan mengakibatkan semakin banyak wanita yang dulunya hanya ingin mengabdi penuh di rumah berubah pikiran ingin menjadi wanita karir. Wanita-wanita itu takut apabila suaminya tidak mau memberi nafkah penuh karena pengaruh lingkungan dan takut bila suaminya melirik wanita karir di luar sana yang pasti tidak akan merepotkan dia karena dia tidak perlu memberikan nafkah penuh.
Beberapa waktu lalu saya merengek-rengek pada suami saya untuk nongkrong di suatu tempat di malam hari. Saat itu saya benar-benar rindu suasana Jogja yang asyikdi malam hari dengan banyak anak muda yang nongkrong sambil “leyeh-leyeh”. Suasana Jalan Malioboro dan Boulevard UGM benar-benar suasana yang tidak akan terlupakan dalam hidup saya. Sepertinya, refreshing tanpa duit sepersepun itu cukup membuat diri saya sangat terhibur.
Tapi alangkah sedih hati saya saat suami bilang, “Ga ada tempat yang seperti itu”.
“Masak ga ada sih?”.
“Iya, ga ada. Orang-orang disini jarang sekali yang tongkrongan di jalan kaya Jalan Malioboro gitu malam-malam”.
“Kalau di Park gimana?”.
“Yaa, kalau di park sih, biasanya orang-orang olahraga disitu. Ada satu dua orang yang duduk, tapi kalau malam ya pada pulang semua”.
“Di pertokoan gitu kek, yang orang-orang pada duduk di luar sambil ngobrol-ngorol. Aku benar-benar lagi kangen sama suasana Jogja”.
Rasa kangen saya benar-benar tidak dapat terbendungkan hingga tak sadar saya meneteskan air mata.
“Kalau di pertokoan gitu memang ada orang yang duduk-duduk disitu tapi mereka biasanya tidak nongkrong, hanya nunggu orang yang sedang belanja. Kalau di depan restoran, ada juga yang duduk-duduk disitu tapi mereka harus membeli makan dulu baru bisa tongkrongan, itupun kalau ada tempat kosong”.
“Aku hanya ingin nongkrong, tidak ingin makan”. Tak sadar, air mata ini tambah besar volumenya:(.
” Sayang, Maryland adalah bagian Amerika yang dapat julukan state keluarga karena disini sebagian besar adalah orang-orang berkeluarga dan jarang anak muda. Kalaupun mereka butuh refreshing, mereka cenderung mencari tempat-tempat yang pasti akan memberikan hiburan seperti club, restoran, game station atau bilyard centre. Beda dengan orang Indonesia yang lebih suka ngobrol ngalur-ngidul atau nongkrong tanpa tahu tujuannya apa dan dengan siapa. Orang-orang sini tidak suka ngobrol ngalur ngidul dan melakukan kegiatan yang tidak ada tujuan tertentu ”.
Penjelasan suami saya sudah tidak nyangkut di telinga. Saya benar-benar tak mau tahu bagaimana orang sini, bagaimana orang Indonesia. Yang pasti saya hanya ingin pergi ke suatu tempat nongkrong yang asik. Benar-benar kangen Jogja….
Cerita ini berawal di Hari Jumat, saat saya dan suami pergi ke Islamic Centre Maryland untuk Sholat Jumat.
Sudah mulai Summer, udara mulai panas dengan matahari yang bersinar terik. Hawa yang panas bikin kita lebih labil untuk emosi. Di badan rasanya lengket karena panas yang saya rasa sangat berbeda dengan panasnya di Indonesia. Di Indonesia udara terasa panas karena matahari plus polusi, disini panas murni hanya karena matahari yang terasa lebih sangat dekat bumi.
Sesampai di masjid, saya menuju ke tempat sholat wanita sekalian mencari tempat wudhlu khusus wanita. Saya pikir, mukena yang saya bawa saya letakkan dulu di masjid daripada saya nanti kerepotan membawanya saat wudhlu.
Masuk ruangan salat for ladies,
“ups, ada meja tuh, mukenanya taruh disana saja”, pikirku. Lalu saya jalan ke arah meja itu.
(Bentuk meja kecil, kira-kira berukuran 1×0,5m, di meja tidak terlihat barang apapun selain 1 buah pisang dan 1 apel yang tergeletak).
Dengan langkah jinjit (biar tidak menganggu orang berdoa) saya mendekati meja itu. Saat saya jinjit kira-kira setengah senti dari meja tiba-tiba terdengar suara bentakan keras mengejutkan (hingga semua wanita yang akan sholat disitu melihat saya),
” Hei, that’s mine! You know, that’s mine, don’t touch it, dont take it!”
Ups, What the hack? …..
Astagfirullah!!
hasna hasna sabar sabar, sabar ya nduk, ini masjid, tahan nafas, tersenyum, jangan marah, biarkan dia mengumpat sesukanya, yang penting kamu tidak berniat mengambilnya.
Dan yang ada, “ups, im sorry mom, im just going to put my hijab” dengan senyum berlagak pilon.
Ya Allah, serendah apa saya ini sampai mau-maunya mencuri apel dan pisang? Di rumah saja, apel sama pisang sampai kebuang-buang karena tidak ada yang makan (sombong dikitlah dalam hati).
Ampun deh ibu-ibu ini…(semoga diampuni dosanya olehNya).
Setelah sholat, saya dan suami meluncur ke suatu tempat. Sepanjang jalan, saya bercerita panjang lebar dengan kejadian barusan. Kupikir, dia akan berkomentar “marah-marah” ke ibu tersebut. Tapi ternyata dia justru berkomentar kalau orang Amerika mempunyai batasan yang jelas terhadap barang-barang miliknya. Mungkin, ibu itu marah-marah karena dipikirnya aku akan mengambil buah-buah yang dibagikan gratis oleh pihak masjid setiap hari Jumat, dia mengklaim bahwa buah di meja itu milik dia sepenuhnya karena dia yang ambil dari pihak masjid. Ada satu hal lagi, orang sini akan sangat berhati-hati dengan makanan. Mereka jijik jika ada orang lain yang mengutak atik atau bahkan hanya menyentuh makanan mereka. Mereka juga berani “to the point” bila ada yang mengancam makanan atau barang mereka. Tidak seperti di Indonesia yang kemungkinan akan melihat dulu gerak-gerik orang sebelum dia bertindak menuduh. Oleh karena itulah, ibu itu mungkin sangat takut waktu saya mendekat karena dia pikir saya akan mengambil buah itu atau saya akan menyentuh buah itu.
Suami saya bahkan menjelaskan, ada kemungkinan kalau barang itu HP atau tas, orang tidak akan berteriak ketakutan seperti itu karena dia percaya orang lain akan tahu bahwa itu pasti barang pribadi milik orang dan orang tersebut pasti tidak berani menyentuhnya.
2. Tak pernah bertamu satu kalipun ke masyarakat sekitar
3. Tak ada Pak Lurah, Bu Lurah, apalagi Pak and Bu RT
4. Butuh apapun, call 911 adalah pilihan terbaik daripada minta tolong tetangga
5. Tak ada satupun acara rame-rame se-perumahan atau se-wilayah kampung
6. Tentu saja tak ada ronda dan pos ronda, kalau ada maling urusan masing-masing rumah
7. Pakai baju model apapun, terserah, tak ada yang peduli
8. Ada kelainan fisik bentuk apapun, tak ada satupun yang melihat dengan sorotan mata aneh/ kasihan (seperti di Indo)
9. Mobil mogok? call 911 atau panggil mobil derek adalah pilihan lebih bijak daripada meminta tolong orang buat mendorong mobil. cttn: Mobil Derek bisa dibayar pakai Credit Card (kalau ga bawa cash), jadi ga perlu khawatir.
10. Tak kenal temen satu kelas atau satu ruang sekolah adalah hal biasa
11. Tak peduli orang itu muslim, kristen, katolik, atheis
hmm….
apalagi ya?
banyak bgt deh hawa-hawa individualism disini. Dijamin privacy anda bakal terjaga total:).
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa berbicara sebaiknya yang seperlunya saja karena beberapa kali aku kena komentar ‘blak-blakan’ ala Amerika yang membuatku selalu instropeksi diri. Di Indonesia dulu, orang-orang sekitarku mungkin akan lebih diam saat aku ngomong hal yang tidak sesuai dengan mereka, walaupun hati mereka sebenarnya geregetan dengan kata-kataku. Prinsip tidak ingin diperlakukan seenaknya sangat aku rasakan di Amerika meskipun baru beberapa bulan aku disini.
Akibatnya, aku jadi malas ngomong karena harus hati-hati banget. Kalau ngobrol sama orang bule, aku akan lebih banyak tersenyum, , dengan alasan: 1. terkadang masih susah mengerti bahasa mereka “nih bule ngomong apa sih?”, udah pake Bhs Inggris, pake logat pula, logat Indialah, logat Eropalah, logat Chinalah, logat Jepanglah, logat Vietnamlah plus logat Black People, semuanya beda-beda cara ngomong dan spell englishnya. Kedua, ya..karena memang agak malas ngobrol panjang lebar, tar jangan-jangan si bule ini ga ngerti apa yang aku omongin? . Ketiga, terkadang si bule tanpa diduga akan berkomentar yang di luar dugaan kita, waktu kita nganggap ini candaan, ternyata mereka mikir kita serius, saat kita serius, tanpa diduga mereka tertawa terbahak-bahak, yaah…mesti pintar lihat suasana. Kalau wajah mereka berubah “aneh”, buruan bilang, “im sorry, im just kidding” lalu tersenyum:). Memang, hidup di luar, bukan hanya bahasa saja yang harus kita pelajari tapi karakteristik masyarakat juga.
Nah, beda kalau ngobrol sama orang indonesia yang ada disini. Mungkin, aku justru bersikap biasa saja, yah tersenyum itu pasti tapi ala kadarnya, khawatir dipikirnya kita terlalu “berlebihan”. Bedanya bila kita ngomong sama orang indo yang disini dibandingkan orang indo yang di Indonesia , kita harus lebih terbuka sama kritik dan saran orang lain yang terkadang kita rasakan bukan hanya pada waktu dan tempat yang tepat. Sebenarnya orang indo yang di Indonesia pun ada juga yang mempunyai kebiasaan seperti itu tapi mungkin hanya sebagian kecil. Sedangkan hampir semua orang indo yang disini (berdasarkan survey kecil-kecilan) lebih bersikap apa adanya, ngomong apa adanya, saat dan waktu kapanpun. Secara geografis, aku yang termasuk Orang Jawa agak kaget dengan sikap seperti itu. Mungkin, hal itu karena mereka sudah terbiasa dengan kehidupan Amerika yang bebas dan berani.
Sikap apa adanya seperti itu sebenarnya lebih banyak sisi positifnya. Seseorang lebih bisa menghargai orang lain dengan berbicara yang baik-baik saja kepada orang lain, selain itu seseorang akan merasa mempunyai kebebasan untuk jujur kepada orang lain dan dia juga bisa membela diri sendiri bila ada orang lain yang menyinggung perasaannya. Kapanpun, kita tetap harus selalu siap dengan reaksi apapun orang lain saat kita ngomong dengan mereka meskipun kita selalu menjaga ucapan kita.
Kecanduan terhadap sesuatu pasti mengkonotasikan keburukan. Kecanduan dapat berarti kesukaan yang terlalu berlebih, tidak sesuai kadarnya dan terkadang tidak sesuai tempat dan waktu yang bijak.
Apa jadinya bila orang terdekat kita sedang kecanduan sesuatu? Bisa saja kecanduan makanan tertentu, minuman tertentu, musik tertentu, group music tertentu sampai obat-obatan tertentu (astagfirullah…). Mending, kalau kita atau orang terdekat kita itu kecanduan baca buku-buku keilmuan atau menonton acara Discovery Channel. Tapi, lagi-lagi kecanduan apapun tetap saja itu tidak positif.
Beberapa bulan terakhir ini, orang terdekat saya (baca: suami), kecanduan group musik tertentu. Dia sedang senang-senangnya all about Korea. Dari makanan, bahasa, musik sampai group musiknya, terfavorit berasal dari negara kecil itu. Kalau saya bilang itu sudah termasuk kecanduan.
Yang paling terasa adalah kecanduan salah satu group musik bernama Wonder Girls yang semua personelnya adalah perempuan. Menurut saya, menyukai sesuatu adalah wajar. Bahkan saya pun sebenarnya juga suka dengan group musik tersebut tapi mungkin sedikit lebih terkontrol.
Setiap hari selalu menyempatkan membuka blog full about Wonder Girls walaupun hanya semenit. Pernah suatu hari, ketika beliau akan berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa tiba-tiba mampir ke laptop dan membuka wondergirls.wordpress.com, ampyuuunnnn….walaupun tidak dalam hitungan menit, saya pikir ini sangatlah tak wajar.
Kecanduan merupakan luapan dari kebiasaan kita melakukan (atau merasakan) sesuatu. Semakin sering kita melakukannya maka kita akan terbiasa dengan hal itu dan apabila suatu saat kita tidak melakukannya, hidup kita serasa tidak lengkap bahkan kita bisa merasa tidak bahagia.
Beberapa menit yang lalu saya menonton acara TV America’s Top Model edisi final. Saya sempat ‘heran’ dengan pilihan ‘panitia acara yang menentukan bahwa Thailand adalah negara pilihan untuk show off model edisi final. Kenapa Thailand? Mungkin tidak hanya acara tersebut yang menggunakan negara-negara Asia khususnya Asean selain Indonesia sebagai tempat pilihan. Negara-negara yang dituju biasanya seputar Thailand, Vietnam dan Singapore.
Pertama; Dari segi keindahan alam. Saya sangat yakin Indonesia memiliki lebih dari seribu keindahan daripada ketiga noegara tersebut.
Kedua; Dari segi budaya. Indonesia sangat jauh lebih banyak mempunyai kebudayaan-kebudayaan daerah yang mempunyai karakteristik yang sangat memukau.
Ketiga; Dari segi fasilitas. Walaupun mungkin masih kalah bila dibandingkan Singapore, paling tidak dengan Thailand kita tidak terlalu jauh tertinggal.
Keempat; Dari segi promosi/ pengenalan negara. Mungkin dari satu segi ini, kita sangat jauh tertinggal dengan ketiga negara Asean tersebut. Walaupun Indonesia tahun ini mulai mencanangkan Visit Indonesia Year 2008, tapi sepertinya hal itu belum terlalu efektif.
Mengenai Visit Indonesia Year 2008, saya cukup tertawa dalam hati bila mengetahui ada seseorang yang mengaku berwarga negara Indonesia tetapi dia tidak mengenal bahkan belum pernah mendengar motto tersebut. Apakah ini kesalahan WNI tersebut yang tidak pernah update informasi tentang Indonesia? ataukah Pemerintah Indonesia sendiri yang belum optimal mempromosikan hal tersebut? Bayangkan saja, WNI yang ada dalam negeri tidak tahu tentang hal ini apalagi WNI yang sedang ada di luar negeri atau WNI baikyang di luar atau di dalam negeri aja tidak tahu apalagi orang asing. Bila di logika secara mentah, hal itu sangat mungkin terjadi dan satu-satunya cara adalah menggencarkan ajang promosi pariwisata kita.
Dana yang harusnya untuk promosi Bidang Parawisata mungkin lebih banyak disektorkan untuk pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Tetapi nyatanya, masyarakat juga tak kunjung sejahtera dan uang pendidikan justru semakin mahal. Yang ada justru Pejabat Dewan meminta segudang fasilitas dengan dana yang entah diambil darimana.
Saya pribadi sangat penasaran dengan masa depan Pariwisata Indonesia. Promosi negara yang tersendat-sendat ditambah masih banyaknya image buruk tentang Indonesia yang beredar di kalangan mancanegara. Sektor Parawisata yang harusnya menjadi nilai lebih Indonesia dan sumber devisa negara yang tak ternilai mungkin akan menjadi satu hal yang tak terlalu dipikirkan oleh pemerintah dan akibatnya Indonesia semakin terpuruk dengan dirinya sendiri.